Menjadi generasi muslim solutif-kontributif


Oleh : Dwi Purnawan *)

Ketika berbicara kegemilangan sejarah Islam, ingatan kita akan tertuju kepada keberanian para pendahulu agama ini dalam mempertahankan kebenaran Islam ad-dienul haq yang mulia ini. Masih ingatkah dengan keberanian seorang pemuda bernama Ibrahim saat meruntuhkan teori kebohongan paganisme, menghancurkan berhala – berhala yang sudah dianggap kaumnya sebagai Tuhan, dan membungkam Namrud, sang Tuhan palsu. Lalu ketika kita Isa mempertanyakan tentang penolong agama Allah, maka kaum Hawari pun mengatakan dengan lantang untuk setia menolong Agama Allah ini dan kemudian meyakinkan dirinya sebagai seorang muslim, lalu kemudian diabadikan dengan indah dalam Al-Qur’an.
Maka ketika ‘Isa merasakan keingkaran mereka (Bani Israil), dia berkata, “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” para Hawariyyun menjawab, ”kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim. (QS. Ali Imran (3) 52)
Dan memang, Islam, dengan ummatnya, yang kemudian disebut muslim, telah menunjukkan kegemilangan sejarahnya untuk mempertahankan kebenaran Islam, maka menjadi sebuah keniscayaan bagi kaum muslim untuk menjadikan generasi – generasi terbaik tersebut sebagai inspirasi bagi kita. Salah satunya adalah dengan mengembalikan makna sebenarnya kata – kata muslim. Memang ini hanya sebuah kata, namun ketika berbahasa Inggris, maka berbahasa Inggrislah dengan benar. Jangan pernah memakai kata moslem dalam setiap ejaan kata. Karena makna yang timbul kemudian adalah makna yang berkonotasi negatif. Tetaplah memakai kata muslim, sebuah ejaan kata yang indah untuk orang – orang yang berserah diri kepada Allah. Dan memang, indah sekali kata – kata itu. Muslim.
Salah satu yang kemudian menjadi kekuatan dari Islam adalah orisinilitas Al-Qur’an dan As Shunnah, yang dengan berbekal keduanya, para generasi terbaik dahulu, Rasulullah, para sahabat, dan para tabiin mampu menancapkan panji – panji kebesaran Islam di puncak kejayaannya, di puncak kebesarannya. Karena berbekal keduannya, disertai spesialisasi keilmuan yang dimiliki, seorang Utsman Bin Affan, dengan insvestasinya mampu memakmurkan Madinah. Pun demikian dengan saudagar Abdurrahman Bin Auf, yang mampu menjaga stabilitas pasar, seorang petani yang ulet semacam Abu Thalhah, yang mampu menjamin ketahanan pangan Madinah,  kemahiran dokter As Syifa binti Abdillah, yang menjamin kesehatan warga Madinah, kejelian akuntan Abu Ubaidah Bin Jarrah yang telah memeratakan ekonomi yang berkeadilan di masayarakat Madinah, atau juga kelihaian strategi  perang Khalid Bin Walid, yang membuka ruang – ruang wilayah baru untuk berdakwah. Luar biasa, orang – orang hebat itu melakukan tugasnya dengan baik, karena mereka percaya bahwa ketika menolong Agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya. Dan itu benar – benar terjadi di negara Madinah ketika itu. Dan peradaban dunia pun berkiblat kepada Peradaban Islam, di Madinah. Mungkin saja, dan memang sebuah kepastian bahwa mereka tidak akan pernah hadir lagi untuk turut serta menegakkan kembali kejayaan Islam yang mulai runtuh saat ini. Tetapi paling tidak, semangat para generasi pemenang itu harus kita lanjutkan untuk menjayakan kembali Islam, dan dalam diri kita muncul sikap solutif-kontirbutif bagi persoalan bangsa dan ummat.
Generasi – generasi terbaik dahulu telah membuktikan keberadaan mereka menjadi solusi bagi persoalan ummat, buka hanya itu, mereka mampu mengangkat ummat ke puncak tertinggi peradaban dunia, dan salah satu yang kemudian menjadi rahasia adalah, bahwa sebelum memperbaiki ummat, mereka telah ’lulus’ terlebih dahulu memperbaiki dirinya, menjadi muslim yang barkarakter, dan berhasil membentuk kepribadian islam dalam dirinya. Ya, takwinul shaksiyah Islamiyah, atau pembentukan kepribadian islam inilah yang merupakan hal pertama kali, tahapan pertama kali yang harus dilakukan sebelum menuju ke tahapan berikutnyaa, untuk menjadikan diri kita pribadi muslim yang solutif. Dalam konteks kekinian, kita bisa melihat bahwa ummat islam sedang dalam mengalami krisis identitas, krisis kepercayaan diri terhadap kemuslimannya. Barangkali salah satu yang menyebabkan adalah jauhnya jarak ummat islam saat ini, dengan generasi terbaik dahulu, sehingga walaupun islam tetap dalam kekuatannya, yaitu mempunyai keaslian Al-Qur’an dan As Shunnah, menjadi sulit untuk mentrasformasikan keduanya ke masyarakat menjadi sebuah solusi, sehingga keberadaan islam saat ini, hanya sebatas shaff – shaff dalam sholat, hanya rukun – rukun dalam shalat, tidak lebih dari itu. Padahal Rasulullah pun mengajarkan tentang konsep syumuliyatul islam, bahwa islam juga Agama, Islam juga politik, Islam juga ekonomi, Islam juga hukum, islam juga masalah sosial budaya. Beberapa hal dibawah ini, sesuai dengan tema tulisan ini, yaitu membentuk kepribadian islam, dan menjadi muslim solutif, barangkali menjadi perlu kita lakukan untuk membentuk, bukan sekedar membentuk, tetapi memantapkan komitmen kemusliman kita.
1.    Mampu membekali potensi spiritual individu
Poin penting dalam hal ini adalah dengan memantapkan dan mengokohkan aqidah kita dulu, karena jika aqidah kita sudah lurus dan bersih, maka hal ini akan menentukan kesuksesan kita dalam proses takwinul shaksiyah islamiyah, lalu selanjutnya adalah memperbaiki keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT secara kontinyu dan terkontrol dengan baik.
2.    Menguatkan dorongan – dorongan iman dalam jiwa individu
Ada tips yang paling efektif untuk menguatkan dorongan iman dalam individu, selain mendengarkan taujih dari sudara kita, yaitu senantiasa berpartisipasi aktif untuk melakukan kebaikan, apapun bentuknya, asalkan itu kebaikan, maka ikuti saja. Dan tips yang kedua adalah dengan selalu memunculkan motivasi jihad disetiap aktivitas yang kita lakukan, agar aktivitas yang kita lakukan selalu medapatkan keberkahan dari Allah SWT.
3.    Menciptakan iklim yang kondusif untuk melejitkan potensi dan kreativitas
Dalam poin yang ketiga ini, kita berbicara masalah spesialisasi keilmuan yang dimilki individu. Untuk melejitkan potensi yang kita milki, maka harus ada iklim yang kondusif, diantaranya adalah lingkungan yang kondusif, manajemen diri yang baik, visi hidup jangka panjang, dan yang terpenting adalah senantiasa mengasah spesialisasi yang kita miliki secara rutin dan terus menerus.
4.    Menanamkan semangat kolektif
Salah satu yang menjadi keunggulan dari generasi emas dahulu adalah kekuatan ukhuwwahnya yang erat, dan kekuatan ukhuwwah merupakan kekuatan tersendiri yang sangat berguna bagi kita. Salah satu yang kemudian dapat kita lakukan untuk poin menanamkan semangat kolektif ini adalah dengan mendidik untuk senantiasa bermusyawarah dan berdiskusi dengan saudara kita, karena dengan seringnya bersama dengan saudara, maka akan menggusur sikap egoisme yang secara kodrati kadang masih melekat dalam diri manusia.
5.    Membangun fisik individu
Guru olahraga kita pasti sudah sering mengatakan kepada kita untuk senantiasa menjaga kesehatan dengan sering berolahraga, istirahat yang cukup, dan makan makanan yang bergizi. Sepele memang apa yang dikatakan guru kita waktu SD tersebut, namun efeknya ternyata luar biasa. Bagaimana mungkin kita dapat mentransformasikan kebenaran pemikiran kita ketika tubuh kita sakit, bagaimana mungkin kita dapat melejitkan potensi kita apabila tubuh kita lemah, tentu tubuh yang tidak sehat akan sangat menghambat segala aktivitas kita. Maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk senantiasa menjaga dan membangun kondisi fisik kita, dan mengikuti saran yang dianjurkan guru – guru kita dahulu.
6.    Membebaskan individu dari kemunduran rasa
Setiap manusia pasti memiliki potensi untuk berada dalam titik kejenuhan, titik kemalasan yang luar biasa dalam hidup ini. Inilah yang menjadi tantangan dalam tahapan proses takwinul shaksiyah islamiyah, yaitu membebaskan diri kita dari kemunduran rasa yang mendera, seperti rasa malas, rasa pasrah, pasif, pesimis terhadap segala sesuatu. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa optimis terhadap segala hal, seperti kata – kata beliau dalam parit saat membuat parit di perang khandaq yang mengatakan bahwa sebentar lagi Romawi akan ditaklukkan, sebentar lagi Persia akan ditaklukkan. Dan hasil dari sikap optimis itu sungguh luar biasa, setelah itu Romawi dan persia pun berhasil ditaklukkan.
7.    Membangkitkan dan memajukan masyarakat, bukan menjadi beban bagi masyarakat
Sebelum berbicara poin ketujuh dalam tahapan membentuk kepribadian islam, mari kita simak sebuah hadits yang semoga mengisnpirasi kita.
Lakukanlah segala sesuatu apa yang mampu kalian amalkan, sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian merasa jemu (HR Al Bukhari)
Titik penting dalam hadits tersebut adalah kontribusi kita untuk perbaikan masyarakat, bukan malah kita yang menjadi beban bagi masyarakat. Ibaratnya, kalau dakwah ini hanyalah omongan saja, maka cukuplah lidah yang kita gunakan. Namun ternyata lahan amal itu cukup luas, maka Allah pun menganugerahkan kita anggota tubuh yang lengkap untuk beramal. Kalau spesialisasi anda hanyalah seorang yang suka kebut – kebutan, maka ada referensi penjemput ustadz untuk mengisi acara pengajian. Kalau hobi anda adalah menggoyangkan tubuh anda, bukankah ada referensi instruktur senam islami bagi anda, kalau kebiasaan anda adalah menulis, bukankah anda bisa berdakwah melalui tulisan, atau anda bisa menjadi sekretaris kegiatan Islam.
Banyak sekali yang masih bisa kita lakukan untuk menjadi generasi muslim yang solutif-kontributif bagi problematika ummat islam saat ini, dan saat ini ummat sedang menunggu kita untuk beraksi, mentransformasikan, mengejawantahkan kedalam kinerja nyata konsep kebenaran dan keaslian Al Qur’an dan As Shunnah itu ke masyarakat, menyampaikan kabar kebenaran Islam, bukan hanya berkoar – koar saja, tetapi yang lebih penting adalah menjadi qudwah bagi mereka, bagi masyarakat, bagi bangsa dan negara, dan bagi islam. Selamat membentuk kepribadian Islam dan karakter kemusliman kita. Selamat menjadi generasi muslim solutif-kontributif. Semoga menginspirasi.

(* Disampaikan dalam Madrasah KAMMI I KAMMI Solutif Unnes 1431 H

Jum’at 21 Mei 2010, Pukuul 16.00 WIB

Di Kompleks Auditorium Unnes

** Penulis adalah Mahasiswa jurusan PJKR FIK Unnes

Ketua Biro Humas KAMMi Solutif Unnes 1431 H

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s