Komitmen untuk berkomitmen


saudaraku… pada kesempatan kali ini, kuingin menyapamu, mengetuk pintu rumahmu, lalu memberikan salam kehangatan, lalu menepuk bahumu, kemudian membelai lembut hatimu, dengan senyuman tertulus, dengan wajah penuh dengan keikhlasan, lalu pelan – pelan berkata, bercerita dan berbicara tentang  sebuah pengingatan untuk ku, untuk mu, dan untuk kita semua. tentang satu kata, satu kata yang kadang justru menjebak kita ke dalam ruang – ruang kehampaan hidup. kata yang sering kita ucapkan, kita sampaikan kepada saudara kita yang lain, namun kadang, bahkan seringkali kita tidak melakukan, melaksanakan kata yang telah kita ucapkan tersebut. Dan kata itu adalah komitmen. Dan ingin sekali aku  bercerita tentang kata itu. untuk saudaraku.

Komitmen, sebuah kata sederhana memang, mudah memang untuk mengucapkannya, mudah memang untuk mentransformasikan kata itu kepada saudara kita yang lainnya dalam bentuk nasihat, tetapi yang sulit, bahkan yang paling sulit adalah melakukan dengan penuh komitmen apa yang menjadi komitmen kita. Komitmen, secara maknawiyah berarti adalah ketika kita mau memberikan waktu dan energi kita untuk sesuatu yang kita yakini, atau sebuah janji, atau sebuah keputusan bulat untuk melakukan sesuatu. Jadi dapat diambil dua buah poin ketika kita berbicara komitmen. Energi dan waktu. Ya, dua hal itulah yang sebenarnya menjadi poin utama dari sebuah komitmen. Maka ketika kita telah mempunyai sebuah komitmen yang kuat terhadap sesuatu, yang harus kita perhatikan adalah, sudahkah kita memiliki energi yang cukup, dan waktu yang banyak untuk melakukan komitmen kita?, sehingga rumus utama ketika kita menginginkan dapat menjalankan komitmen apapun itu, dengan baik, adalah dengan merekayasa waktu, dan tentu dengan mengumpulkan energi yang banyak pula. Maka ketika dua hal tersebut dapat bersinergi dengan baik, maka tentu kita akan mampu menjalankan komitmen kita dengan baik. Dan tentu yang seharusnya kita lakukan, ketika kita ingin sukses menjalankan komitmen, adalah dengan menghilangkan aura-aura negatif yang justru akan menghambat kerja-kerja kita sebgai bagian dari pemenuhan komitmen kita. Karena secara logika, ketika ada ion positif, lalu dikelilingi oleh ion – ion negatif, maka lama –kelamaan ion positif itu akan mempengaruhi, sehingga kemungkinan untuk melunturkan komitmen itu lebih banyak. Setidaknya ada beberapa hal, yang perlu kiranya saya sampaikan kepada saudara sekalian, dalam rangka untuk saling mengingatkan, agar kedepan, mimpi-mimpi besar kita, kerja –kerja besar kita, tidak terhambat oleh lunturnya komitmen dalam diri kita.

Mempunyai kemauan yang kuat

Kadang, dalam melaksanakan sebuah kerja besar, seringkali kita tidak dibarengi dengan kemauan yang kuat dalam mensukseskan agenda tersebut, sehingga tingkat militansi dan tanggung jawab yang kita miliki masih lemah, bahkan tidak ada. Sehingga efeknya adalah, kinerja-kinerja kita hanya sebuah kinerja yang stagnan, tanpa arahan yang jelas, tanpa visi dan tujuan yang jelas, sehingga gerak-gerak kita menjadi gerakan murahan. Dan ketika dihadapkan pada sebuah cita-cita, maka cita cita saat ini sudah sangat jelas, sebuah obsesi keimanan bertujuan menghaarap ridho Illahi. Dan kemauan yang kuat ini perlu kekuatan intuisi dan ketajaman mata hati untuk melaksanakannya. Bercita-cita tinggilah, tetapi cita-cita tinggi tersebut harus dibarengai dengan kemauan yang kuat dengan kinerja-kinerja yang besar untuk mencapai cita-cita tersebut.

Rajin dan tekun untuk terus bergerak

Ingatkah engaku kepada Rasulullah, yang walaupun beliau dicerca, dimaki, dimusuhi sana-sini, tetapi beliau tetap tekun untuk berdakwah, mengajak dengan penuh perhatian, dan akhirnya, dakwah rasulullah pun sukses besar. Dan sepertinya itu harus menjadi sebuah inspirasi bagi kita, bahwa ketika kita komitmen dengan perjuangan yang kita yakini, pelan – pelan menyirami, memupuk dengan telaten, menyiangi rumput-rumput liar, lalu memeriksa rutin setiap pagi, maka yang akan kita dapatkan adalah panen besar, buah dari perhatian kita, buah dari ketekunan kita, buah dari perjuangan kita.

Mengerahkan potensi maksimal dan optimal

Bahwa setiap kita pasti memiliki potensi yang sangat membantu untuk mencapai cita-cita tinggi kita. Dan yang perlu kita lakukan adalah melihat potensi besar itu, lalu mengolahnya, untuk menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat, untuk mencapai komitmen kita, yang mampu mengalirkan nilai-nilai positif kedalam lingkungan, maka itu adalah potensi terbesar kita. Mengoptimalkan potensi menjadi penting karena kumpulan dari potensi – potensi terbaik itu, ketika disatukan, akan menjadi sebuah kekuatan dahsyat, dalam rangka merealisasikan cita dan tujuan kebaikan kita.

Senantiasa mengisi energi yang hilang

Komitmen itu akan kuntur ketika energi dalam diri kita habis, atau hilang. Maka perlu untuk senantiasa menjaga, dan salalu mengisi enrgi kita agar tetap ada, untuk memperbarui komitmen kita. Energi jiwa, perlu kita isi dengan kekuatan spiritual, dengan terminal pemberhentian, dengan menjaga ruhiyah kita. Energi fisik, menjadi sangat penting untuk menopang tubuh kita dalam rangka menjalankan komitmen kita. Dan energi tersebut harus kita isi dan dijaga secara terus –menerus dan berkesinambungan.

Dari keempat hal tersebut, ketika kita mampu menerapkan kedalam diri kita, maka yang akan kita dapatkan adalah pribadi-pribadi berkarakter, mempunyai dedikasi dan komitmen yang tinggi. Dan yakinlah, engkau bisa melakukannya, saudaraku. Semoga menginspirasi.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s