Diri, engkau hampa tanpa pena


Senin (1/3), diawal bulan ini… ada satu kegundahan, kehampaan yang menghiasai hari –hari ini. Ya, diri ini hampa sekali. Terhitung sejak 31 januari yang lalu, sampai saat ini, kurang lebih 1 bulan lamanya, goresan – goresan pena itu, yang setiap waktu selalu kutuliskan, dan kubagikan kepada sahabat – sahabat tercinta, seperti hilang, dan lenyap dari diriku. Ada apa dengan aku ini? Mengapa menjadi begini? Mengapa aku berhenti menulis? Ketika pertanyaan ini kuberikan kepada kakiku, kakiku menjawab, mungkin engkau terlalu sibuk, sehingga tidak sempat menggoreskan pena – pena yang tajam itu. Sibukkah aku? Bukankah seorang Anis Matta, disela – sela kesibukannya, masih menyempatkan diri untuk menulis?Ah, tidak, aku masih belum puas dengan jawaban itu. Satu bulan. 29 hari. 696 jam. 41760 menit lamanya aku, dan penaku, berhenti berjalan, dan layu. Lalu kutanya sang hati, lalu hatipun menjawab, mungkin karena kamu banyak dosa. Ya, banyak dosa, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi kehampaan ini. Dan rasanya akupun menjadi malu pada diriku sendiri. Malu kepada beliau, Syaikh Umar Tilmisani, yang walaupun dipenjara selama 20 tahun, masih saja memberikan karya – karya buku terbaiknya. Yang walaupun tempatnya adalah penjara, bukan menjadi halangan untuk terus memberikan kebermanfaatan ummat dengan penanya. Aku malu kepada Said Qutb, seorang ulama besar, yang menghabiskan waktunya karena cinta dengan pena dan dakwah, yang walaupun dipenjara, beliau tetap menulis, bahkan dengan darahnya sekalipun. Dan aku? Bukankah hari ini tidak ada lagi penjara – penjara berkarat, yang ada hanyalah fasilitas –fasilitas yang modern, ada tempat kos yang kondusif, layar ajaib berupa komputer dan laptop, apalagi? Mengapa masih saja diri ini malas, malas, dan malas untuk menulis, menggoreskan kebaikan dengan pena? Ah, diri ini menjadi semakin malu, malu kepada orang – orang yang benar – benar sibuk, tetapi mereka masih saja menghasilkan karya – karya besar dalam bentuk buku. Lalu aku?

Dan jika engaku ketahui, wahai diri, bahwa kemenangan ini, hanya akan diraih dengan perencanaan yang matang,  danperencanaan itu selalu diawali dengan kalimat – kalimat indah dakwah, dan kalimat – kalimat indah itu terangkai dari kata – kata yang indah pula, dan kata – kata indah itu selalu diawali dengan tulisan. Lalu mengapa engkau masih malas juga untuk menulis? Bukankah Allah Azza Wa Jalla mengajarkan kepada kita, aku, dan engkau, wahai diri, tentang pena yang mampu merubah segalanya, tentang takdir, tent5ang semut – semut yang berbaris rapi, tentang masa depan, tentang mati, tentang kiamat, yang semuanya telah terangkum indah, dengan pena Allah, didalam Lauhil Mahfudz.

Ah, jika engkau ketahui, wahai diri, hari ini, waktu ini, begitu banyak teknologi yang berkembang pesat, yang memungkinkan manusia untuk berbuat dua hal dalam hidup ini. Berbuat baik dengan teknologi, atau berbuat jahat dengan teknologi. Dan kitapun, aku, engkau bisa melihat sendiri, betapa maraknya teknologi, dunia maya yang dimanfaatkan untuk merusak moral dengan kemaksiatan, merusak pemikiran dengan karya –karya penuh dengan fikrah kaum jahiliyah. Lalu dimana dirimu wahai diri? Bukankah engkau adalah aktivis dakwah? Yang katanya menyeru kepada kebaikan, lalu mencegah kepada kemungkaran? Lalu mengapa hari ini masih kita melihat, begitu banyak fikrah – fikrah negatif jahiliyah itu dengan leluasa mengobok – obok pemikiran generasi muda lewat dunia internet?  Mengapa engkau diam saja wahai diri, melihat itu semua terjadi di dunia modern dengan teknologi serba canggih seperti saat ini? Yang seharusnya lebih mudah bagi kita untuk berdakwah. Mana sentuhan – sentuhan pena ajaibmu untuk membuat dunia maya ini penuh dengan nilai – nilai dakwah?

Ah, aku jadi malu pada diriku sendiri. Hari ini begitu banyak kejahiliyahan terjadi melalui fikrah – fikrah sesat lewat tulisan, lewat goresan pena, di dunia maya, dan untuk mengimbangi dan mengalahkan semua itu, tidak ada kata lain, kecuali dengan menulis dengan kalimat – kalimat indah Al-Qur’an, yang kan menyejukkan para pembacanya, dan goresan – goresan tinta yang penuh dengan nilai – nilai dakwah yang kan membuat perjalanan ini kian mulia. Maka wahai diri, lepaskanlah, buang jauh – jauh baju kemalasan itu dari dirimu, lalu ambil pena yang tergolek lemas didalam peti hatimu, lalu sambung kembali pena yang patah itu, dan tulislah. Tulislah dengan bahasa – bahas indah Al-Qur’an. Tulislah kata – kata yang berserakan itu, dan rangkai dengan kalimat yang indah, yang pernah diajarkan Rasulullah, yaitu kalimat – kalimat dakwah. Dan tulislah, dengan pena- pena harapan. Maka wahai diri, engkau tidak akan hampa lagi.

Dwi Purnawan (Ketua Biro Humas KAMMI Komisariat Unnes)

Penulis lepas yang mencoba menjadi penulis sejati

Iklan

2 thoughts on “Diri, engkau hampa tanpa pena

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s