Tour D’Lebaran 2010


Oleh : Dwi Purnawan*

Pacitan, Kamis 9 September 2010, langit nampak terlihat cerah dengan awan memutih, serta kadang disertai dengan desiran lembut angin pegunungan di kampung klitik menambah semarak suasana hari itu yang beranjak senja. Warna khas sang mentari yang jingga menandakan akan segera kembali ke peraduannya, begitu juga ayam – ayam yang bersiap segera masuk ke kandangnya, serta suara jangkrik yang mulai menyanyikan musik alamnya yang indah. Belum lagi gema takbir dan alunan bedug yang bertalu – talu semakin membuat suasana sore itu semakin hidup. Ya, hari itu adalah hari terakhir Ramadhan yang sengaja saya nikmati perjalanan terakhir Ramadhan tahun ini berbuka bersama di kampung halaman tercinta. Sebenarnya, rasa rindu yang teramat sangat mengingat sudah berbulan lamanya tak bersua dengan udara khas didesa sudah terasa ketika sejak pagi, begitu  kegiatan I’tikaf selesai di Jogja. Bergegas setelah mengantar akh Luqman ke Terminal Jombor, saya percepat langkah motor matic saya untuk segera sampai di rumah. Walaupun sempat di cegat oleh pak polisi, namun akhirnya bisa juga berkelit sehingga uang pun tak melayang, segera saya melaju kencang diatas ringroad utara, melewati Kaliurang, menuju ringroad barat, dan akhirnya sampai pula di daerah Wonosari, Gunungkidul. Dan ternyata masih tetap seperti tahun – tahun dahulu, daerah ini nampak selalu sepi dengan pemandangan bukit- bukit yang mengeliligi jalanan, sehingga dengan bebas bisa melaju kencang, melewati bebarapa kendaraan yang juga tengah mudik melaju pelan. Disepanjang perjalanan di daerah tandus Pracimantoro, walaupun sepi kendaraan, jalanan didaerah itu justru ramai dengan atribut kampanye Pilkada Wonogiri, hampir disetiap pinggir jalanan selalu dijumpai atribut kampanye yang janji – janjinya begitu menggiurkan banyak orang. Namun sungguh miris ketika melihat keadaan warga setempat, hampir semua rumah didaerah itu Nampak sederhana, bahkan ada juga yang keadaannya hamper roboh, pertanda mereka dari kalangan ekonomi bawah, dan saya pun hanya bergumam dalam hati, semoga pemimpin yang jadi nanti mampu benar – benar mengubah nasib rakyat kecil didaerah tersebut, agar ketika masuk media, daerah itu tidak lagi identik dengan kemiskinannya saja.

Setelah sampai di pintu masuk Kota Pacitan, ada penyambutan yang sangat hangat pula dari spanduk – spanduk dipinggir jalan yang mengucapkan Selamat Idul Fitri  dari para birokrasi yang kayaknya sedang melakukan politik pencitraan pencalonan menjadi bupati Pacitan yang akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. Spanduk – spanduk dengan berbagai ukuran bertebaran disepanjang jalan menuju Kota pacitan, yang pada intinya memang untuk melakukan pencitraan diri demi menjadi AE 1. Akhirnya sangat besar harapan dari saya, dan seluruh rakyat Pacitan melihat pemimpinnya kedepan benar – benar mengabdi untuk rakyat, mengangkat ekonomi rakyat kecil, dan kesejahteraan masyarakat Pacitan. Dan akhirnya, setelah melewati perbukitan disepanjang kecamatan Pacitan, dan menyusuri sepanjang sungai Grindulu dan perjalanan mudik ke kampung halaman pun sampai pula, sehingga petualangan mudik pun segera dimulai.  Ya, mulai dengan kesemangatan yang luar biasa karena menyaksikan masjid kampung kini telah direhabilitasi total, yang dulunya kecil, hanya sanggup menanmpung kurang dari 100 jamaah, kini sudah mampu untuk menmpung lebih dari itu, dan berharap dengan masjid yang baru ini masyaraakat bisa lebih intens untuk sering datang kemasjid. Semoga. Malam Lebaran, banjir sms ucapan selamat Idul Fitri mengalir deras bak cendawan di musim hujan, sampai – sampai kewalahan membalasnya satu persatu, dan akhirnya bagi yang belum sempat terbalas smsnya, saya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, selamat idul Fitri 1431 H. Petualangan Liburan Lebaran dirumah pada hari pertama Lebaran, agendanya setelah sholat Ied di masjid adalah sungkem dengan orang tua, simbah, saudara dekat, tetangga sekitar, para guru yang dulu pernah menjadi bagian dari hidup saya. Dan memang berkah dari silaturahmi di hari raya itu sangat banyak, mulai dari doa yang diucapkan sampai dengan nasihat – nasihat yang cukup membangkitkan spirit. Dan pada hari pertama itu, Lebaran memang cukup meriah dikampung saya, terutama dirumah saya. Karena kebetulan Ayah dan ibu saya kepala sekolah dan menjadi sesepuh dikampung, sehingga banyak juga yang bersilaturahmi dirumah. Yang menarik adalah ketika anak – anak kecil yang polos itu dikasih uang atau sejenis angpau oleh ayah saya, nampak terlihat sumringah, pertanda bahwa salah satu berkah silaturahmi adalah banyak rezeki yang didapat, atau bahasa yang lebih sederhana adalah dengan silaturahmi, kita bisa menjemput rezeki, setidaknya barangkali itu rumus yang berlaku bagi anak – anak tersebut. Menginjak hari kedua Lebaran, agenda yang cukup menyita banyak waktu adalah bersilaturahmi ke Magetan, ditempat budhe. Sekitar 3 jam lamanya kami sekeluarga melakukan perjalanan dari pacitan ke Magetan, cukup melelahkan, namun menyenangkan juga, karena kami dapat bertemu dengan budhe. Yang terkaget – kaget dari silaturahmi kerumah budhe ini adalah saya ketika mendengar suara adzan di surau ditempat tinggal budhe. Saya lihat jam baru menunjukkan pukul 03.30 WIB pagi, tapi kok sudah adzan subuh. Akhirnya baru faham ketika dijelaskan kalau itu adalah adzan pertama untuk membangunkan qiyamullail dan nanti ada adzan kedua untuk shalat shubuhnya. Yang lebih terkaget – kaget lagi adalah ketika melihat jamaah shubuh di surau itu penuh, aneh pikir saya. Namun akhirnya saya faham juga mengapa demikian. Ya, ternyata budhe saya ini adalah seorang salafi, dan juga keluarganya, sehingga budaya disalafi adalah memenuhi surau milik salafi dulu, sehingga wajar kalau suraunya selalu penuh ketika Shalat Shubuh.  Saya pun jadi berfikir, coba surau – surau milik umum kalau shalat shubuh dipenuhi seperti ini, pasti Islam di Indonesia akan jaya, hmm, tapi sepertinya membutuhkan waktu lama untuk bisa seperti ini.

Petualangan mudik dikampung halaman masih terus berlanjut hingga hari keempat Lebaran, yaitu reuni keluarga besar Muniran yang ke II. Sudah menjadi tradisi bagi keluarga kami, keluarga keturunan Mbah Muniran untuk mengadakan reuni dan arisan keluarga. Kali ini tuan rumahnya adalah budhe Yati, dari Nusa Jati, Sampang, Cilacap Jawa Tengah. Sedikit menjelaskan, Muniran adalah Mbah saya keturunan dari Ayah saya, beliau adalah seorang mandor pertanian di zaman Belanda, dan turut menjadi pejuang kala kemerdekaan. Reuni keluarga yang kedua ini diisi dengan nasihat – nasihat dari anak – anak mendiang Mbah Muniran, dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan – makan. Kemudian dilanjutkan esok paginya adalah olahraga dan piknik. Kali ini olahraganya adalah sepakbola cucu Muniran Ndeso Vs Kutho. Hasilnya Kutho menang dengan skor 15-14. Hari kelima Lebaran saya melanjutkan dengan agenda halal bihalal IKMAL. IKMAL atau Ikatan Alumni Keluarga Muslim Mushola Al-Kautasar, alias alumninya rohis SMA1 Ponorogo adalah sebuah ikatan wadah para alumninya para aktivis Rohis SMA yang berdomisili atau kuliah di berbagai Kota di Indonesia dari ujung barat sampai ujung timur, dan kebetulan saya adalah koordinator kota Semarang. Untuk tahun ini agendanya adalah suksesi kepengurusan IKMAL, termasuk pergantian Ketua IKMAL dan LPJ IKMAL periode 2008-2010. Sempat deg-degan karena menjadi kandidat Ketua IKMAL, namun dengan berbagai pembelaan dan penjelasan, akhirnya tidak jadi ketua IKMAL, bukan karena tidak mau, tetapi karena amanah dikampus dan Kota Semarang masih butuh fokus dan pikiran yang lebih,  dan akhirnya barakallah untuk Akh Alfi Zahrial Firdaus(UGM’07) yang telah terpilih menjadi Ketua IKMAL periode 20010-2012. dan besar harapan saya, agar IKMAL kedepan menjadi lebih baik lagi, terutama kedekatannnya dengan pengurus Rohis Al-Kautsar. Dan untuk adik –adik Rohis SMA 1 Ponorogo, tetap semangat berdakwah di sekolah, maksimalkan media yang ada, dan majalahnya tetap harus dijalankan secara rutin, karena media adalah alat pencitraan yang paling massif saat ini untuk mencitrakan agenda dakwah kita.

Yups, hari keenam Liburan Lebaran masih padat dengan agenda silaturahmi, dan kali ini agendanya adalah silaturahmi ke Ustadz – ustadz pacitan. Akhirnya yang saya kunjungi pada hari selasa itu adalah ustadz Nurrahman, Ketua DPD Pacitan. Dari beliau kami, saya dan pak Saras mendapatkan banyak taujih dan wejangan. Dan ini adalah salah satu berkah silaturahmi. Semakin banyak bertemu dengan ikhwah, peluang untuk menjadi futur dikampung halaman yang biasanya melanda kader yang pulang kekampung, menjadi kecil dan bahkan hilang samasekali. Selain itu kami juga mendapatkan informasi berita politik yang menghangat di Kabupaten Pacitan, yaitu seputar kriminalisasi Wakil Ketua DPRD, Handaya Aji. Ceritanya pak Handaya Aji ini hendak melaporkan pelanggaran AMDAL Proyek pembangunan Pabrik di Arjosari yang dilakukan oleh Bupati Pacitan, tetapi buntutnya Handaya AJi malah dikriminalisasi dengan tuduhan suap pada waktu beliau jadi Kepala Desa beberapa tahun yang lalu. Setidaknya inilah informasi yang diberikan dan juga dimuat di harian Kompas edisi 3 September lalu. Saya pun jadi berfikir, kalau ada wakil rakyat yang agak vokal didepan birokrasi, pasti ujung – ujungnya dijegal dengan cara apapun juga, maka Indonesia tidak akan pernah Berjaya, karena dalam konteks ini kita mematikan demokrasi di Indonesia. Yap, kita kembali ke agenda silaturahmi tadi, setelah ke Ustadz Inu (panggilan akrab Ustadz Nurrahman), lanjut pada hari delapan Liburan Lebaran, tepatnya hari Kamis, agenda silaturahmi dengan IMPP pun dilaksanakan di Gazebo SMA 1 Pacitan. IMMP adalah ikatan mahasiswa Muslim yang berasal dari Pacitan yang sedang kuliah di luar kota pacitan. Akhirnya dari hasil pertemuan IMMP itu, dirumuskan sebuah fokus kerja IMMP tahun ini , yaitu memaksimalkan media yang ada untuk pencitraan IMMP. Dan akhirnya agenda Liburan Lebaran tahun ini berakhir ketika menghadiri munakahat (pernikahan) salah satu akhwat di Boyolali pada H +8, tepatnya hari Jum’at Sore. Dan akhirnya berakhir pula agenda mudik Lebaran tahun ini dengan segala kenangan indahnya disela – sela  macetnya jalanan arus balik di daerah Tengaran sampai Salatiga. Pada akhir tulisan saya ini, sebuah kesimpulan akhir yang bias didapat dari agenda mudik yang selanjutnya saya beri nama Tour D’lebaran 2010 ini adalah terkait berkah silaturahmi. Ya, dimanapun tempatnya, jangan pernah putuskan hubungan silaturahmi dengan ikhwah, karena ketika kita bertemu dan menyapa saudara kita tersebut, maka aura keimanan, doa – doa dari orang – orang sholeh tersebut akan slealu mengiringi keseharian kita, sehingga peluang untuk menjadi futur dikampung halaman akan dapat diminimalisir. Akhirnya selamat beraktivitas kembali dimanapun anda berada. Dan pesannya, tetap membawa spirit keimanan kita di bulan Ramadhan yang baru usai kemarin. Dan semoga kita dapat bertemu kembali di Ramadhan mendatang, tentunya dengan kisah yang berbeda pula. Selamat berkarya, selamat menjadi inspirasi untuk Indonesia.

* Mahasiswa Penjaskes dan Rekreasi FIK  Unnes

Penulis lepas dan pegiat Humas KAMMI Unnes

Tulisannya bisa dilihat di http://thedwy.com dan

https://terpaksabikinwebsite.wordpress.com

Iklan

One thought on “Tour D’Lebaran 2010

  1. Ping-balik: Ikan Mahal, Warga Cegat Nelayan ke Laut | Indonesia Search Engine

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s