Inspirasi dari Hud-hud


Saudaraku, barangkali tidak setiap waktu kemudian kita bertemu, bertatap muka, bahkan bisa berdiskusi dengan ikhwahfillah sekalian, namun setidaknya ada satu hal yang sering sekali kita lupakan, kata – kata hikmah penuh nasihat, seperti kata seorang al – akh kepada saudaranya sembari tersenyum lembut , “ khaifa haluuq ya akhi, bagaimana kabar iman antum hari ini?, “ atau barangkali kata – kata mendoakan dari seorang al ukh kepada saudaranya seraya memeluknya penuh kehangatan ukhuwah, “ukhti, hari ini antum nampak ceria, semoga keberkahan selalu menyartai langkahmu”. Ah, alangkah indahnya jika hari – hari kita, waktu – waktu kita, selalu dipenuhi dengan kata a- kata naseihat dari saudara – saudara kita. Dan semoga, sebuah catatan kecil ini, menginspirasi kita untuk tetap teguh, istiqomah, menebarkan aroma wewangian islam yang terbingkai dalam bunga – bunga dakwah. Hari ini sebuah inspirasi yang datang dari bebarapa ratus tahun lalu lamnya, ingin kugali kembali, lalu kubagikan, sebuah inspirasi tentang kecerdasan dalam menjalankan visi mulia kita, menyeru kepada kebaikan. Ya, dan inpirasi itu datang daris seekor burung, burung Hud-hud, yang kisahnya diabadikan —indah— dalam kata – kata mulia di Al-Qur’an yang mulia.

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.”Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (An-Naml:22-23)

Jangan kemudian kita maknai tindakan burung Hud – hud tersebut adalah sebuah pembangkangan dalam dakwah, tetapi harus kita maknai secara positif sebagai kecerdasan bertindak, artinya bahwa Burung Hu-hud tidak keluar dari tujuan jamaah dan sarananya, juga tidak melanggar prinsip-prinsip umum atau mengabaikan perintah lainnya yang lebih utama, tetapi kisah tersebut menunjukkan bahwa pada diri prajurit yang cerdas selalu sadar akan misi yang diemban, yaitu selalu menyebarkan kebaikan dimanapun, kemudian teliti dalam beramal dan semangat untuk menyadarkan sebuah kaum. Juga menunjukkan bahwa pada diri pemimpin terdapat sifat atau sikap kontrol, ketegasan pemimpin dan penyelesaian yang tidak serampangan. Sehingga kita bisa melihat kecerdasan dan kecemerlangan berfikir dan bertindak burung Hud-hud tersebut telah ia manfaatkan untuk mengambil kesempatan untuk mencari berita dan kabar suatu kaum (Saba) karena ia berkeinginan untuk menyampaikan risalah Islam kepada mereka, mengajak mereka kepada kebenaran Agama Allah, untuk mentauhidkan Allah diserta dengan tindakan yang bijak, full manfaat, full barokah, begitu kata Ustadz Yusuf Mansyur.

Dari kisah Hud-hud tersebut, beberapa ibrah dapat kita ambil dalam kita menapaki jalan mulia nan memuliakan ini :

  1. Bahwa seorang kader dakwahi harus mempunyai inisiatif dan melakukan perbuatan baik tanpa harus meninggu perintah.
  2. Pelajaran untuk para pemimpin juga dapat mengambil beberapa pelajaran yang dapat dicermati dan diperhatikan dari sikap dan respon Nabi Sulaiman terhadap kerja burung Hud-hud. Di antara pelajaran yang dapat kita ambil dari sikap Nabi Sulaiman a.s. terhadap pasukannya adalah:

a.Rasa kehilangan seorang pemimpin terhadap pengikutnya. Seorang mas-ul harus memperhatikan siapa yang tidak hadir dalam setiap pertemuan dan kegiatan. Karena perhatiannya terhadap kehadiran anggota/ binaannya merupakan bagian dari mas-uliyah yang harus diemban. Nabi Sulaiman a.s. mempertanyakan ketidakhadiran burung Hud-hud dalam pertemuan itu.

b.Sangat perhatian terhadap perkara. Seorang pemimpin harus memiliki ketegasan sikpa dalam mengambil keputusan, jika anggotanya salah, ia pantas dihukum

c. Muhasabah (evaluasi). Seorang mas-ul harus berinisiatif untuk mengevaluasi proses tarbiyah dan hasil perjalanan tarbiyah yang ia lakukan.

d. Klarifikasi Uzur. Mengklarifikasi alasan keuzuran anggota/binaan agar penyikapan dan perlakukan yang akan diambil lebih berdampak positif. Misalnya kalau ada anggota majelis syuro’ yang izin, ya sang pemimpin harus mempertanyakan uzur syar’i-nya.

3.Dengan kerja yang kelihatannya kecil, hanya sekadar mengetahui keadaan dan kondisi keagamaan suatu kaum, dapat menghasilkan prestasi besar, yaitu keislaman Ratu dan rakyatnya, tunduk untuk beribadah kepada Allah SWT bersama nabi Sulaiman a.s.

Beberapa ibrah yang dapat diambil sebagai hikmah dan inspirasi kita untuk terus bertindak diatas semoga semakin meneguhkan kita, aku, engkau untuk terus melalui keindahan jalan ini dengan akhir manis, semanis senyuman seorang mujahid Palestina yang syahid tertembus peluru Yahudi Laknatullah allaihi.  Semoga menginspirasi.

Teruntuk saudara tercinta seperjuangan, dikutip dengan  perubahan dari http://al-ikhwan.net, oleh : Dwi Purnawan (Ketua Biro HUmas KAMMI Solutif Unnes 1431 H)

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s