Oleh – Oleh I’tikaf : Mari Berbicara Solusi


Hujan deras mengguyur  Kota Yogyakarta petang itu, ketika motor matic saya terpaksa harus berhenti di perempatan ringroad utara kota tua itu untuk menuruti kemauan si Abang Jo (Lampu merah) yang rupaya sangat tidak toleran kepada para pengguna kendaraan. Ya, bayangkan, kami disuruh berhenti ditengah hujan lebat dan harus menunggui selama 1, 5 menit, atau 90 detik, atau kalau dianalogikan setiap detiknya kami tertimpa air hujan sebanyak 10 kali, maka dalam waktu 90 detik, kami harus menerima tumpahan air dari langit sebanyak 900 kali. Setelah basah kuyup oleh hujan, dan dizalimi oleh Lampu merah, yang merupakan salah satu produk UU tersebut, akhirnya kami terpaksa harus berteduh agar tidak semakin basah kuyup, dan pada akhirnya kami pun menghentikan motor sejenak untuk berteduh dan menunggu hujan agak reda kembali. Kebetulan kami berhenti tepat didepan Indomaret, sebuah toko yang akhirnya menjadi kesimpulan bagi saya (setelah mengikuti kajian MSQ Ustadz Anif, dan kajian bedah buku Dr. Revrisond Baswir) adalah salah satu penyebab semakin terpuruknya rakyat kecil di Indonesia. Setelah memarkir motor saya pun segera mencari tempat berteduh diberanda indomaret, sementara akh (panggilan untuk saudara muslim laki – laki) Luqman masuk untuk berbelanja di toko ini. Memang sore itu, hujan sangat deras mengguyur hampir seluruh kota Yogyakarta, sejak sore, langit diatas kampus UGM dan UNY serta hampir keseluruhan kota Yogya nampak pekat, tepat sesuai prediksi BMKG bahwa beberapa hari di sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai setelah Lebaran di seluruh Indonesia akan terjadi hujan yang terus menerus. Dan saya mulai berfikir, ada apa gerangan Indonesia, adakah hubungannya antara kondisi cuaca Indonesia yang tidak stabil beberapa bulan ini dengan konstelasi politik, ekonomi, sosial dan budaya di Indonesia yang juga sedang tidak stabil?

Setelah menyandarkan bahu dan duduk di beranda Indomaret, sambil menunggui akh Luqman berbelanja ‘sesuatu yang penting’, saya merenungi hal ikhwal kedatangan di kota Jogja ini. Pada mulanya memang saya tidak berniat untuk i’tikaf di luar kota, namun setelah melihat ada potensi besar untuk menambah ilmu baru i’tikaf diluar kota, akhirnya saya mengiyakan ajakan akh Luqman untuk ikut i’tikaf di Jogja, di pesantren Budi Mulia, dan akhirnya malam Ahad (04/09) kami berdua pun berangkat dari Semarang ke Jogja. Tidak banyak menemui kesulitan, akhirnya kami menemukan lokasi I’tikaf, yakni di masjid Shalahuddin, Yayasan Shalahudin, di daerah Kaliurang, Jogja. Tujuan awal i’tikaf di Jogja memang selain untuk mencari ilmu baru, juga mencoba melepaskan sejenak dari rutinitas dikampus, untuk menyegarkan kembali ruhiyah dan mencapai, atau lebih tepatnya mengejar ketertinggalan targetan – targetan di bulan Ramadhan tahun ini. Segera energi positif saya alirkan keseluruh tubuh, dan akhirnya i’tikaf baru, ditempat baru, dengan semangat barupun segera dimulai, terutama ketika melihat bahwa pembicara di i’tikaf ini berkompeten semua, dan temanya pun cukup menarik untuk dikaji, atau bahkan kalau perlu dijadikan bahan materi ICA ataupun DM2.

Hari ahad pagi, tepatnya sekitar pukul 09.30, mulailah petualangan baru ditempat i’tikaf itu menjadi kesan tersendiri bagi saya. Pemateri yang bernama Dr. Revrisond Baswir (yang pada akhirnya diketahui sebagai penulis buku ekonomi kerakyatan, pakar dibidang ekonomi, dan juga dosen UGM) benar – benar telah berhasil mengacaukan hampir semua peserta i’tikaf di pagi itu. Bahasan tema yang cukup tinggi, yaitu “Umat islam ditengah masalah kemiskinan dan Ancaman Neoliberalisme” pada kesempatan itu memang telah membuat ketakutan – ketakutan baru bagi sebagian besar peserta i’tikaf. Pemikiran radikal Pak Baswir, seperti segala sistem di Indonesia telah dikuasai oleh neo liberalisme, Indonesia sesat dalam segala aspek kehidupan. Sistem ekonomi misalnya, Indonesia yang sangat berpihak kepada kaum – kaum elit dan tidak berpihak kepada rakyat kecil, contoh kecil adalah pengelolaan pasar yang masih semrawut alias kacau, berdirinya mall – mall megah dipusat – pusat kota yang semakin melemahkan ekonomi rakyat, menjamurnya pasar – pasar modern (termasuk contohnya Alfamart dan Indomaret) yang akan membuat pasar – pasar dengan modal kecil milik rakyat menjadi semakin terpuruk. Dari sistem politik, Indonesia bisa dikatakan sangat sesat dan kotor, setidaknya itu yang diungkapkan Dr. Baswir, seperti misalnya di wilayah legislatif, adalah praktik jaul beli UU, artinya undang – undang bukan lagi sebagai patokan untuk bertindak dan aturan, tetapi malah menjadi proyek jual beli UU, dimana satu kata dalam undang – undang bisa mencapai 1 M. Pun demikian dari wilayah eksekutif, ada sebuah pertanyaan besar mengganjal ketika kita kembali kebelakang saat pengangkatan Budiono menjadi Wakil Presiden tahun lalu, pertanyaannya, mengapa tidak Hatta Rajasa yang merupakan cendekiawan muslim yang jadi pendamping SBY, atau mengapa tidak Hidayat Nur Wahid yang jelas – jelas adalah seorang ulama untuk mendampingi SBY, mengapa juga pengangkatan Budiono dilakukan pada detik – detik terakhir sebelum masa kampanye? Salah satu jawabannya menurut pak Baswir adalah karena ada sosok – sosok yang mengendalikan itu semua, SBY, Budiono, dan para anggota dewan itu. Ya, korporasi – korporasi raksasa ada dibalik semua itu. Sebenarnya itulah para neolib yang dibalik layar mengendalikan sistem di Indonesia di segala wilayah, baik politik, ekonomi, sosial, dan SDA di Indonesia. Maka tak heran kalau PT. Freeport, tambang emas terbesar didunia, hasilnya tak pernah dinikmati oleh kaum pribumi Papua, karena seluruh hasilnya diambil oleh dunia barat yang dalam hal ini adalah para kapitalis. Lalu perhatikan juga mengapa ketika ada kebun sawit terbesar  Sumatera tidak pernah dinikmati hasilnya secara menyeluruh oleh masyarakat setempat, lagi – lagi para investor dengan korporasi raksasa yang mengeruk keuntungan dari hasil kebun itu. Kekejaman atau malah ketidakberdayaan Indonesia melawan arus gelombang neolib yang menjajah Indonesia juga terlihat ketika beberapa waktu lalu Indonesia hendak mengimpor batu bara untuk keperluan listrik ke Australia. Aneh kan. Indonesia kita ketahui adalah negara penghasil tambang batu bara terbesar didunia, tetapi mengapa harus mengimpor batubara dari Australia. Hal seperti ini juga pernah terjadi beberapa waktu yang lalu ketika Indonesia yanng mendapat julukan negara agraris tetapi malah mengimpor beras dari Vietnam. Pun demikian dengan kondisi di wilayah Public Policy. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia adalah juara korupsi dunia. Disetiap sektor di negeri ini selalu tak luput dari kasus korupsi. Kejaksaan, Parlemen, eksutif, yudikatif, hampir semuaya telah menjadi lahan yang empuk bagi para tikus – tikus kantor untuk menggerogoti kekayaan negara. Kasus – kasus korupsi selalu menghiasi perjalanan negeri ini dalam perjalanannya, bahkan dibeberapa wilayah yang seharusnya memliki peluang kecil untuk melakukan korupsi, justru banyak terjadi diwilyah tersebut, seperti Departemen Agama, Departemen Kehutanan, dan sebagainya. Lalu yang menjadi pertanyaan pentingnya, bagaimana seharusnya umat bersikap ditengah penindasan sistemik neoliberalisme di Indonesia? Menurut Dr. Baswir, beberapa hal diawal harus kita ketahui bahwa keberadaan Indonesia dalam sejarah adalah tidak lepas dari kolonialisme. 350 tahun Indonesia berada dalam kungkungan penjajah, baik belanda, Portugal, inggrs, maupun jepang. Jadi, logikanya kalau sekarang Indonesia sudah 65 tahun merdeka secara formalitas, sementara sebelumnya sudah 350 tahun lamanya terjajah, maka sudah jelas sebenarnya Indonesia belum merdeka. Fakta yang bisa kita lihat secara jelas adalah produk UU yang dipakai saat ini, yait 187 produk adalah peninggalan dari kolonial. Pun demikian dengan Istana kepresidenan, bukankah itu bangunan penjajah. Lalu, benarkah kita sudah merdeka, ketika masih kita melihat ketergantungan Indonesia kepada asing? Justru saat inilah sebenarnya kita sedang dihadapkan kepada neokolonialisme baru, yang buka berbentuk militer, tetapi menjajah secara ekonomi. Dan penjajah dengan model seperti ini dampaknya akan lebih dahsyat ketimbang penjajahan secara militer kalau bangsa ini tidak cepat sadar dan melawan. Beberapa fakta menarik diungkapkan Dr. Baswir dalam kesempatan itu tentang Indonesia. Fakta tersebut adalah ketika terjadi Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag sebagai bukti pengakuan kedaulatan Indonesia, sebenarnya ada beberapa syarat diajukan ketika itu sebelum dunia mengakui kedaulatan Indonesia. Yang pertama adalah Indonesia harus mempertahankan korporasi – korporasi asing di Indonesia, kemudian yang kedua adalah Indonesia harus mengikuti ketentuan IMF, dan yang ketiga Indonesia harus bersedia menerima warisan hutang Hindia Belanda. Beberapa fakta tersebut yag diungkap Dr. Baswir membuat saya semakin takut tentang kebobrokan Indonesia, dan menjadi semakin semrawut pagi itu ketika Dr. Baswir hanya memberikan solusi untuk membangkitkan Indonesia  adalah dengan membuat jelas segala yang belum jelas tentang sejarah Indonesia. Sebuah solusi yang saya kira masih sangat jauh dari ide konkrit untuk Indonesia.

Pemikiran radikal dan ketakutan – ketakutan tentang indonesia yang sesat di segala sistem yang dilontarkan Dr. Baswir sehingga barangkali hal itu pula yang membuat beliau golput pada pemilu lalu kalau menurut hemat saya tidak akan menyelesaikan permasalahan Indonesia. Maka bebarapa ide segar yang penulis peroleh dari beberapa sumber semoga menjadi inspirasi baru untuk kembali memunculkan optimisme kita tentang kejayaan Indonesia. Yang pertama kita harus mengalirkan energi positif dalam alam bawah sadar kita tentag rasa optimisme kejayaan Indonesia, keyakinan bahwa dalam waktu dekat, Indonesia akan segera bertemu dengan kejayaannya, rakyatnya makmur sejahtera, negerinya dikagumi oleh dunia, dan setelah itu Indonesia akan memegang tongkat kepemimpinan global untuk waktu yang cukup panjang. Kemudian yang kedua adalah kita berbicara masalah proyek baru, proyek besar membangun peradaban Indonesia. Maka setidaknya ada dua proyek besar itu seperti yang ditulis di buku Capita Selecta KAMMI, yaitu proyek sinkronik dan diakronik. Proyek sinkroniknya adalah dengan membuat atau lebih tepatnya menjaga agar Indonesia tidak semakin terpuruk kejurang yag lebih dalam, seperti misalnya saat ini yang sudah dilakukan, yaitu pemberntasan KKN, penegakan supremasi hukum, menjaga stabilitas ekonomi, dan lain – lain. Kemudian proyek diakroniknya adalah dengan mempersiapkan generasi baru Indonesia, atau kalau dalam buku tesebut mengatakan adalah dengan membentuk lapis intelegensia baru. Lapis ntelegensia baru adalah para pemuda yang dipersiapkan secara matang untuk menjadi pemimpin – pemimpin masa depan Indonesia. Sebenarnya ide lapis intelegensia baru sebagai generasi penerus kepemimpinan bangsa ini bukan ide baru, tetapi sudah dikembangkan untuk dakwah Islam di era Walisongo, tepatnya sunan kalijaga yang memakainya. Itu terlihat dari lirik lagu Lir-Ilir yang terkenal itu.  Sedikit bercerita tentang lirik Lir – ilir ini, berkisah tentang anak muda yang didaulat menjadi pemimpin untuk memimpin kambing – kambing gembalanya, lalu kemudian  menjadi pembersih dosa, memberi petunjuk kepada ummat. Gagasan cah angon atau lapis intelegensia baru inilah yang saya kira ketika dihadapkan pada konteks ke-Indonesiaan dimana indonesia sedang mengalami krisis multidimensi, termasuk yang paling miris adalah krisis kepemimpinan nasional yang melanda, maka yang merupakan solusi konkrit adalah menyegarkan kepemimpinan nasional dengan ide – ide segar dan solutif bagi permasalahan bangsa. Dan ide – ide segar itu hanya dapat diperoleh ketika kita mempersiapkan kader – kader yang baru, yang selanjutnya disebut denga lapis intelegensia baru. Kenapa harus lapis intelegensia baru, karena kita melihat sejarah anak – anak muda adalah sejarah gemilang, dengan sejarah perlawanan dan pembelaan. Sebelum kemerdekaan, kita ketahui bersama bahwa anak – anak muda Indonesia bangkit menyatukan bangsa dan melawan penjajah serta merebut kemerdekaan. Bukan hanya itu, setelah merdeka pun pemuda menjadi pioner kebangkitan melawan penguasa tiran dan diktator serta membela rakyat dari penindasan sosial, ekonomi, dan politik. Lapis intelegensia baru ini adalah generasi baru yang dipersiapkan tidak main – main secara matang, matang secara kapasitas keimanan dan ketaqwaan, matang secara kapasitas intelektual, sehingga bisa disimpulkan adalah dengan membentuk mental – mental pemimpin muda, sosok intelektual dan ulama, dan ulama yang intelektual, atau kalau bahasa yang diterapkan Yang ketiga, sebuah solusi yang lebih taktis-stretegis adalah seperti yang diungkapkan Mas Sigit (Ketua KAMMI Daerah Bantul) adalah menjadi solusi yang terkecil dahulu, solusi bagi dirinya sendiri. Misalnya kita berbicara masalah kemiskinan, tidak usahlah kita banyak berkoar dengan memebrikan strategi ini, strategi itu, solusi A, solusi B. Tetapi yang terpenting ketika akan menyelesaikan masalah kemiskinan masyarakat, sudahkah kita sendiri bebas dari kemiskinan itu? Sudahkah kita, para intelektual muda ini bebas dari bantuan IMF (International Monetery Father). Nah, kalau kita belum terbebas dari bantuan IMF, ya jangan harap kita akan mampu mengentaskan kemiskinan di masyarakat. Stop subsidi dari orang tua, itu kuncinya, dan mulai berfikir mandiri, dan untuk selanjutnya baru kita berbicara masalah solusi kemiskinan masyarakat. Lalu, tahap kedua yang perlu kita lakukan setelah kita mampu mengentaskan kemiskinan diri adalah melakukan langkah konkrit dengan strategi pencapaian yang jelas untuk mendampingi masyarakat. Konsep desa binaan atau community development bias menjadi solusi alternative untuk mengentaskan kemiskinan dan ketidakberdayaan. Dengan program – program strategis dan pendampingan intens ke masyarakat dengan terjun langsung menjadi bagian masyarakat, konsep seperti ini yang secara langsung akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ketiga poin diatas barangkali menjadi hal yang saya kira solusi strategis mengatasi ‘kesesatan Indonesia’ seperti yang diungkap Dr. Baswir. Lalu dalam momentum Ramadhan, sebagai ummat islam yang peduli terhadap Indonesia, perlu dan penting kiranya menjadi bulan transformasi, bulan perenungan, bulan kontemplasi, dan bulan persiapan untuk menjadi pribadi – pribadi solusi, baik bagi diri sendiri maupun bagi bangsa dan Negara. Lalu setelah Ramadhan kita siap dengan ide – ide segar kita, mengentaskan ketidakberdayaan masyarakat menjadi masyarakat yang berdaya guna. Setelah bulan Ramadhan  akan mempersiapkan untuk perang di era yang baru, memrdekakan Indonesia, perang melawan penjajah baru yang lebih dahsyat, lebih kuat, lebih hebat. Ya, bahaya neoliberalisme. Lalu baru kita akan berbicara tentang kejayaan Indonesia.  Akhirnya selamat idul Fitri 1431 H, selamat menjadi pribadi solusi, dan selamat menginspirasi Indonesia.

Iklan

2 thoughts on “Oleh – Oleh I’tikaf : Mari Berbicara Solusi

  1. Ping-balik: apa yang anda ketahui tentang suku dayak,khususnya dayak kalimantan tengah? | Indonesia Search Engine

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s