Bonek, sebuah Fenomena sosial


Bonek, atau disebut juga Bondo Nekat, kembali berbuat ulah dengan keberingasannya. Pengrusakan, tawuran, dan anarkisme seakan tak pernah hilang dari sekelompok suporter dari Surabaya ini. Sejak seminggu kemarin sampai sekarang, kita diperlihatkan kembali tentang ulah anarkis para bonek, mulai dari pengrusakan bus Arema saat Persebaya melawan Arema Indonesia, kemudian berlanjut ketika ratusan bonek yang mendukung Persebaya ketika menghadapi Persib yang juga membuat ulah, baik sepanjang perjalanan maupun ketika berada di Stadion. Kita bisa melihat ratusan suporter bonek menduduki Stadion Karawang, kandang Pelita Jaya dan saling lempar dengan suporter tuan rumah. Pun demikian ketika para bonek ini melakukan aksi anarkis sampai seorang wartawan Koran doi Solo pun terkena imbas anarkisme bonek. Lalu ketika ditotal, jumlah kerugian akibat pengrusakan Bonek dari PT KA mencapai 1 miliar rupiah (sumber : kompas edisi 25/01), sedangkan dari panitia pelaksana pertandingan di beberapa pertandingan yang diikuti Bonek mencapai 105 juta rupiah. Kita pun tentu masih ingat aksi – aksi beringas para bonek sebelum ini. Seperti pada tiga tahun lalu, ketika ribuan bonek turun ke lapangan Gelora 10 November dan mengamuk, membakar dan merusak fasilitas stadion Gelora 10 November saat itu ketika Timnya, Persebaya dikalahkan Arema Malang. Dan itu baru sedikit dari catatan – catatan negatif dari Bonek ini yang menghiasi perhelatan Liga sepakbola di Indonesia. Beberapa peristiwa kekacauan yang disebabkan para bonek ini antara lain adalah kerusuhan pada pertandingan Copa Dji Sam Soe antara Persebaya Surabaya melawan Arema Malang pada 4 September 2006 di Stadion 10 November, Tambaksari, Surabaya. Selain menghancurkan kaca-kaca di dalam stadion, para pendukung Persebaya ini juga membakar sejumlah mobil yang berada di luar stadion antara lain mobil stasiun televisi swasta, mobil milik Telkom, sebuah mobil milik TNI Angkatan Laut, sebuah ambulans dan sebuah mobil umum. Sementara puluhan mobil lainnya rusak berat. Atas kejadian ini Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan hukuman (sebelum banding) dilarang bertanding di Jawa Timur selama setahun kepada Persebaya, kemudian larangan memasuki stadion manapun di seluruh Indonesia kepada para bonek selama tiga tahun.Ulah anarkis Bonek tersebut tentu memicu reaksi beberapa kalangan masyarakat. Di Solo misalnya, sekelompok warga melempari kereta yang mengangkut Bonek dari Bandung ke Surabaya, dan masih banyak lagi aksi reaktif yang timbul akibat ulah para bonek ini. Yang menjadi sebuah pertanyaan bagi kita bersama, sebenarnya apa itu bonek? Siapakah para bonek yang anarkis ini? Mengapa sampai sedemikian menimbulkan kontroversi di berbagai kalangan?

Bonek, atau disebut bondo nekat merupakan sekumpulan suporter fanatik kesebelasan Persebaya Surabaya. Saking fanatiknya, kemanapun Persebaya bertanding, bonek selalu setia untuk menemani Tim kesayangannya tersebut. Tak peduli tidak mempunyai uang, dan harus mendapatkan kursi di atap – atap kereta, dan bahkan jiwa pun menjadi taruhannya, yang penting bisa menemani Persebaya bertanding. Sebenarnya, Suporter Bonek yang dibentuk pada tahun 1988, tujuan awalnya adalah mewarisi semangat perjuangan arek – arek Suroboyo ketika mengusir penjajah pada November 1945. Seperti kita ketahui bersama, dengan begitu heroiknya arek – arek suroboyo ketika itu dengan semangatnya mampu mengalahkan penjajah Belanda di Surabaya. Walupun Surabaya menjadi membara, dan jiwa pun menjadi taruhan, yang utama adalah membebaskan tanah Surabaya dari para penjajah Belanda. Itulah filosofi awal dibentuknya Bonek oleh Yayasan Suporter Surabaya yaitu untuk menerapi jiwa semangat arek – arek suroboyo untuk membela Surabaya, yang dalam konteks ini adalah Persebaya Surabaya. Sebuah tujuan yang mulia memang, namun seiring perjalanan waktu, ternyata tujuan itu tak sesuai dengan tujuan awalnya, bahkan cenderung berbelok bahkan berbalik 360 derajat. Kalau boleh dibandingkan, bonek di Indonesia hampir sama dengan suporter garis keras Inggris, hooligans. Hooligans adalah supporter garis keras Inggris yang aksinya hampir sama dengan bonek, selalu diwarnai dengan Anarkisme dan Brutalisme.  Tetapi akhir – akhir ini nama hooligans dan aksinya sudah jarang muncul kepermukaan. Dan tentu itu adalah sebuah kemajuan bagi sepakbola Inggris. Tetapi mengapa bonek belum jera dengan aksi  anarkismenya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bonek?

Tawuran, pengrusakan, kata – kata kasar seakan sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan dari dada para bonek ini. Memang, dulu arek – arek suroboyo juga melakukan aksi pengrusakan ketika melawan penjajah belanda, tetapi itu  adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan untuk mengusir penjajah. Lalu, saat ini arek – aerk suroboyo yang tergabung dalam bonek sering melakukan aksi anarkisme, dan itu harus dibedakan. Konteksnya sudah berbeda. Tidak ada lagi penjajah belanda, tetapi yang ada adalah milik kita, masyarakat dan Negara Indonesia. Ketika kita korelasikan antara anarkisme bonek dengan Sepakbola kita, justru tentunya akan memperburuk citra Sepakbola Indonesia, justru semakin akan menenggelamkan prestise Sepakbola Indonesia. Dan tentu itu akan menambah kelam persepakbolaan kita yang secara prestasi juga tidak bisa kita banggakan.

Namun, bonek adalah bonek. Bonek adalah salah satu fenomena sosial masyarakat Indonesia. Dengan ciri khasnya, anarkis, brutal, dan nekat akan selalu menghiasi Sepakbola  Indonesia. Bonek, yang rata – rata adalah golongan kaum menengah kebawah masyarakat Surabaya yang hanya bermodalkan nekat ketika harus mendukung timnya kemanapun perginya memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari persepakbolaan kita. Dan fenomena sosial berupa bonek ini nampaknya memerlukan penanganan serius, bertahap dan tepat sasaran guna memberikan solusi yang solutif bagi perkembangan persepakbolaan nasional. Sulit memang menghilangkan citra anarkis para bonek di pentas persepakbolaan nasional, bahkan salah satu teman di jejaring facebook sempat memberikan coment : “ nek ora tawur jenenge yo dudu bonek” (kalau tidak berkelahi namanya ya bukan bonek). Dan itulah bonek dengan segala fenomenanya yang menggemparkan. Dan nampaknya untuk menyelesaikan masalah ini, harus diselesaikan dari semua pihak terkait. PSSI, YSS, masyarakat, Pemerintah dan para bonek harus duduk bersama untuk membahas masalah ini. Bukan kemudian hanya membentuk pansus saja yang bahkan pansus itu malah bertengkar sendiri, tetapi membutuhkan terapi bertahap dan tepat sasaran yang tentunya tujuannya adalah untuk membuat persepakbolaan Indonesia menjadi lebih baik. Bonek yang memang secara latar belakang strata sosial berasal dari golongan menengah kebawah (kaum marginal) yang secara ekonomi rata – rata dibawah standar memang menjadi sebuah kewajaran ketika kondisi psikologisnya menjadi seperti itu. Mudah marah, emosional, penuh dengan semangat, gotong royong, dan memiliki semangat kebersamaan yang sangat tinggi telah menjadi ciri khas yang ada dalam pribadi – pribadi kaum marginal, termasuk juga adalah bonek. Oleh karena itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika menyelesaikan permasalahan bonek ini, perlu adanya kerjasama dari semua pihak untuk menyelesaikan masalah ini. Dan saya kira, sanksi yang diberikan oleh KOMDIS dalam beberapa waktu terakhir tidak akan menyelesaikan maslalah anarkisme bonek ini, karena dengan sanksi itu justru malah menambah tingkat militansi para bonek.

Usaha dari Komisi Disiplin untuk memberikan sanksi kepada bonek tidak boleh mendukung dengan atribut Persebaya selama empat tahun merupakan salah satu usaha untuk menyelesaikan masalah ini, dan semoga itu akan membuat para bonek menjadi jera.

Tetapi dari bonek, diluar sikap anarkisme bonek yang terjadi dan sudah melekat pada diri bonek, kita tentu patut untuk mengapresiasi sikap – sikap bonek yang lainnya, yaitu sikap militansi, semangat, kerja keras, kesetiaan dan pantang menyerah yang dimiliki bonek dan sepertinya sekarang jarang dimiliki oleh sebagian masyarakat Indonenesia, yang jarang dimiliki oleh para pemimpin kita. Walau bagaimanapun, bonek tetaplah bonek. Dan kan menjadi sebuah fenomena tersendiri di bangsa ini. Bravo Sepakbola Indonesia!!

Iklan

2 thoughts on “Bonek, sebuah Fenomena sosial

  1. Bonek tak selalu anarkis boss, tolong lihat dan teliti dulu dengan seksama , jangan langsung Men-judge Bonek itu identik anarkis..gak adil itu namanya

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s