Bedah Konsep Muslim Negarawan (1) (Memiliki basis ideologi Islam yang mengakar)


Kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah Negara besar dengan segala kebesarannya. Dengan segala potensi yang ada, Indonesia menjadi sebuah tanah surga yang sangat potensial untuk dikelola, mulai dari banyaknya pulau, beragamnya flora fauna, sampai keberagaman budaya yang ada. Namun karena kebesarannya itulah, Indonesia memerlukan sosok pemimpin yang sanggup mengelola kebesaran Indonesia, yang bervisi besar dengan kinerja – kinerja yang besar pula. Namun, evaluasinya sampai saat ini pemimpin – pemimpin yang ada di Indonesia belum memiliki aspek itu, sehingga akibatnya adalah kita menjadi bangsa yang teringgal dari bangsa lain. Padahal potensi untuk membangkitkan Indonesia menuju puncak peradaban itu sangat mungkin terjadi. Berawal dari keresahan akan hilangnya sosok – sosok pemimpin ideal yang mampu mengelola Indonesia yang besar ini, maka dibutuhkan dua proyek besar membangun kejayaan Indonesia. Proyek yang pertama adalah proyek yang tentu saat ini kita jalani, yaitu menjaga agar bangsa ini tidak semakin terpuruk kejurang yang lebih dalam, memberantas KKN, penegakan supremasi hukum, dan lain sebagainya adalah proyek yang kita jalani saat ini. Sedangkan proyek yang kedua, adalah bagaimana kita membentuk generasi pemimpin yang benar – benar ideal untuk kelak menjadi pemimpin – emimpin bagi Indonesia dalam rangka mimpi mewujudkan kejayaan Indonesia. Dan kita ketahui bersama, di KAMMI adasebuah jargon yang menjadi penyemangat sekaligus cita – cita besar kita. Menjadi seorang, atau sekelompok muslim negarawan.

Sejatinya, dengan adanya konsep muslim negarawan yang diusung oleh KAMMI, adalah merupakan sebuah konsep seorang atau kumpulan orang – orang yang mempunyai mimpi besar, visi besar, dan juga kerja – kerja besar membangun sebuah proyek peradaban raksasa, yang untuk selanjutnya kita sepakati bersama dengan peradaban Islam. Dalam ketiga unsure yang terdapat dalam konsep Muslim negarawan, adalah, yang pertama memiliki basisi ideologi Islam yang mengakar, kemudian yang kedua adalah memiliki basis pengetahuan yang mapan, dan yang ketiga adalah idealis dan konsisten. Untuk membuat agar tulisan tentang Muslim Negarawan itu tidak hanya berkutat pada ketiga hal tersebut, maka penulis mencoba menambahkan satu poin lagi, yaitu mempunyai mimpi, visi, cita, dan kinerja yang besar.

Memiliki basis ideologi  Islam yang mengakar

Ideologi yang dimaksud adalah bukan hanya sekedar pengetahuan, maka yang paling penting pertama kali harus dilakukan adalah penanaman aqidah yang lurus, sehingga terbentuknya kesadaran dan kefahaman bahwa Islam adalah way of life dan value of life selalu dinternalisasikan dalam aktifitas kita. Kemurnian aqidah dan kematangan fikrah adalah harga mati untuk meneruskan penulisan sejarah emas perjuangan KAMMI. Salah satu yang mendasari poin pertama dalam ketiga konsep muslim negarawan itu adalah aspek ruhiyah yang tidak pernah kering. Al Imam Hasan Albana mendeskrepsikan kader – kader yang berkualitas itu laksna rahib dimalam hari dan seperti fursan disiang hari. Artinya frekuensi gerakan taktis-stretegis kita, harus balance-seimbang dengan kualitas ruhiyah kita. Kita dapat mengambil contoh dalam Al-Qur’an ketika Allah SWT berkisah tentang para prajurit di perang Hunain yang saat itu mengalami penurunan kualitas ruhiyah, maka Allah SWT menegur merek dengan gertakan musuh yang sejatinya dapat dikalahkan secara kuantitatif ¹. Penurunan ruhiyah akan sangat berdampak kepada penurunan tingkat konsentrasi gerakan kita dilapangan. Maka dari itu seorang sosok muslim negarawan harus memiliki wawasan keislaman yang mengakar. Baik itu secara aqidah, akhlaq ataupun paradigma berpikir. Apabila ideologi Islam ini sudah mengakar dalam diri sosok muslim negarawan ini maka akan muncul  kredibilitas moral dalam diri sosok muslim negarawan tersebut. Pun demikian kata muslim yang tersemat dalam jargon muslim negarawan-ada tiga poin yang penting untuk menjadikan bahan membentuk sosok muslim negarawan yang tangguh, tiga point penting tersebut adalah sebagai berikut ².

Yang pertama, mempunyai wawasan syariah, artinya adalah ketika cita – cita besar memimpikan sebuah puncak tertinggi peradaban Islam itu ada di Indonesia, maka kebutuhan terhadap penguasaan sistem berbasis nilai – nilai Islam menjadi sebuah keniscayaan. Pengetahuan terhadap cakupan syariah pun menjadi sebuah kemutlakan. Sangat ironis ketika kit amemimpikan tentang sebuah khilafah, ataupun peradaban islam, atau lebih tepatnya kita ingin merombak sistem yang ada saat ini, namun kita tidak mudheng dengan system penggantinya.

Yang kedua, menguasai bahasa Arab. Bahasa arab adalah bahasa Qur’an, yang kit ayakini kebenarannya. Bahasa dengan segala keunggulan yang ada daripada bahasa lainnya, maka sudah menjadi keniscayaan bagi kita untuk terus memahami dan mempelajari bahasa arab, baik dari yang dasar tentang makhrojul huruf, ataupun sampai pada tataran tertinggi sekalipun. Ironis sekali ketika kita menyerukan kebenaran wahyu, memimpikan masa depan Islam, namun kita sendiri masih lemah dalam penguasaan ilmu – ilmu islam.

Yang ketiga, keutuhan komitmen. Artinya ketika kita mengingnkan membentuk kelompok lapis intelegensia bernama muslim negarawan, maka dasar yang kita pakai adalah konsep wahyu yang kita ketahui adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, seharusnya gerakan yang dilakukan KAMMI tidak hanya meng upgrade kapasitas siyasi kader KAMMI, tetapi lebih dari itu adalah komitmen terhadap konsep kebenaran wahyu dalam setiap gerakannya menjadi sebuah keniscayaan.

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s