Tempat itu…


Hari ini (16/01), hujan begitu deras mengguyur kota Semarang, dan angin – angin pun bertiup kencang menunjukkan keperkasaannya, seakan – akan menunjukkan keperkasaannya, dan seakan – akan pula pohon – pohon bertumbangan, menambah seramnya suasana. Namun tidak itu yang sedang kupikirkan, bukan derasnya hujan, bukan kencangnya angin bertiup, bukan semuanya itu. Pikiranku justru jauh menerawang kasebuah tempat, sekitar 160 Km dari Kota Semarang, atau kalau ditempuh dengan sepeda motor kurang lebih memakan waktu 4 – 5 jam. Ya, Pacitan, sebuah kota kecil diujung Jawa Timur yang memang menjadi sebuah pesona tersendiri tentang masih begitu alaminya kota ini. Namun bukan Pacitan juga yang membuatku melamun, memang pacitan kota mempesona, bagi semua orang yang pernah kesana, tetapi ada sebuah tempat yang lebih istimewa lagi, yang membuatku menerawang jauh meninggalkan Semarang dengan segala hiruk pikuknya.

Sebuah Kecamatan, kurang lebih 38 km dari pusat kota Pacitan, atau sekitar 1 jam perjalanan dari kota Pacitan, adalah yang membuatku menerawang, melamun, dan mengingat – ingat tempat itu. Jalan – jalannya yang berkelok – kelok, dengan iringan desiran sungai Grindulu yang setia menemani jalanan itu, pemandangan yang masih sangat alami, bukit – bukit yang berjejer rapih dengan pepohonan yang menghijau, serta beberapa jembatan gantung yang setia bertengger diatas sungai grindulu dengan sesekali terdengar renyah tawa anak – anak yang sedang menyeberangi sungai itu atau berenang disungai itu, itulah pemandangan yang ada sepanjang jalanan antar Arjosari sampai dengan Tegalombo. Namun bukan ini juga yang membuatku kembali menerawang jauh sekali, itu hanya sekedar penghias saja, yang membuatku melamun, dan membayang kan adalah sebuah tempat diujung Kecamatan Tegalombo, tepatnya ketika sampai di Kantor Desa Tegalombo, Belok kanan dan kurang lebih 5 Km dari Kota Kecamatan, itulah sebuah tempat yang akan kuceritakan, sebuah tempat tentang sejarah kecil yang begitu berharga bagiku. Mari kita simak sejuta pesona dan keindahan yang ada dari balik tempat itu. Setidaknya untukku.

Ketika melewati sebuah jembatan bersejarah yang menjadi jantung dari tranportasi yang menghubungkan dua tempat, Kasihan, Tulakan, dan tegalombo, maka dimulailah pesona – pesona yang semakin membuatku rindu untuk menginjakkan kakiku ditempat itu. Jembatan Kayu yang seudah mulai berderit nampaknya karena dimakan usia, kemudian dibawahnya terdengar ocehan dari para ibu yang sedang  mencuci baju dikali grindulu, dan sesekali terdengar suara para tukang ojek yang tertawa sembari menggerakakan laju pionnya menuju kemenangan, kemudian tibalah disebuah jalan yang naik, menanjak disertai pekikan gas kenalpot motor tua yang mengerang seperti merintih kesakitan karena terjalnya jalan yang dilalui. Dan memang, jalanan itu menjadi sebuah jalan yang berkelok – kelok seperti ular, menanjak, dan penuh dengan kenangan yang pernah kumiliki.

Sekitar 4 Km kemidian, tibalah aku dengan mimpiku disebuah tempat, yang ketika kulirik, masih terbayang jelas disitu (10 – 14 tahun) lalu, riuh riang suara anak – anak SD yang sedang bermain permainan tradisional Gepuk lele, dan disitu rupanya ada aku, yang sedang menghitung jumlah angka yang kuperoleh. Dan masih tergambar juga dengan jelas senyumku yang mengembang, ketika aku diberi uang 35 ribu dan sebuah sepatu baru dari Ibu Kepala Sekolah, yang bangga mengharumkan nama sekolah sebagai juara 1 Lomba cerdas Cermat IPA tingkat Kecamatan. Ah, indahnya masa itu. Dan tentu itulah tempatku merasakan balajar untuk kedua kali, ya itulah Sekolah Dasarku, yang saat ini terlihat masih tersenyum ramah, menanti kedatangan sang calon – calon presiden, calon – calon menteri, dan tentunya bukan calon koruptor untuk datang dan menimba ilmu disekolah itu.

Namun, ketika kurang lebih 5 menit dari sekolah itu, mimpiku pun kembali terbang bersama air mata yang menetes di pipi, ketika kuinjakkan kaki disebuah tempat kecil yang penuh dengan sejarah bagiku. Rumahku. Di pelosok Desa Kasihan, itulah rumah sederhana yang begitu bersejarah bagiku. Masih ada pohon mangga hasil tanaman ibuku itu, yang ketika kecil sering kumakan buah mangga itu yang begiru manis rasanya, yang sampai sekarang, masih saja kurasakan begitu manisnya mangga itu. Itulah rumahku. Sederhana memang, tetapi cukup membuatku  bahagia. Karena disini aku diajari tentang jiwa kasih sayang oleh ibu, karena disini adalah tempatku digembleng oleh Ayah, tentang pelajaran kekuatan yang harus dimili oleh seorang laki – laki hebat, karena disini aku diajari tentang seni mengenal Tuhan, karena tempat itu, aku diajarai tentang menghargai dengan sesama. Ah, ingi rasanya kuinjakkan kaki ini ketempat itu. Ingin sekali. Ah, aku ingi segera pulang, dengan membawa oleh – oleh yang diinginkan oleh Ayah, “nak, jadilah kau juara”. Dan ingin ku wujudkan itu.

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s