Pacitan butuh kapasitas, bukan popularitas, apalagi sensualitas


Menyimak  berita politik yang berhembus beberapa waktu lalu, maka mata kita akan tertuju tentang isu pencalonan sosok kontroversial yang akan mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Maria Eva dan Julia Perez. Maria Eva seperti yang kita ketahui adalah penyanyi dangdut yang dulu pernah terlibat kasus perselingkuhan dengan anggota dewan Yahya Zaini akan mencalonkan diri menjadi calon Bupati Sidoarjo. Dan nama yang terakhir, Julia Perez, yang juga sosok kontroversi, akan mencalonkan dirinya sebagai calon Wakil Bupati Pacitan dari koalisi Ampera (PAN dan Hanura). Untuk nama yang terakhir ini, sepertinya perlu kita bahas lebih lanjut dalam tulisan ini, karena setidaknya ada tiga hal yang membuat penulis membahas seputar pencalonan Jupe menjadi pemimpin Pacitan. Yang pertama adalah sosok Jupe yang diidentikkan dengan sensualitas, selain penampilannya yang serba seksi, juga pernah menjadi duta kondom dan lagu – lagu yang dilantunkan pun berbau erotisme (lagu belah duren) dan hal ini sangat bertolak belakang denga kondisi budaya masyarakat pacitan yang religius sosial. Yang kedua adalah bahwasanya pacitan adalah kota potensial dengan potensi wisatanya, dan harusnya yang kelak memimpin pacitan adalah orang yang mengerti ‘abang ijone’ Pacitan sehingga potensi – potensi yang dimiliki pacitan tersebut akan terangkat. Dan yang ketiga adalah bahwa penulis merasa perlu untuk memberikan sedikit ‘urun rembug’ kepada masyarakat pacitan (karena penulis juga orang Pacitan) untuk mencermati kriteria pemimpin yang dibutuhkan Pacitan.  Memang pad akhirnya Jupe tidak jadi mencalonkan diri sebagai pemimpin Pacitan, namun setidaknya kita sebagi warga yang peduli terhadap Pacitan, turut serta urun rembug mengenai kriteria calon pemimpin ideal bagi pacitan pada Pemilukada akhir tahun ini.
Potensi besar
Pacitan, seperti kita ketahui adalah kabupaten yang berada paling ujung di Provinsi Jawa Timur dan merupakan sebuah Kota kecil yang mempunyai ciri geografis yang khas, berkelok – kelok dan berbukit – bukit, sedangkan daerah yang dataran rendah hanya terdapat di wilayah cekungan Pantai Teleng Ria. Dengan kondisi alam yang khas seperti ini, maka potensi daerah yang terbesar yang dimiliki oleh Pacitan adalah potensi alamnya, baik wilayah pantai maupun wilayah pengunungan. Di wilayah pantai, pengelolaan Pantai dan Laut serta perikanan menjadi hal sentral untuk dikembangkan, baik dengan konsep wisata alam, maupun konsep wisata kuliner dan perdagangan (perikanan). Dan yang memang menjadi evaluasi pengelolaan daerah pantai selama ini, adalah keterbatasan SDM yang dimiliki, khususnya pengelolaan potensi laut seperti perikanan, selain itu juga  keterbatasan sarana prasarana, teknologi, modal, dan akses pasar juga menjadi hambatan bagi perkembangan potensi laut di Pacitan. Yang seharusnya pacitan itu mampu seperti kemajuan wisata di Bali, sepertinya hanya berjalan di tempat, belum ada kemajuan yang signifikan dari potensi kelautan di Pacitan. Padahal, sebenarnya daerah Laut di Pacitan mempunyai pesona alam yang tak kalah indahnya dengan laut di Bali sekalipun, seperti Teleng Ria, Klayar yang nampak seperti Tanah Lot di Bali, Srau, dan beberapa Pantai di wilayah Pacitan lainnya yang sama indahnya dengan wisata di Bali ataupun daerah pesisir lainnya. Pun demikian juga dengan daerah selain Pantai di pacitan yang juga berpotensi besar terhadap kemajuan Pacitan. Batu akik di wilayah Donorojo yang sebenarnya sangat potensial namun masih perlu sentuhan keberanian untuk lebih mengembangkannya. Pertambangan bintonite dan emas yang sepertinya juga masih belum maksimal dalam pengelolaannya. Potensi Wisata alam seperti Goa, pegunungan, wisata bendungan, dan lain sebagainya yang sepertinya masih membutuhkan sentuhan keberanian dan terobosan baru dari pemimpinnya untuk lebih mengembangkan semua potensi yang dimiliki Pacitan.
Pemimpin yang mempunyai kapasitas
Potensi besar yang dimiliki oleh pacitan tersebut harus menjadi visi strategis pemimpin yang akan memimpin Pacitan ke depan. Pemimpin pacitan kedepan harus mempunyai performance sebagai seorang pemimpin, selain keberanian, juga kapasitas kompetensi kritis yang membangun menjadi syarat mutlak yang penulis kira perlu, bahkan penting, agar Pacitan semakin mendunia, bukan hanya karena melalui ketokohan putra derahnya saja, tetapi memang berangkat dari kekokohan, baik secara struktural di pemerintahan, maupun kokoh secara kultural dengan dilandasi kesejahteraan masyarakatnya. Karena kalau kemudian hanya bergantung kepada tokoh saja, keberadaan Pacitan tidak akan mampu bertahan lama. Sehingga dipandang perlu bagi Pacitan untuk menguatkan strukturalnya. Dan itu harus diawali dari kapasitas yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Kapasitas yang memadai, itulah syarat mutlak bagi pemimpin Pacitan nantinya, mumpuni dalam pengelolaan struktural pemerintahannya,dalam gerakan taktis-strategisnya dilapangan menerapkan visi dan misi yang menjadi arahan kebijakan pembangunan di segala bidang. Salah satu contoh yang penulis kira berhasil diterapkan oleh bupati Pacitan saat ini (H. Sujono) adalah program Gerbang Emas (Gerakan Membangun Ekonomi Masyarakat Pacitan) yang pada tahun 2008 lalu cukup berhasil namun masih perlu ada evaluasi dalam pelaksanaan program tersebut. Pembuatan pabrik ethanol yang merupakan bagian dari program gerbang emas tersebut akan membantu mengangkat perekonomian masyarakat Pacitan, karena secara otomatis para petani Pacitan (yang mayoritas tanaman yang ditanam adalah singkong) akan berlomba untuk memperbaiki kualitas singkongnya dan menggairahkan geliat petani singkong untuk lebih bersemangat menanam singkong. Seperti tujuan utama dari program Gerbang Emas yang dicanangkan Pemkab Pacitan saat ini, yaitu dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat, maka masyarakat harus menjadi raja di daerahnya sendiri. Dan memang, walaupun program Gerbang Emas tersebut masih perlu banyak evaluasi, tetapi setidaknya ada usaha, sebuah gerakan solutif memanfaatkan kondisi actual —yang kemudian disebut gerakan taktis-strategis— dari seorang bupati dalam rangka untuk menyelesaikan permasalahan perekonomian masyarakat sudah dijalankan, (bukan berarti dengan mancantumkan nama tokoh bupati pacitan dalam artikel ini, penulis mendukung pencalonan H. Sujono maju dalam Pilkada Pacitan, tidak samasekali) Inilah yang kemudian perlu dicontoh oleh pemimpin – pemimpin Pacitan kedepan, untuk mampu melihat kondisi kekini-disinian Pacitan. Dan hal itu hanya dimiliki oleh profil pemimpin yang tahu seluk beluk Pacitan. Bisa juga diartikan sosok putra daerah Pacitan masih dibutuhkan untuk menggarap Pacitan, setidaknya untuk menggarap beberapa aspek potensial yang dimiliki Pacitan saat ini, yang memang dibeberapa aspek, Pacitan memiliki potensi yang bagus, tinggal bagaimana pemerintah, terutama Pemimpin yang menjadi penentu kebijakan mengambil sebuah langkah konkrit solutif untuk memberdayakan potensi Pacitan. Semoga dengan momentum Pemilukada Pacitan, kedepan pacitan menjadi lebih baik lagi.

Iklan

3 thoughts on “Pacitan butuh kapasitas, bukan popularitas, apalagi sensualitas

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s