Memperteguh komitmen oposisi


Di unduh dari : Editorial Media Indonesia edisi sabtu, 17 oktober 2009http://mediaindonesia.com

Sepertinya hari – hari ini sampai minggu depan menjadi agenda paling sibuk bagi SBY-Boediono dan para anggota koalisinya, karaena kita tahu cropped-by_sander_setobersama, menjelang pelantikan kabinet baru SBY – Boediono tanggal 20 nanti, ada perasaan yang wa – was dari partai – partai peserta koalisinya, apakah kader – kader terbaiknya akan dijadikan memnteri atau tidak. hari kamis (15/10) para pemimpin partai politik yang mendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono menandatangani kontrak politik . Tujuannya adalah untuk memperkuat koalisi baik di pemerintahan maupun di parlemen. Kontrak politik itu ditandatangani lima partai yang ‘berkeringat’ memenangkan Yudhoyono dalam pemilihan presiden Juli lalu, yaitu Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Kebangkitan Bangsa.  Seperti kita ketahui bersama, Partai Golkar yang mengusung calon presiden dan wakil presiden sendiri dalam pilpres lalupun, tanpa malu-malu pun bergabung dalam koalisi dan meneken kontrak demi memenuhi hasrat berkuasa. Dengan demikian, pemerintahan Yudhoyono-Boediono ditopang 75% kekuatan politik di DPR. Tentu ada segi positif – negatif dari semua itu. Segi negatifnya, koalisi besar itu berpotensi membunuh daya kritis oposisi yang minoritas. Apa pun kebijakan pemerintah selama lima tahun ke depan, misalnya mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang, pasti disetujui DPR. Segi positifnya, dengan modal dasar yang cukup besar, yaitu meraih 60,80% kepercayaan rakyat dalam pilpres ditambah lagi sokongan suara di parlemen 75%, mestinya tidak ada lagi keraguan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang hanya berpihak kepada rakyat. Bukan lagi kebijakan yang sekadar membentuk pencitraan diri agar terpilih kembali menjadi presiden sebab pada 2014 Yudhoyono tidak bisa lagi dicalonkan menjadi presiden. Lima tahun ini adalah masa pembuktian terakhir Yudhoyono sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara. Terbuka dua kemungkinan: dia bekerja dan berkarya habis-habisan demi kepentingan rakyat, kepentingan bangsa, dan negara; atau dia bersukaria dengan aji mumpung dan berlakulah dalil semakin besar kekuasaan semakin korup pemerintahan. Karena itu, oposisi penting, sangat penting, untuk melakukan checks and balances. Dalam perspektif inilah PDI Perjuangan diharapkan mengambil posisi di luar pemerintahan sehingga bersama Gerindra dan Hanura menjadi kekuatan oposisi. Tiga partai itu harus berbesar hati menjadi oposisi. Partai oposisi sama mulianya dengan partai yang memerintah, bahkan jauh lebih mulia daripada partai yang menggadaikan ‘harga diri’ demi memenuhi hasrat berkuasa. Kekuatan oposisi yang hanya 25% di parlemen tentu dapat dengan mudah digilas koalisi mayoritas. Karena itu, adalah tugas civil society memperteguh komitmen oposisi, jika tidak menghendaki pemerintah terjerumus dalam Orde Baru jilid dua.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s