Pena Kasih Sayang (1)


“Tidakkah kau lihat langit biru dengan awan berarak disulam oleh burung-burung, amatlah indah. Atau engkau saksikan lereng bukit yang teramat indah. Atau taman bunga yang mekar beraneka warna dengan harum semerbak, teramat indah. Atau kau dengar suara jangkrik bersahutan, teramat indah. …Mengapa hati yang satu-satunya ini, kau biarkan merana tanpa gelora cinta kepadaNya?” (BUYA HAMKA)

1.1 Pena, Penciptaan, dan Takdir

Ketika itu, belum ada manusia, belum ada bumi, belum ada matahari, belum ada malaikat – malaikat yang berterbangan, lalu Allah menciptakan sebuah ciptaan yang diberi nama pena, setelah menciptakan pena, kemudian Allah menuliskan dengan pena tersebut makhluk – makhluk yang kelak akan diciptakanNya. Allah menuliskan Bumi, Matahari, gunung – gunung, lautan, malaikat, burung – burung,  dan binatang – binatang lainnya, dan alam semesta yang dilukiskan dengan pena, kemudian Allah juga menuliskan manusia dengan penaNya sebagai makhluk yang mulia. “Kun fayakun”…. Lalu kemudian terciptalah berbagai ciptaan Allah sesuai rancangan yang maha sempurna tersebut. Ada matahari yang diberi tugas oleh Allah untuk terus memberikan sinar kehidupan kepada seluruh makhluk di jagad raya, ada bumi yang didalamnya terdapat gunung – gunung, lautan, daratan dan diberi tugas sebagai tempat berpijaknya makhluk Allah yang paling mulia, yaitu manusia. Kesemua ciptaan Allah tersebut bertugas dengan sepenuh hati, tunduk dan patuh terhadap perintah Allah sesuai tupoksinya, matahari terus memberikan sinar kehangatan kepada seluruh jagad raya, bumi terus berputar mengelilingi matahari secara teratur untuk memberikan kebermanfaatan bagi makhluk Allah yang berpijak diatasnya. Kemudian Allah menciptakan makhluk – makhluk selanjutnya dengan harapan dari Allah SWT bahwa kesemua makhluk ciptaanNya itu patuh dan tunduk kepadaNya melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya. Begitu terencana, itulah gambaran dari semua penciptaan Allah yang ada di jagad raya ini. Mari kita tengok pengakuan dari sahabat Nabi Abdullah Bin Amr Bin Ash ketika beliau mendengarkan Rasulullah bersabda  : ”Allah telah menetapkan takdir makhluk ini sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jarak waktu 50.000 Tahun. Dan ’Arsy-Nya diatas air”.

Lalu lihatlah suatu ketika, Sayidina Ali ra, sahabat yang juga menantu Rasulullullah SAW bertanya tentang penciptaan alam semesta oleh Allah , “Wahai Nabi, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon katakan padaku apa yang diciptakan Allah Ta’Ala sebelum semua makhluk Alam semesta ini diciptakan?” Dan Nabi pun menjawab “ Allah menciptakan Pena, Allah kemudian memerintahkan Pena untuk menulis, dan sang Pena bertanya, “Ya Allah, apa yang harus saya tulis?” Allah berkata, “Tulislah : La  ilaha ill Allah, Muhammadan Rasulullah.” Kemudian Allah memerintahkan Pena untuk menulis. “Apa yang harus saya tulis, Ya Allah?” bertanya Pena. Kemudian Rabb al Alamin berkata, “Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan !” Berkata Pena, “Ya Allah, apa yang harus saya mulai?” Berkata Allah, “Kamu harus memulai dengan kata-kata ini : Bismillahirrahmannirrahim.” Kemudian Allah memerintahkan pena itu untuk menuliskan takdir. Penciptaan takdir dengan pena bersamaan dengan penciptaan pena itu sendiri. Seperti yang pernah dikisahkan dalam hadits Imam Ahmad dalam musnadnya, dari Ubadah bin Shamit, ia bercerita, ” Ayahku pernah memberitahuku, ia menceritakan, aku pernah masuk rumah Ubadah yang ketika itu sedang jatuh sakit. Apakah dalam sakitmu itu engkau menghayalkan kematian?’ Maka kujawab,”Wahai ayahku, bagaimana aku dapat mengetahui baik dan buruknya takdirku sesungguhnya?’ Ia manjawab,’Engkau mengetahui bahwa apa yang menjadikan kamu bersalah bukan sebagai musibah bagimu. Dan musibah yang menimpamu bukan untuk menyalahkanmu. Wahai putraku, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : ” Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah Qalam (pena). Kemudian Allah berfirman,”Tulislah ! maka pada saat yang sama berlaku pula apa yang telah tercipta sampai hari kiamat tiba”.

Ya, kalau dengan sebuah pena maka Allah akan mampu menciptakan mahakarya yang sangat dahsyat ini, maka tentu bahwa Allah sangat mementingkan hal yang satu ini, yaitu ketika kita kaitkan antara pena, membaca, dan ilmu pengetahuan, maka akan ada sebuah korelasi yang sangat erat, ada keterkaitan antara ketiga hal tersebut. Dengan pena kita mampu mentrasformasi segala yang kita pikirkan, sehingga kita pun bisa membaca. Seperti yang Allah katakan dalam suratnya yang turun pertama kali, surat Al-Alaq “Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Itulah kalimat sekaligus perintah Allah yang pertama kali sampai kepada Rasulullah SAW. Sebuah seruan yang memerintahkan kepada Rasulullah SAW, kita para manusia, untuk membaca, membaca atas segala sesuatu yang ada dibumi yang diciptakan Allah Rabbul Izzati kepada para manusia, dan kemudian dihayati dan tentu yang paling penting adalah kita mampu mensyukuri segala hal yang kita peroleh dari Allah. Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah pun mengatakan, Bacalah dan Tuhanmu yang telah memuliakan, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan qalam (pena).

1.2 Lauhil Mahfuzh

Dari dua kalimat, bacalah dan mengajarkan dengan perantaraan pena,  sangat jelas tergambar bahwa proses belajar dan mengajar manusia harus berlangsung bersama keduanya; membaca dan menulis. Ya, inilah sebuah ‘khitah,’ bahwa ternyata kita mesti belajar dengan membaca dan harus mengajar dengan menulis (dengan pena). Karena dengan pena, akan ada sebuah pengetahuan, dan itu merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada semua makhluk ciptaannya. Dengan perantaraan pena, Allah akan mentransformasikan bentuk kasih sayangnya kepada Jin, gunung – gunung, manusia, air, binatang – binatang, dan semua makhluk yang dirancang dan diciptakan oleh Allah. Dan semua rangkuman penciptaan Allah tersebut sudah ada dan tergambar jelas dalam Lauhil Mahfuzh.

” Tiada suatu bencanapun yang menimpa dibumi dan pada diri kamu melainkan telah tercatat dalam kitab ( Lauhil Mahfuzh ) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah sangat mudah. Supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al –Hadid, ayat 22-23)

Ya, Lauhil Mahfudz, sebuah kitab yang dimiliki oleh Allah Rabbul Izzati yang didalamnya berisi segala bentuk penciptaan Allah dari awal hingga akhir, dari kata musibah sampai pahala yang dijanjikan Allah. Seperti ketika kita memahami kata yang terdapat dalam ayat diatas. Hakekat dari ayat di atas sesungguhnya agar manusia dapat berfikir seimbang dalam menyikapi ketentuan nasib dari Allah. Jika mendapatkan bencana, hendaknya tidak bersedih secara berlebihan. Dan ketika mendapat anugerah atau nikmat hendaknya tidak menjadi sombong. Karena apa yang diterima itu semuanya atas kehendak Allah. Mengenai keseimbangan ini, akan insyaallah akan dibahas lebih lanjut dalam bab Homeosatis. Dan selalu tertulis dalam Lauhil Mahfudz. Dan mari kita simak tentang keindahan Lauhil Mahfudz. Pada sebuah kitab besar, dimana hanya Allahlah yang mengetahui seperti apa bentuknya dan dimana letaknya, segala sesuatu tercatat. Tidak hanya nasib manusia, bahkan segala macam peristiwa yang terjadi pada makhluk, baik yang bernyawa maupun tidak.

“ Tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan yang tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhil Mahfudz)”. ( QS. Al-An’am : 59 )

Ayat diatas menegaskan bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang dipelihara keasliannya oleh Allah. Ayat tersebut juga untuk membantah orang-orang yang melecehkan al-Qur’an. Mereka mengatakan bahwa al-Qur’an adalah dongeng yang berisi kebohongan, padahal dengan ditempatkan di Lauhil Mahfudz niscaya Al-Qur’an tidak akan mengalami perubahan, penambahan, atau pergantian sampai akhir zaman. Dan sang sucipun akan tetap tegak, tetap kokoh, tidak akan terkekang, tidak akan pernah luntur kemurniannya, sampai nanti, sampai kapanpun, walaupun para kaum – kaum pembodoh berusaha merusaknya, maka Allah pun akan tetap melindunginya, melindungi Al-Qur’an, yang mulia ini. Maka dengan ini ada sebuah proklamasi kasih sayang dari Allah untuk hamba – hambaNya yang senantiasa berserah diri. Didalam kitab itu. Al – Qur’an yang mulia. Dan sebuah syair akan kulantunkan untukmu wahai para perindu kasih sayang Allah.

Maka bacalah,

bacalah dengan meyebut nama Tuhanmu,

bacalah dengan penuh kesungguhan,

bacalah, sampai air matamu habis menapaki setiap jengkal Ayatullah

bacalah, dan arungilah lautan kasih sayang Tuhanmu

bacalah, sampai kaki – kakimu lelah penuh kenikmatan

bacalah, seperti halnya Utsman,

yang menikmati setiap jengkal huruf didalamnya sampai ajal menjemputnya

bacalah, seperti ketika hati Umar, sang penentang Islam pun luluh lantah mendengar suaranya

bacalah, maka kenikmatan yang akan kaudapati

maka bacalah, maka surga ada dalam genggamanmu

2 thoughts on “Pena Kasih Sayang (1)

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s