Pemuda, mimpi dan perubahan


Pemuda, pada hakekatnya adalah segolongan kelompok yang identik dengan kesemangatan, gelora, ide – ide besar, dan pemikiran – pemikiran cemerlang. Seperti sosok Salman Al-Faritsi, pemuda yang mempunyai ide brilian untuk menggali parit dalam perang khandaq disaat generasi sahabat yang lain bingung. Begitu pula sosok pemuda yang dimaknai oleh Bung Tomo dan arek – arek Suroboyo ketika itu, gelora semangat dan jiwa patriot melebur dan membuncah dalam dada mereka, sehingga tidak ada lagi ketakutan – ketakutran ketika melawan helikopter – helikopter dari tentara Sekutu, tidak gentar samasekali ketika melihat keperkasaan moncong – moncong tank milik Sekutu. Keberanian, inilah yang kemudian ditunjukkan oleh sekelompok pemuda Desa dari Palestina, walaupun yang didepannya adalah bom – bom Israel yang siap menghancurkan pembuluh darahnya, meremukkan semua tulang – tulangnya, dan mereka tidak gentar sama sekali. Walaupun hanya bersenjatakan batu – batu, dengan gagah berani, para pemuda dari Palestina itu menantang tank – tank besar milik Israel. Cukuplah dengan terikan Allahuakbar, maka akan menjadi kekuatan mahadahsyat untuk mengancurkan musuh – musuh. Dan merekalah para perindu syurga, yang mempunyai mimpi, mempunyai cita – cita besar. Dan para pemuda tersebut menginginkan perubahan, seprti watak dari mimpi itu sendiri. Maka, tetaplah, wahai saudaraku, para pemuda, untuk terus bermimpi, bermimpi tentang perubahan, bermimpi tentang peradaban. Dan diawali dari mimpi itulah, engkau akan menjadi besar. Sebab tabiat mimpi ini mengharuskan kita untuk terus berada dalam pusaran perubahan. Perubahan diri sendiri maupun pusaran irama peradaban umat. Di hadapan kita hanya ada dua pilihan. Menjadi bagian dari lembaran sejarah, dengan menjadi bagian susunan kata “peradaban”. Atapun menjadi pecundang yang tersisih di pojok sejarah bahkan terlempar darinya.

Pemuda selalu menjadi tumpuan harapan umat. Namun demikian keadaan menjadi sangat berbeda antara pemuda yang tumbuh pada saat umat mencapai kejayaannya, aman damai dan sentosa. Dengan pemuda yang tumbuh pada saat umat sedang mengalami kebangkrutan dan baru mulai menyadari akan perlunya bangkit kembali merebut kemerdekaannya yang hilang, kekayaannya yang diserobot, hak yang terampas dan bahkan jati dirinya yang tertimbun oleh nilai-nilai kejahiliyahan. Pemuda jenis pertama tentunya akan cukup memfokuskan pada agenda dirinya daripada agenda umat dan orang lain. Karena dengan begitu dia sudah cukup baik perannya untuk meraih masa depan yang lebih baik. Berbeda dengan pemuda yang tumbuh pada saat umat sedang bangkrut dan baru mulai menyadari akan perlunya bangkit kembali. Dalam keadaan seperti ini pemuda dituntut untuk lebih memperhatikan nasib orang lain dan agenda umat dari pada nasib dan agenda diri sendiri. Para pemuda dituntut untuk berfikir panjang, menentukan sikap dan strategi, serta kerja keras yang berkesinambungan.

Saat ini keadaan umat bagaikan orang yang sakit parah dan membutuhkan pengobatan serta perawatan yang benar untuk menuju kesembuhannya. Atas takdir Allah dan Alhamdulillah kita tumbuh pada saat umat sedang berjuang keras menuju kebangkitannya. Ternyata kitalah yang harus menjadi dokter dan perawatnya. Alangkah beratnya tugas ini, alangkah mulianya tugas ini dan alangkah besarnya pahalanya di sisi Allah! KIta mestinya bangga bahwa kita telah bergabung dengan da’wah ini, karena berarti Allah telah memuliakannya di antara sekalian makhluknya untuk menjadi pemimpin dunia. Bahwa lembaran-lembaran sejarah kontemporer sangat membutuhkan pemuda yang dapat menaburkan benih-benih harapan dengan kesanggupan berperan serta dalam memikul tanggung jawab mereka, serta pemuda yang dapat meluruskan barisan dan memimpin dengan potensi kecerdasan mereka dan kemampuan yang brillian dalam rangka melakukan perang pembebasan, mobilisasi, persatuan dan mengembalikan kemuliaan manusia yang telah hilang di bawah kungkungan peradaban dunia yang sama sekali tidak memandangnya kecuali dirinya sendiri dan tidak mendengar kecuali suaranya saja.

Namun potensi para pemuda akan tetap terbelenggu di dalam dada pemiliknya jika tidak berusaha dihiasi oleh kekuatan iman yang selalu berusaha memerdekakannya dari segala ikatan dan belenggu. Karena itu pula jangan heran jika kita menemukan pemimpin “Perang Mu’tah” tiga pemimpinnya adalah dari para muda (Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Rowahah ). Dan sebelumnya kita menemukan seorang pemuda yang bernama Ali bin Abi Thalib yang rela mengorbankan jiwa dan menjualnya untuk dakwah Rasulullah saw.

Siapakah pemuda yang menjadi tonggak perubahan..? :

  • Mereka adalah yang memandang bahwa taat kepada Allah adalah sebuah kekuatan yang mampu mendorong jiwanya untuk bangkit dan membangunkan umat dari tidurnya , sebagaimana ungkapan Rasulullah saw: “Dan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah…”
  • Mereka yang disibukkan dengan  besarnya amanah dan beratnya perkara dan tidak menyiakannya sekecil apapun.
  • Merekalah adalah orang-orang yang sibuk menjadikan ilmu sebagai bekal peradaban dan senjata kemajuan serta amunisi keimanan. “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah dari para hamba-hambanya hanyalah para ulama dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Pengampun”. (Fathir:28). Sehingga mereka tidak meninggalkan sedikit pun pintu ilmu kecuali mengetuknya dan tidak ada sisi kemuliaan kecuali mereka bersegera menujunya.
  • Mereka yang menyadari bahwa kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia, sehingga tidak waktu sedikit pun yang lewat tanpa disusun dengan baik dan tanpa ada persiapan yang matang.
  • Mereka adalah orang yang memandang bahwa persatuan umat hal utama dari pondasi kekuatan umat. Sehingga mereka berusaha untuk selalu menjalin silaturahim, menghormati guru dan ulama, tersenyum dan menyampaikan salam kepada orang yang dijumpai, ketika berbicara dengan ucapan lembut dan bersih dari perkataan kotor, paling cepat memberikan kontribusi, dan meninggikan syiar Nabi saw: ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”.
  • Mereka adalah orang-orang yang memiliki jati diri dan lapang dada ketika berada di tengah pertikaian, mengembalikan dengan cara yang baik terhadap orang yang mencelanya. Manusia melempari mereka dengan batu namun mereka membalasnya dengan buah kurma yang paling  baik. Dan terpatri dalam tubuh mereka karakter dari para sahabat Rasulullah saw : “Dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”. (Al-Fath:29)
  • Mereka adalah orang-orang yang memahami hak atas tanah air dan negaranya, dan memandang  bahwa agama Islam adalah saudara kembar dari negara. Memandang pada sisi lainnya bahwa politik adalah sahabat karib dalam jalan menuju perubahan dan reformasi. Dan pada semua itu tangannya membentang untuk membawa bendera negaranya, memutar roda perubahan menuju hari esok yang lebih cerah, menuju kemerdekaan umat dari para pencuri mimpinya dan kekuatan anak bangsanya,  bersih dari ikut-ikutan, kediktatoran dan individualisme.
  • Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal kata frustrasi“Dan tidaklah ada orang yang  berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat” (Al-Hijr:56).

    Sehingga semangat mereka tidak lemah saat krisis ekonomi mendera, tidak berkompromi dengan kendaraan yang tidak termasuk dalam garis Allah, tidak berhenti untuk memberikan kontribusi saat tersebar sikap oportunis dan individualis, dan isolasi. Gerak mereka tidak memiliki tapal batas, langkah mereka tidak ada yang mampu menghalangi sekalipun dengan seribu manusia, perbuatan mereka adalah contoh dan teladan sekalipun dalam bentuk satu buah kerja tangan atau satu buah produksi, tidak mengenal ketergantungan namun selalu bekerja dengan gigih dan penuh inovasi dalam berbuat dan dalam melakukan reformasi.

  • Mereka adalah orang-orang yang merasakan bahwa loyalitas terhadap negara adalah bagian dari ibadah dan memandangnya sebagai bentuk dambaan dan kerinduan seperti yang dilakukan oleh Nabi saw terhadap tanah air Nya: “Demi Allah, engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai, sekiranya pendudukmu tidak mengusirku darimu maka akan tidak akan pergi darinya”.
  • Dengan kecintaannya mereka selalu menyeru untuk bekerja dalam berbagai kegiatan dan aktivitas yang positif, syiar mereka adalah reformasi, slogan mereka adalah kontribusi sebanyak-banyaknya, bekal mereka adalah sabar dalam menghadapi berbagai ujian dan ciri khas mereka adalah tawadhu.

Demikianlah jika suatu hari karakter pemuda diatas terpenuhi maka pada saatnya akan tampak sinar cita-cita yang menembus ke segala tubuh umat ini, dan sudah saatnya para penyeru kebenaran mengumandangkan firman Allah: “Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki Nya. dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ar-Ruum:4-6)

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s