Tentang istana dakwah dan kekuatan harap


Pagi itu (18/01), sungguh hati ini merasa tenteram, sekaligus gundah, ketika sedang duduk, termenung, sambil sesekali  merasakan sejuknya udara pagi di kampus  tercinta. Tenteram karena sejak kurang lebih 10 menit lamanya hati ini terhibur oleh keindahan kalam illahi yang baru selesai kuarungi keindahannya, namun disisi lain, hati ini masih merasa gundah. Entah mengapa, ketika melihat tempat yang sedang kutempati, yang sering disebut oleh teman – teman dengan istana dakwah ini, hati ini begitu risau, karena ketika kupandang, nampak istana dakwah yang walaupun sudah dicat itu masih saja kelihatan layu. Burung – burung yang nampak malu untuk berkicau, ditambah dengan angin – angin pagi yang juga sepertinya malas untuk memberikan kesejukannya kepada dunia, dan nampak juga di ufuk timur, sang matahari juga enggan untuk memberikan penerangan kepada seluruh alam, menambah risau suasana hati ini.

Ada sebuah kenangan tersisa di sudut hatiku ketika melihat tempat itu, ya kenangan manis bersama  para pendahulu dijalan ini. Kembali mataku menerawang jauh, jauh sekali, meninggalkan pagi itu, bersama kenangan – kenanganku, kembali ke awal aku menginjakkan kaki disini, kurang lebih 3 tahun yang lalu. Juga ditempat yang sekarang kutempati, nampak begitu bergairah, bergairah dengan gelora semangat untuk menyeru. Terbayang para massayid – massayid begitu semangatnya untuk melaksanakan agenda rutin para penyeru, musyawarah atau sering disebut dengan syuro, yang disebut juga adalah dapurnya dakwah, untuk menyukseskan agenda yang diberkahi Allah ini. Dengan berjalan kaki mereka mendatangi tempat itu, yang berjalan agak tergesa karena mengejar waktu yang sudah disepakati bersama, kedisiplinan waktu, namun tak tampak kelelahan diwajahnya, yang nampak adalah mata – mata penuh optimisme. Ya, waktu itu, pagi itu, 3 tahun yang lalu, ditempat itu, yang ada ketika musyawarah adalah kekuatan azzam, iltizam, ghiroh, yang berpadu dengan aura – aura kemenangan yang hanya ingin dipersembahkan untuk dakwah yang mulia ini. Dan tempat yang kini kutempati, walaupun ketika itu cat – cat masih terkelupas, pun kadang atap – atap mushola pun bocor, namun tidak menyurutkan langkah para massayid untuk menyeru. Mereka tahu saat itu jumlah mereka sedikit, hanya beberapa, tak sebanding dengan jumlah mahasiswa keseluruhan. Bahkan ketika syuro pun, yang ada hanya 2 ikhwan, 1 akhwat, sehingga yang memimpin syuro pun kadang harus dobel  job memberikan taujih.Namun, mereka yakin, bahwa kemenangan dakwah tidak ditentukan oleh banyak sedikitnya penggerak, tetapi yang mereka yakini adalah, kemenangan itu ditentukan oleh kekuasaan Allah, dan keyakinan mereka terbukti menjadi kenyataan. Ladang – ladang dakwah yang mereka tanami, dan dengan ketekunannya disirami, dipupuk, dan dirawat dengan baik, hari ini tanaman – tanaman itu siap dipanen. Dan itu merupakan hasil dari kekuatan tekad dari para massayid yang dengan kekuatan tekad, aura kesemangatan, kekuatan tarbiyah dzatiyah, berpadu dengan kesemangatan yang luar biasa, sehingga akupun bisa melihat hasil jerih payah mereka. Dan tentu yang paling membuatku terkenang akan masa itu, tempat ini begitu nampak bergelora, walaupun catnya banyak yang mengelupas, walaupun lampu neon yang ada didalam tempat itu kadang hidup, kadang mati, namun aku melihat ada kesejukan yang sejuknya melebihi ketika berada diruang ber-AC, aku melihat kehangatan, yang hangatnya melebihi tempat terhangat sekalipun.

Ah, aku menjadi rindu masa itu, masa dimana yang ada hanyalah kesemangatan, kekuatan ukhuwwah, kekuatan tekad yang membaja, kekuatan amal, produktivitas yang tinggi yang diberikan oleh para penyeru kebaikan dikala itu. Dan tempat ini, mushola ini, istana dakwah ini menjadi saksi bisu, tentan cita – cita suci para pendahulu dakwah, menjadi saksi tentang perjuangan, menjadi saksi tentang komitmen, tentang ukhuwah. Dan tempat kecil ini, telah menjadi saksi, betapa hati mereka telah terkumpul menjadi satu dalam kekuatan cinta dan ukhuwwah, menjadi saksi ketika saff – saffnya sangat lurus, dan tumit- tumitnya saling menyentuh sehingga tak ada cela sedikitpun bagi sang terlaknat untuk masuk dan mengganggu mereka. Mirip. Mirip sekali dengan kondisi kaum Muhajirin dan Anshar di zaman Rasulullah. Namun tidak sampai tuker – tukeran istri. Karena memang belum menikah.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati – hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada – Mu, bertemu untuk taat kepada – Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadi-kanlah kasih sayangnya, tunjukkan jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup , lapangkanlah dadanya dengan limpahan dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid dijalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik – baik pelindung dan sebaik – baik penolong. Amin.

Fuhh…. ketika membayangkan masa itu, hanya penuh dengan kenangan – kenangan indah, bersama para khaira ummatin. Namun itu hanya sebuah sejarah masa lalu, yang telah tertutup oleh debu – debu kenangan yang semakin lama semakin menumpuk, dan hampir saja menutupu bebatuan sejarah itu. Dan akupun menjadi teringat akan kata – kata indah dalam Al-Qur’an

Perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu (QS. Al-Hasyr (59) : 18)

Kenangan – kenangan itu, sejarah – sejarah itu, tentang kekuatan tekad untuk mempersembahkan yang terbaik bagi islam, menjadi sebuah keinginan yang bebalut kerinduan yang mendalam dihatiku tentang masa itu. Ya, hati ini rindu sekali, akan kata – kata penuh semangat yang senantiasa dilontarkan para massayid dalam setiap taujihnya, sehingga memotivasi yang lainnya untuk bersemangat dalam dakwah ini. Hati ini rindu akan mata – mata optimisme yang ditunjukkan oleh para jundi yang berbalut langkah – langkah konkrit sehingga memunculkan sebuah energi, energi kemenangan. Sungguh, hati ini merasa rindu, rindu sekali, akan komitmen yang ditunjukkan oleh para penggerak jalan ini, komitmen tentang indibath, komitmen tentang azzam, yang senantiasa ditepati sehingga itu menjadi kekuatan pendukung sehingga dakwah ini menjadi berkah.

Ada kerinduan yang mendalam, tentu ada pula yang menjadi penyebabnya. Ya, banyak sekali penyebabnya. Karena hari ini ini, sungguh aku melihat seakan – akan kondisi yang sangat berbeda daripada masa – masa indah itu. Kekuatan ukhuwwah, yang menjadi salah satu penopang bagi kekuatan dakwah, seperti hilang, berganti dengan egoisme, kesendirian, sehingga kadang, seperti apa yang pernah diungkapkan salah satu sahabat, adanya ukhuwwah semu. Pun demikian dengan hal – hal kecil yang kadang masih menjadi masalah bagi kita, tentang komitmen kita, terhadap hal – hal kecil namun berakibat besar bagi keberkahan jalan ini. Indibath, ya indibath. Kedisplinan, disiplin dengan komitmen kita. Sebuah contoh kecil, masalah waktu, yang ketika bersepakat dimulai syuro pukul 06.00, ya seharusnya kita tepati komitmen itu. Pun demikian dengan banyak hal – hal lain, seperti kekuatan tekad kita, yang seakan – akan jalan ini hanyalah sebuah rutinitas, yang kadang membuat kita lelah, capek, dan sebagainya. Sehingga ketika kita menganggap bahwa jalan menyeru ini hanyalah sebuah rutinitas, maka amalan kita akan sia – sia juga. Sehingga bisa jadi banyaknya orang yang berguguran dijalan ini, karena menganggap jalan ini hanya sebuah rutinitas belaka. Dan bisa kita saksikan saat ini. Agenda – agenda menyeru seakan tanpa ruh, sehingga yang menjadi ketakutan, keberkahan ini pun menjadi hilang.

Ah, tidak akan kuuraikan semua masalah – masalah itu, karena hanya akan memancarkan energi negatif saja. Yang ada sekarang hanyalah sebuah asa, harapan, kepada generasi pelanjut dari jalan ini, kepada adik – adikku tercinta, para pewaris negeri, untuk mengoptimalkan segenap potensi yang dimiliki, dengan kekuatan komitmen, ruhiyah, ukhuwwah, kekuatan semangat yang berkobar, tentunya dengan satu tujuan, kemenangan islam. Dan tentunya harapan itu tentu menjadi sebuah keyakinan untuk menatap jalan ini menjadi lebih baik. Dan yang lebih penting, ku ingin melihat tempat ini, tempat yang menjadi tempat suci bagi seluruh ummat islam dikampus, yang menjadi sebuah markas besar tempat merencanakan kemenangan dakwah, tidak layu lagi, tidak lesu lagi, tidak kering lagi. Yang ada ditempat ini adalah cahaya – cahaya kemenangan, yang entah kapan cahaya itu akan hadir. Tentu sebuah kalimat yang semoga memotivasi antum semua, jangan hanya pandai menebar wacana, tetapi pandailah dalam kinerja. Semoga menginspirasi.

Ditulis dengan kekuatan harap kepada adik – adik, generasi pelanjut dakwah di FIK

Di pojok kamar 4, Ahad, 31 Januari 2010, menjelang Isya’

Di Rumah Prestasi Ammar Bin Yasir, Pesantren Basmala Indonesia

Oleh Dwi Purnawan

(Ketua Umum KARISMA 1430 H,

saat ini aktif sebagai Humas KAMMI Komisariat Unnes,

juga sebagai penulis lepas di blog pribadi)

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s