Refleksi hari kebangkitan nasional… antara ritual, optimisme, dan peluang


Mengingat kembali sebuah hukum yang berlaku di alam manusia ini, bahwa terjajah itu adalah pergiliran, sementara kebangkitan adalah kepastian, dan ketika kita korelasikan dengan kondisi Indonesia saat ini, yang bisa dikatakan terpuruk disegala sistem kehidupan, maka cita – cita luhur tentang kebangkitan pasti akan menghampiri Indonesia, entah kapan waktunya. Yang jelas, yang seperti kita ketahui, 64 tahun kita merdeka, atau 102 tahun lamanya sejak kebangkitan oleh sekelompok pemuda dan menyatukan tekad bangkit dari keadaan negeri yang terjajah, sepertinya ritual tahunan perayaan Hari Kebamgkitan Nasional hanyalah sebuah asap yang mengepul dan tak bersisa. Hanyalah sebuah perayaan kepuasan sesaat berkedok “Indonesia bangkit”, tetapi dibalik itu semua adalah pengangung – agungan terhadap budaya hedonis. Betapa tidak, disaat sekolah – sekolah rusak mebutuhkan bantuan yang tidak sedikit, disaat kaum proletar butuh asupan energi materi, disisi lain bisa kita melihat pesta kembang api yang tak sedikit jumlahnya dalam setiap momen tahun baru, bisa kita melihat ritual perayaan kebangkitan nasional yang tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk perayaan “kebangkitan hedonis-kapitalis” itu. Kerusakan sistemik, dan keterpurukan disegala system. Itulah yang terjadi di Indonesia hari ini. Beberapa fakta dan data barangkali dapat menjadi acuan untuk menguatkan argumen ini yang perlu kiranya untuk dijadikan bahan renungan bersama.

Yang pertama, masyarakat di negeri ini masih miskin dari sisi ekonomi, bahkan lebih celaka lagi banyak di antara mereka yang memiliki mental yang sangat memprihatinkan yaitu mental meminta, padahal memiliki potensi untuk bangkit dari kemiskinannya. Ini bisa dilihat berbagai program yang dilakukan pemerintah berujung pada kegagalan karena bantuan yang diberikan selalu dihalangkan ketika sudah diterima, bukan dimanfaatkan.

Yang kedua, Pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan bagi seluruh masyarakat tidak diimbangi dengan sistem penyelenggaraan pendidikan yang memadai sehingga hanya menghasilkan proses dan hasil pendidikan di sekolah yang bersifat formalitas, sekolah dimaknai sebagai bagian yang harus dilewati pada usia tertentu selama waktu tertentu dan harus selesai dengan “mengantongi” ijazah dengan tanpa mempertimbangkan apa yang terbaik harus didapat dari proses pendidikan di sekolah. Artinya menuntut ilmu tidak lagi dimaknai sebagai upaya untuk membesarkan jiwa, tetapai hanya berorientasi pada nilai belaka. Sekolah-Lulus-Ijazah-kerja. Paradigma inilah yang masih mewarnai pemikiran masyarakat Indonesia, sehingga kondisi ini melahirkan generasi robot, yang hanya berorientasikan pada materi, yang apabila dibandingkan dengan bangsa lain, rata-rata kualitas lulusan SMA di negeri ini tidak terlalu baik. Pun demikian dengan sistem – sistem yang ada didalam penndidikan itu sendiri yang kadang malah menjadi troublemaker kegagalan pelaksanaaan pendidikan Indonesia.

Yang ketiga, Masyarakat kita, secara umum masih banyak yang tidak memiliki budaya kompetitif, prosedural dan disiplin terhadap tata etika dan aturan formal kehidupan bernegara di negeri ini sehingga banyak melahirkan budaya kolusi, praktik suap menyuap dengan pejabat terkait. Seperti misalnya adalah sarjana sehari, ataupun gelar yang dapat dibeli, sehingga dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa masyarakat kita masih brjiwa instan, hanya baik dipermukaan, tetapi dalemannya keropos.

Keempat, Para pejabat di negeri ini yang memililki kewenangan banyak yang menyalahgunakannya, praktik KKN yang melegenda, bahkan Indoensia menempati peringkat 3 besar kasus korupsi terbanyak didunia (sumber : ICW 2009), dan seringkali pejabat kita tidak menganggap bahwa jabatan dan kewenangannya sebagai amanat dan memaknai bahwa dirinya adalah pelayan bagi masyarakat. Penyalahgunaan wewenang, Kolusi, Korupsi, Nepotisme menghiasi keseharian pemerintahan negeri ini. Slogan good governance pun hanya pemanis mulut saja untuk mengelabuhi rakyat.

Hari kamis ini, tanggal 20 Mei 2010, adalah  sebuah hari, dimana dahulu pernah ada cita – cita luhur tentang kebangkitan Indonesia, tetapi kita melihat sampai hari ini, Indonesia masih saja terpuruk, disegala bidang. Hari ini, beberapa pekerjaan rumah, untuk membangun kembali Indonesia menjadi keniscayaan yang harus segera –sangat mendesak– diselamatkan keberadaan Indonesia.  Yang menjadi pekerjaan kita tersebut antara lain adalah moral masyarakat dan pejabat, sistem pendidikan yang akan melahirkan generasi cerdas dan bermoral, tatanan kehidupan perekonomian dan sosial masyarakat, sistem pemerintahan yang bersih dan amanah, dan keterpurukan bangsa ini menjadi Bangsa yang Maju dan diperhitungkan. Salah satu yang kemudian perlu kita lakukan adalah membangkitkan semangat optimisme itu didalam diri kita, karena selama elemen bangsa ini masih memilki kesungguhan dan tekad masih terbuka lebar, semuanya akan terlampaui asal kemauan untuk terlibat itu diejawantahkan dalam kerja – kerja nyata. Setelah optimisme itu ada, maka kemungkinan yang kedua adalah membaca peluang titik-temu kompleksitas, keberagaman Indonesia. Melihat kembali mengapa kemudian titik temu ini menjadi aspek penentu kebangkitan, mari kita belajar kepada keluarga Medici, di Italia, yang merupakan keluarga banker yang mendanai proyek penyatuan berbagai disiplin gagasan yang melibatkan para ahli yang berbeda latar belakang keilmuannya. Ada pematung, ilmuwan, penyair, filsuf, ahli keuangan, pelukis, arsitek, semuanya berkumpul menjadi satu di Florence, Italia untuk membahas, saling belajar dan meruntuhkan pembatas – pembatas antara berbagai disiplin dan budaya, sehingga dari pluralitas itu akan menimbulkan ledakan gagasan – gagasan baru yang akhirnya memicu Renaissance di Italia (Sumber : The Medici Effect, Frans Johanssen, Jakarta, 2007). Lalu jika gagasan itu dibawa kedalam konteks Indonesia, maka ide titik temu memiliki peluang untuk berhasil. Pertama, kompleksitas yang dimiliki Indonesia dari suku, bangsa, adat, bahasa, dan budaya yang akan menghasilkan sebuah gagasan titik temu. Kedua, tentang kemajuan pesat IT yang menjadi factor penting kemajuan bangsa, sehingga antara keberagaman dengan IT akan terjadi sebuah persilangan yang massif.

Yang terakhir, yang perlu disampaikan adalah keyakinan bahwa dalam waktu dekat, Indonesia akan segera bertemu dengan kejayaannya, rakyatnya makmur sejahtera, negerinya dikagumi oleh dunia, dan setelah itu Indonesia akan memegang tongkat kepemimpinan global untuk waktu yang cukup panjang. Dan kita harus yakin akan kebangkitan menyeluruh itu. Yang kemudian kita siapkan adalah mempersiapkan Negara ini untuk bangkit. Seperti kata – kata penuh optimism yang diucapkan Rasulullah ketika mengayunkan kapak untuk membelah batu saat membuat parit di perang Khandaq, tentang keyakinan beliau untuk menakukkan Persia dan Romawi, dan semuanya pun terbukti. Maka yakinlah akan kebangkitan Indonesia yang sesungguhnya. Tidak lama lagi.

Iklan

One thought on “Refleksi hari kebangkitan nasional… antara ritual, optimisme, dan peluang

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s