Semarang, banjir, dan Pilwalkot


Ketika mendengar kota semarang yang juga dijuluki kota atlas ini, selain objek wisata sejarahnya yang terkenal yaitu Lawang Sewu, kita juga akan diingatkan oleh lagu yang pernah dilantunkan oleh Waljinah, Semarang kaline banjir. Ya, kota semarang identik dengan banjir yang sering melanda di kota ini, yang biasanya terjadi dipusat kota seperti daerah Kota lama dan Pasar Johar, kemudian juga di daerah dekat pantai seperti Tanah Mas. Menilik sejarah, kota Semarang yang terletak di pesisir jawa ini adalah kota yang sudah berkembang sejak kerajaan – kerajaan Islam ada di tanah jawa, yaitu sebagai pusat perdagangan, sehingga melihat potensi tersebut, pada masa pendudukan Hindia Belanda, perkembangan kota semarang menjadi semakin pesat setelah menjadi ibukota Jawa Tengah yaitu sebagai pusat perdagangan dan jasa.  Secara kondisi geografis, Semarang yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Semarang bagian utara yang meliputi dataran rendah dan Semarang bagian selatan yang merupakan dataran tinggi.

Melihat karakterisitik geografis Kota Semarang tersebut, Kota ini memiliki daerah – daerah berpotensi banjir, karena adanya perbedaan tinggi dan rendah daratan di Kota Semarang antara wilayah utara dan Selatan. Dan memang, kalau kita melihat sejarah panjang kota Semarang tidak bisa dilepaskan terhadap masalah banjir yang setiap musim penghujan selalu menjadi masalah bagi masyarakat semarang. Kalau kita cermati, topografi Semarang sendiri bisa terbilang sangat unik dibanding kota-kota lainnya. Bagian utaranya yang terdiri dari rawa-rawa dan dataran rendah sedangkan bagian selatan yang terdiri atas perbukitan dan dataran tinggi. Sehingga, melihat keadaan tersebut, pemerintah Belanda pada masa pendudukan Hindia Belanda, yang sudah ahli dalam masalah mengatasi banjir melakukan proyek pembuatan Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur yang membelah kota Semarang, disisi lain waktu itu Pemerintah Belanda juga menguruk daerah pesisir pantai untuk menambah luas daratan didaerah Tanah Mas dan sekitarnya. Pembangunan proyek Banjir kanal tersebut diharapkan untuk melindungi pusat pemerintahan yang terletak di Semarang tengah dari banjir.

Mari kita lihat bersama, pokok dari permasalahan – permasalahan yang menyebabkan banjir yang terjadi di kota Semarang. Pertumbuhan kota yang tidak terkendali adalah faktor pertama. Pertumbuhan kota yang pesat tersebut akibat dari  perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali. Lahan peemukiman meluas pesat mencapai 40 % dari luas kota, dengan intensitas 231,9 hektare per tahun. Jumlah rumah meningkat 62.466 bangunan dalam jangka waktu 14 tahun atau 4.462 unit per tahun. Adapun sawah berkurang 2.239 hektare per tahun, rawa dan empang berkurang 4.335 hektare per tahun, serta tegal dan kebun berkurang 339 hektare per tahun. Dari data yang mencengangkan seperti ini, maka tentu sudah bisa dipastikan terjadi perubahan yang membawa dampak, baik fisik maupun sosial, seperti halnya luas daerah hijau di kota semarang akan semakin berkurang seiring peningkatan jumlah pemukiman yang ada di berbagai daerah di kota semarang. Semisal saja yang terbaru adalah pembangunan Bukit Semarang Baru di Ngaliyan yang memberikan dampak berkurangnya daerah hijau di daerah Ngaliyan. Selain itu, perubahan yang menunjukkan bahwa dari citra landsat ada kenampakan-kenampakan di Kota Semarang, yakni sungai yang masuk ke Laut Jawa juga membawa banyak endapan – endapan.

Fakta itu menunjukkan bahwa sungai yang masuk ke Kota Semarang juga tercemar adanya erosi akibat pengembangan lahan di sekitar sungai. Endapan itu dibawa oleh aliran sungai di Semarang Barat dan Timur, terutama dari Kaligarang. Selanjutnya abrasi hanya terjadi di Kali Mangkang dan Pantai Marina. Abrasi di Mangkang, sedangkan di pantai Marina akibat adanya reklamasi pantai. Sehingga bisa diambil sebuah kesimpulan, ketidak seimbangan pembangunan kota semarang mengakibatkan Banjir yang rupanya sudah menjadi agenda musim penghujan kota semarang Kalau pada tahun 80-an, wajah kota Semarang70 persen masih berupa kawasan hijau, namun sejak akhir 80-an sampai awal 90-an mulai dilakukan pengembangan perumahan (yang cukup drastis) dan beberapa sarana penunjang lain seperti pembangunan mal, jalan arteri, jalan tol, dan fasilitas lainnya sehingga mengurangi kawasan pedesaan yang hijau di Kota Semarang. Kitapun bisa melihat dari tahun – ketahun, kejadian banjir hampir selalu menjadi pemandangan di berbagai sudut kota semarang. Di awal tahun 2009 kemarin saja, akibat terjadi banjir dimana – mana, aktifitas transportasi di Stasiun Tawang dan Poncol terhambat, begitu juga dengan aktifitas penerbangan di bandara Ahmad Yani. Artinya dari berbagai permasalahan – permasalahan banjir dan rob yang senantiasa menghantui Kota Semarang, memang sudah menjadi hal yang terbiasa, dan masalah ini ibarat sudah menjadi Lingkaran Setan yang untuk memutus lingkaran tersebut, harus dengan memutus semua mata rantai persoalan, bukan sepotong – potong saja, dan itu membutuhkan kerjasama dari pihak terkait, yang dalam hal ini Pemerintah Kota dan masyarakat yang harus bersinergi untuk menangani masalah banjir ini. Jadi ketika berbicara penanggulangan banjir, maka harus ada penanganan dari hulu sampai hilir.

Dan selama ini, penanganan banjir di Kota Semarang ini terlihat dilakukan hanya secara sepotong – potong, bukan menyeluruh, sehingga ketika diibaratkan, yang terjadi ketika lubang satu ditutup, lubang lain masih terbuka lebar – lebar. Dan permasalahan ini menjadi pekerjaan rumah utama bagi segenap masyarakat Kota Semarang, termasuk didalamnya Pemkot yang harus menjadi inisiator untuk menyelesaikan permasalahan banjir tersebut. Selama ini, mungkin Pemkot sudah mengupayakan terselesaikannya permasalahan terkait banjir ini. Seperti misalnya pembangunan polder – polder penanggulangan banjir yang juga memakan banyak anggaran dari Pemkot, tetapi dalam pelaksanaannya pembangunan ini masih belum efektif karena kalau kita cermati juga, kesadaran masyarakat untuk turut serta menanggulangi banjir masih kurang, misalnya masih saja membuang limbah di sungai – sungai, sehingga hal ini akan mengakibatkan terhambatnya saluran air disungai tersebut. Ketika disisi lain, Pemkot sudah mencoba menanggulangi banjir, tetapi Pemkot sendiri juga masih saja memberikan peluang lebar untuk kemungkinan terjadinya banjir ini terjadi dengan mengurangi kawasan hijau di dataran tinggi semarang. Misalnya perubahan lahan dari hutan karet menjadi perumahan di kawasan Mijen, sehingga ketika hujan, air pun akan mengalir ke ngaliyan, sehingga ini akan menjadi faktor terjadinya banjir. Kemudian contoh yang kedua adalah pengeprasan bukit di beberapa tempat di Semarang, seperti halnya BSB yang akan mengakibatkan perubahan pola aliran air, erosi, mempertinggi kecepatan air, sehingga akan membebani drainase.

Permasalahan yang kemudian dihadapi kedepan terkait banjir di semarang adalah masalah penanganan banjir yang tak kunjung menemukan solusi konkrit dan pasti. Dan pada tahun ini, tahun 2010 akan juga ada sebuah sejarah yang menentukan kelanjutan Semarang kedepan. Momen pemilihan Walikota tentu menjadi sebuah agenda besar warga semarang untuk memilih calon walikota yang benar – benar menjadi solusi bagi permasalahan warga Kota Semarang. Dan masalah banjir Semarang menjadi salah satu hal yang sensitif ketika dihubungkan dengan Pilwalkot yang akan terlaksana dalam bulan April tahun ini. Dari beberapa calon yang kemudian sudah mengajukan diri menjadi Calon Walikota, tentu mereka sudah mempunyai modal yang lebih dari cukup untuk menjadi Semarang I. Dan yang menjadi sebuah rekomendasi kedepan, tentu kita dan seluruh warga kota Semarang harus benar – benar mampu mencermati setiap janji – janji, korelasi dan kenyataan yang diucapkan oleh para calon walikota tersebut. Artinya jangan sampai kita tertipu untuk kesekian kalinya, terkait janji – janji yang dilontarkan oleh calon – calon pemimpin semarang itu, terutama terkait penanganan masalah banjir yang sepertinya sudah menjadi sesuatu yang menjadi hal musiman disemarang, selain musim duren dan musim rambutan. Masyarakat semarang perlu kemudian untuk melihat secara lebih detail program – program yang ditawarkan oleh para calon walikota itu, sehingga kita bisa melihat, menyeleksi dan mengawal program yang dilakukan oleh walikota terpilih nantinya yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk menyelesaikan permasalahan – permasalahan mendesak  Semarang, seperti halnya banjir yang selalu menjadi masalah serius bagi kota bersejarah ini.

Seperti kita ketahui bersama, proses penyelesaian masalah banjir yang terjadi di Semarang selama beberapa dekade terakhir tentu menyisakan sebuah pertanyaan terkait korelasi dengan struktur pemerintah kota Semarang. Pertanyaannya adalah, sejauh apa dan seoptimal apakah kinerja dari struktur Pemkot untuk menyelesaikan masalah banjir yang tak kunjung usai ini? Tentu itu menjadi pertanyaan yang mengganjal terkait kinerja Pemkot selama ini dalam menyelesaikan permasalahan banjir yang berlarut – larut. Itu yang kemudian harus dijadikan acuan masyarakat kota  Semarang untuk benar – benar selektif dalam menentukan calon pemimpin yang benar – benar memberikan solusi bagi permasalahan seputar banjir disemarang. Mungkin secara kasat mata, pasti semua program – program yang ditawarkan oleh calon walikota nanti kelihatan baik, namun sekali lagi, belajar dari pengalaman kurang sukesnya (baca : kegagalan) Pemkot edisi sebelumnya, masyarakat harus melihat secara lebih teliti tentang kebutuhan mendesak tentang penyelesaian masalah banjir di Semarang. Artinya dari pengalaman tersebut tentu perlu ada perbaikan struktur Pemerintah Kota Semarang tahun 2010 – 2015, perlu adanya perbaikan secara sistem di Pemerintah Kota, sehingga niscaya sistem yan baik akan menghasilkan kinerja yang baik pula, begitu logikanya. Dan bila dapat dikatakan secara lebih kasar lagi, masyarakat jangan sampai memilih wakil yang telah terbukti kurang sukses untuk menyelesaikan problematika semarang. Dan pilihan itu ditangan anda, warga semarang. Dan sesuai dengan judul diatas, memang antara Semarang dan banjir tak akan pernah terpisahkan, kecuali dengan perbaikan integral dalam semua sistem di kota semarang, baik itu secara sistem di Pemkot, ataupun sistem pemikiran segenap masyarakat kota semarang untuk menuju semarang kearah yang lebih baik.

2 thoughts on “Semarang, banjir, dan Pilwalkot

  1. kapan ya semarang bebas banjir,,,,, yuk mulai dari sekarang, mulai dari hal-hal kecil berusaha menjaga lingkungan supaya tetap bersih dan tidak menimbulkan banjir demi kota semarang tercinta,,,,,

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s