REFLEKSI, KONTRIBUSI DAN PARTISIPASI


Oleh : Dwi Purnawan *

hero_2Tiga pekan terakhir masyarakat di Indonesia telah diingatkan oleh dua momen sejarah yang sarat akan makna sejarah dan mempunyai keterkaitan makna antara even satu dengan yang lain. Dua even tersebut adalah peringatan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober lalu dan Hari Pahlawan pada minggu ini. Sumpah Pemuda mengingatkan kita tentang perjuangan para pemuda yang terdiri dari berbagai kumpulan pemuda dari seluruh Indonesia. Ada jong java, jong Sumatra, jong selebes, dan berbagai kelompok pemuda lainnya untuk mengikrarkan persatuan pemuda Indonesia menjadi sebuah wadah perjuangan yang kelak akan memberikan efek positif bagi perjuangan rakyat Indonesia manuju pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Sebuah kontribusi yang besar bagi bangsa Indonesia telah ditunjukkan para pemuda ketika itu untuk mengikrarkan sebuah sumpah untuk menyatukan segenap elemen – elemen bangsa agar terikat dalam sebuah kesatuan berbangsa dan bertanah air satu. Lalu mari kita lihat tanggal yang satunya lagi, tanggal 10 November. Tepat 64 tahun lalu, peristiwa penting kembali terjadi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan arek – arek suroboyo dalam perjuangan mengalahkan para sekutu yang tidak kapok untuk menjajah Indonesia telah diabadikan secara apik dalam tinta emas sejarah kemerdekaan Indonesia, sehingga setiap tanggal 10 November akan selalu kita peringati sebagai hari pahlawan. Pekik takbir dan teriakan merdeka ataoe mati serta semangat berjihad yang didengungkan Bung Tomo dan kawan – kawannya telah memberikan semangat luar biasa untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi tercinta ini. Saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang menggunakan bambu runcing. Namun para pejuang kita tak pernah gentar untuk melawan penjajah. Walaupun nyawa menjadi taruhan, darah menjadi tumbal, seakan itu tidak menjadi masalah bagi para pejuang arek – arek Suroboyo ketika itu, yang terbayang dibenaknya mungkin hanya satu, melihat Indonesia ini bebas dari campur tangan bangsa asing. Tetapi itu dulu, 64 tahun yang lalu.
Lalu mari kita lihat makna apa yang ada dibalik dua peringatan bersejarah tersebut, Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan. Bukan hanya upacara peringatan Sumpah Pemuda atau Hari Pahlawan yang hanya kita lakukan, tetapi seharusnya lebih dari itu, yaitu inspirasi – inspirasi dari kedua peringatan penting tersebut harus kita peroleh sebagai generasi penerus yang juga harus peduli akan nasib Indonesia kedepan. Mari kita memaknai hari pahlawan lebih dari selama ini kita memahaminya, bukan seperti kamus memaknaiya, bahwa kata pahlawan identik dengan popular ataupun wafat. Dua hal tersebut merupakan sebuah realita bagaimana cara bangsa Indonesia saat ini menghargai para pahlawannya.
Terlepas dari kajian formal linguistik tentang ‘pahlawan’ beserta atribut-atribut yang menyertainya, wafat dan populer melukiskan sebuah kekerdilan makna. Dengan atribut wafat, seseorang yang memiliki jiwa dan badan yang masih muda menemukan jalan buntu untuk menikmati kepahlawanan yang diusahakannya. Jika digunakan atribut populer, maka segera saja nuansa oportunis menjadi semerbak membunuh mimpi para pencari kepahlawanan sejati yang mendambakan kebahagiaan hakiki, bukan menjadi terkenal ataupun menjadi sorotan masyarakat.
Sebenarnya ada sebuah tawaran yang menarik dalam memberikan atribut pada kata ‘pahlawan’. Hal ini dapat menjadi sebuah nilai yang mungkin saja dapat merubah kepribadian masyarakat Indonesia saat ini menjadi lebih baik dalam menghadapi hari-hari ke depan. Kita dapat menempatkan sebuah kata menjadi atribut pemaknaan bagi kata yang lain dengan mengambil intisari dari berbagai pemaknaan yang terungkap maupun tersingkap. Intisari yang sebenarnya layak melekat pada kata ‘pahlawan’ adalah pengorbanan, prestasi yang lebih besar dibanding orang-orang seusianya, serta ketulusan untuk mengaktualisasikan diri. Ketiga tiga hal tersebut kita identikkan denga pemuda Indonesia saat ini, sangat sulit kita mencari pahlawan Indonesia, namun bukan mustahil untuk mendapatkan jiwa – jiwa berkorban untuk berprestasi dan senang mengaktualisasi diri.
Tentu kita tahu saat ini Indonesia sedang membutuhkan terapi untuk memperbaiki kondisi disegala aspek kehidupan, dan sudah seharusnya itu dimulai dari para pengusung – pengusungya, para pemudanya untuk terus berupaya menjadi pahlawan Indonesia. Tetapi masih saja kita melihat generasi muda kita (rata – rata) belum memiliki jiwa – jiwa pahlawan seperti ketika Sumpah Pemuda atau Hari Pahlawan waktu itu. saat ini kita masih bisa melihat pemuda – pemuda kita (Indonesia) masih disubukkan dengan urusan – urusan tak bermanfaat, bahkan cenderung merugikan diri sendiri atau negaranya. Hari ini faktanya, berapa banyak pemuda kita menjadi korban keganasan penjajah – penjajah jiwa, macam hedonism, seks bebas, Narkoba, tre atau gaya kebarat – baratan, dan lain sebagainya, jiwa – jiwa heroik telah berganti menjadi jiwa hedonis.
Lalu mengapa bisa seperti ini? tentu kalau yang menjadi masalah adalah thread atau ancaman, ancaman kita hari ini lebih berat dari ancaman dari pemuda waktu itu. Jika waktu itu adalah penjajah dengan peluru – peluru tajam dan meriam, dan mungin hanya darah yang akan keluar, maka yang menjajah kita hari ini lebih berkelas, lebih jahat. Karena seragan utamanya adalah otak. pemikiran – pemikiran bangsa kita sedang dijajah oleh mereka, dan sasaran utamanya adalah otak – otak para pemudanya. Tetapi yang lebih parah lagi kita (para pemuda) tidak sadar kalau sedang dijajah. Kapitalisme modern dalam bentuk tren gaya hidup hedonism telah melanda pemikiran kita, merasuk kedalam hati kita, tetapi kadang kita juga terjebak dan tidak memiliki kekuatan untuk melawannya.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwasanya pemuda Indonesia sedang dalam masalah, masalah yang besar, tentang jiwa heroisme, jiwa untuk menjadi pahlawan yang hilang begitu saja dari diri kita. Dan sebuah tawaran solusi untuk masalah itu ada tiga hal. Refleksi, Kontribusi, dan Patisipasi. Kata Refleksi merupakan sebuah kata yang menarik, karena dengan refleksi, kita dapat membandingkan kondisi kita dengan peringatan 10 November sebagai hari Pahlawan. Kita dapat bercermin semirip apakah kita dengan para pahlawan – pahlawan itu. Setelah melakukan refleksi, tentu hal selanjutnya adalah Kontribusi dan Partisipasi. Sekecil apapun peran kita untuk memajukan Indonesia, maka itu merupakan bentuk kontribusi yang akan membantu menuju Indonesia yang lebih baik. Mari kita simak perjuangan tanggal 10 November 1945, siapa yang berdiri dibalik perjuangan Bung Tomo, mereka adalah Tukang Bakso, tukang Soto, para pemuda pengangguran. Tetapi dengan semangat juang yang tinggi dan siap memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negaranya, gelar mulia pun mereka dapatkan. Pahlawan. Sebuah kata yang sulit kita dapatkan pada masa sekarang. Artinya adalah, bahwasanya kita (pemuda) harus bangkit dari keterpurukan Indonesia. Karena sungguh hari ini Indonesia kita butuh kita selamatkan dari penjajah – penjajah otak yang tak akan pernah berhenti menyerang kita dari berbagai penjuru. Maka sudah saatnya kita siapkan tameng penghadang untuk para penjajah tersebut.
Kalaupun kita adalah pemuda yang sedang menjadi tukang Soto, maka berikan semangat juang untuk membuat Soto terbaik di Indonesia, karena itu merupakan bentuk kontribusi bagi Indonesia. Kalaupun kita adalah pemuda yang merangkap jabatan kuli bangunan, maka berikan seluruh energi kita untuk menata batu – batu pembagunan Indonesia. Kalau kita adalah pemuda yang kebetulan menjadi anggota Dewan, maka berikan aspirasi terbaik kita dalam bentuk kebijakan untuk merubah kebijakan lama yang tidak pro rakyat, bukan malah memanfaatan posisi demi diri sendiri. Kalaupun kita adalah seorang pemuda yang kebetulan sebagai mahasiswa, maka berikan prestasi – prestasi terbaik kita untuk Bangsa Indonesia, bukan mahasiswa yang apatis terhadap lingkungan sekitar. Apapun posisi kita, dimanapun letak kita, kita (pemuda) merupakan mutiara – mutiara bangsa yang sedang berada dalam kubangan lumpur, maka berikan bentuk terkecil apapun dari potensi diri kita untuk berkontribusi yang terbaik untuk Indonesia.
Maka sudah saatnya, hal terpenting yang harus kita lakukan sebagai seorang pemuda adalah menjadi pahlawan – pahlawan baru bagi diri sendiri, Negara dan bangsanya. Caranya dengan senantiasa merefleksi diri, kemudian senatiasa berkontribusi dan berpartisipasi untuk kemajuan Indonesia. Sebuah syair untuk peringatan hari pahlawan dan kebagkitan pemuda Indonesia semoga mampu merubah kondisi kita saat ini, untuk memberikan kontribusi terbaik untuk Indonesia yang lebih baik. Selamat Hari Pahlawan.
“….Negeri Indah, Indonesia
memanggil namamu, menyapa nuranimu
Negeri Indah, Indonesia
menanti hadirmu, rindukan karyamu….”

* Ketua KARISMA (Kerohanian Islam Mahasiswa) FIK Unnes

One thought on “REFLEKSI, KONTRIBUSI DAN PARTISIPASI

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s