Regenerasi, sebentar lagi


Menarik sekali ketika mengingat sebuah kisah dihari Ahad pagi disebuah tempat yang menginspirasi untuk membuat tulisan ini. Hari Ahad (07/03), kurang lebih pukul 03.30- 04.30 WIB di sebuah Masjid di Ungaran, Masjid Istiqomah, ada kegairahan luar biasa dari Masjid tua di Kabupaten Ungaran itu.  Nuansa sejuk khas Ungaran mendesir masuk melalui celah – celah jendela Masjid tua itu sambil sesekali suara ayam pun berkokok menandakan pagi telah datang dengan segala harapan baru. Nampak gunung Ungaran yang kelihatan dari jendela Masjid sebentar lagi akan menawarkan sejuta keindahan pagi. Namun bukan itu yang menginspirasi untuk membuat tulisan ini. Ada kegairahan baru, ada nuansa kesemangatan, ada nuansa berbeda dibalik bangunan dengan dinding – dinding yang kokoh ini. Kegairahan tersebut ditimbulkan tak lain dan tak bukan adalah  ada beberapa pemuda yang nampaknya masih usia 20-an tahun begitu bersemangat dalam sebuah barisan yang rapi, dimana tumit – tumitnya saling menyentuh satu sama lain. Nuansa kekhusyukan, sambil sesekali menangis penuh harap, diiringi dinginnya udara pagi Nampak menimbulkan nuansa berbeda di Masjid itu. Sementara disisi lain beberapa orang tua masik asyik terlelap dalam tidur malamnya. Lalu kisahpun berlanjut ketika Adzan Shubuh berkumandang membangunkan seluruh insan yang masih terlelap dalam buaian tidur malam. Berduyun – duyun jama’ah Shubuh pun menghadiri agenda jama’ah Shubuh di Masjid tua itu. Dan nampak beberapa jama’ah, yang rata – rata sudah usia lanjut semakin banyak berdatangan , dan dimulailah shalat Shubuh berjama’ah yang dipimpin oleh imam yang nampaknya juga sudah bau tanah. Masjid yang biasanya ketika waktu Shalat Shubuh ini hanya diisi oleh beberapa saff saja, dan kesemuanya adalah orang – orang tua dan shaff – shaffnya pun kadang masih renggang sehingga seakan – akan menimbulkan kesan hampa, hari itu tampak berbeda dari biasanya, ada nuansa kegairahan untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT. Nampak pagi itu berbeda sekali. Selain banyaknya jamaah yang hadir, mayoritas dari jamaah itu juga pemuda, dan Nampak terlihat tumit – tumitnya pun saling bersentuhan sehingga tidak memungkinkan bagi sang terlaknat untuk mengacaukan suasan pagi itu. Tetapi bukan orang tuanya, bukan masjidnya, bukan pula soal keutamaan Shalat Shubuhnya yang ingin kubicarakan pada kesempatan kali ini. Lebih dari itu, tentang hakikat sebuah kata. Tentang pembaharuan, tentang perbaikan, tentang pergantian. Dan kata itu terangkum dalam sebuah kata. Regenerasi. Regenerasi pemimpin kita. Mengapa kita perlu untuk meregenerasi?

Regenerasi menurut pemaknaannya secara ilmiah biologi adalah penggantian alat yang rusak atau hilang dengan pembentukan jaringan sel baru. Atau menurut pemaknaan lain adalah pembaruan semangat dan tata susila. Tetapi yang lebih cocok pemaknaan kata regenerasi dengan sekelimut kisah diatas adalah penggantian generasi tua kepada generasi muda, atau bisa juga disebut peremajaan generasi. Seperti kita ketahui bersama, sepertinya yang menjadi sedikit permasalahan selama ini, khususnya di era kepemimpinan sekarang, adalah krisis kepemimpinan muda. Padahal seperti kita ketahui, bahwa kebangkitan bangsa ini diawali oleh pemuda, dan sudah selayaknya generasi muda kita menggantikan generasi tua, alias regenerasi, dimana sudah selayaknya para anak – anak muda tampil kedepan, menggantikan generasi tua yang sepertinya sudah mulai lamban, baik dalam pola pikirnya, ataupun kinerja – kinerja nyata dilapangan yang justru kadang dengan gerak lamban itu akan menimbulkan masalah – masalah baru. Mari kita analogikan bahwa negara ini ibarat sebuah masjid seperti kisah diatas. Ketika kita lihat bahwa yang datang ke masjid hanyalah orang – orang tua saja, lalu imamnya juga sudah tua, maka kita bisa melihat masjid itu terlihat sayu, tidak ada kegairahan, tidak ada akselerasi, yang ada hanyalah kehampaan dan sikap otoriter yang kadang ditunjukkan oleh sang imam. Inilah yang kadang membuat masjid – masjid konvensional di kampung – kampung dan pelosok kota menjadi tidak mempunyai daya tarik yang baik bagi ummat. Begitu juga dengan negara ini. Ketika pemimpin kita masih saja diwarnai dan dikuasai oleh para incumbent, yang kinerjanya sama saja, maka Indonesia akan berada dalam stagnansi yang terus menerus. Maka dari itu perlu adanya regenrasi kepemimpinan nasional. Yaitu mereka yang  masih segar, produktif, profesional dan yang masih terbuka untuk berbagai macam pematangan (pembelajaran). Karena seni memimpin sambil belajar adalah buah dari ide kreatif untuk menghasilkan pemimpin yang tangguh di masa depan. Bangsa ini membutuhkan generasi baru untuk melanjutkan kepemimpinan nasional. Dan kejadian seperti ini seyogyanya berlangsung secara sadar dan tertata. Dan tentu sudah saatnya, regenerasi itu mutlak dharus dilakukan ketika kita masih menginginkan Bangsa ini akan terus maju.

Tentu sudah kita ketahui bersama, bahwa cermin baik buruknya wajah republik ini berasal dari perilaku para pemimpinnya. Para pemimpin yang sekarang menajdi penentu kebijakan bangsa sepertinya belum memiliki pola tingkah laku, pola pikir dan niat untuk sungguh-sungguh mau menunjukkan sikap ksatria, jujur dan idealis, dan pro rakyat. Kebanyakan orang masih berkata dirinya pemimpin, namun berlaku seperti seorang pemimpi. Kaya kata, namun miskin aksi. Banyak wejangan, tapi tanpa kinerja nyata. Oleh karena itu regenerasi kepemimpinan sangat perlu dan harus ada untuk mencari pemimpin – pemimpin baru yang komitmen untuk membela kepentingan rakyat. Imam baru, yaitu pemimpin yang berkarakter, sangat dibutuhkan oleh bangsa ini, baik secara formal maupun informal. Dan sepertinya, ketika kita amati belakangan ini, dan kedepan, regenerasi kepemimpinan, menuju kepemimpinan nasional yang berkarakter dan mempunyai dedikasi untuk mensejahterakan bangsa, sebentar lagi akan terjadi. Karena itu adalah sebuah keniscayaan. Seperti halnya masjid, yang hampa tanpa anak – anak muda yang menangis disepertiga malam terakhir sambil mendo’akan kedua orang tua, kawan-kawan, dan seluruh ummat, maka bangsa kita juga akan sepi tanpa kiprah anak – anak muda yang dengan keteguhan prinsip dan komitmennya untuk memperbaiki bangsanya. Bukan anak – anak muda yang ketika diawal sangat idealis, tetapi ketika mereka memasuki arena pemegang kebijakan, semangat idealis itu menjadi luntur. Dan kita, aku, engaku tidak menginginkan itu terjadi pada diri kita.

Dwi Purnawan (Ketua Biro Humas KAMMI Solutif Unnes 1431 H)

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s