Sebuah asa untuk para penggenggam kebijakan legislasi


Gedung-DPR-RIHari Kamis, 1 Oktober 2009, sebuah hari yang spesial untuk para PNS, para pemburu berita baik media cetak maupun elektronik, para anggota DPR terpilih dan seluruh Bangsa Indonesia. Ya hari ini adalah spesial untuk PNS karena tanggal muda, spesial bagi para pemburu berita karena sedang laris – larisnya berita tentang gempa, dan wabil khusus bagi anggota dewan yang terpilih karena ada pelantikan.

Namun saya tidak akan memicarakan tentang senangnya para PNS, ataupun duka mendalam bagi saudara – saudara kita di Sumbar, tetapi sedikit menyoroti pelantikan para wakil – wakil kita di DPR selama lima tahun kedepan. Ya, 560 wakil rakyat yang dipilih dalam Pemilu 2009 hari ini dilantik. Inilah untuk pertama kali mereka sah menyebut dirinya wakil rakyat lengkap dengan hak dan kewajiban yang melekat di pundak mereka. Dari sisi komposisi, lebih 70% anggota DPR lima tahun ke depan adalah muka baru. Sisanya wajah-wajah lama.
Seperti kita ketahui bersama bahwa DPR kali ini adalah gelombang lima tahun ketiga di masa reformasi. Mereka akan menjadi kelompok yang menghuni Senayan ketika usia reformasi memasuki tahun ke-10 sampai tahun ke-15. Ketika perjuangan berdarah Reformasi telah mengangkat harapan publik yang amat tinggi terhadap perubahan peran DPR, akan tetapi pada saat DPR periode lalu berakhir dan berganti dengan DPR periode sekarang, harapan publik yang tinggi itu berubah menjadi kekecewaan yang amat tinggi.
Ternyata reformasi tidak mengubah apa-apa dalam hal sikap dan perilaku dewan. DPR, menurut survei lembaga Transparency International, berubah drastis dari lembaga tukang stempel di era Orde Baru menjadi salah satu lembaga terkorup bersama kepolisian dan pengadilan.
Sejumlah anggota dewan masuk bui karena terlibat suap dan banyak lagi yang sedang diusut dalam kasus-kasus suap yang lain. Komersialisasi legislasi menjadi lahan empuk. Kamuflase korupsi dalam bentuk studi banding dan peninjauan lapangan tetap marak walau dikecam.

Korupsi waktu diperlihatkan dengan amat telanjang. Tidak ada rapat DPR yang tepat waktu. Kehadiran dalam sidang dan rapat bisa diwakili dengan tanda tangan semata.
Korupsi etika mewabah. Mereka ngantuk atau tidur sambil ngorok di ruang rapat tanpa merasa bersalah. Bermain SMS dan menerima telepon atau menelepon selama sidang telah dianggap sebagai kewajaran.

Wewenang yang semakin kuat di tangan DPR menyebabkan banyak anggota dewan yang berfungsi sebagai calo proyek dengan imbalan komisi. Kewenangan untuk menentukan dan mengatur anggaran sendiri telah menyebabkan DPR menjadi lembaga yang boros. Bayangkan untuk pelantikan hari ini tidak kurang dari Rp49 miliar uang negara dihamburkan. Dan juga kita masih ingat tentang fasilitas mobil seharga 1 miliar yang dimiliki oleh anggota DPR.

Pembeberan penyakit anggota DPR ini tidak dimaksudkan untuk mengatakan semua wakil rakyat bermental buruk. Ada juga yang bagus-bagus, tetapi jumlah mereka terlalu sedikit untuk menjadi lokomotif perubahan.

Wajah baru dengan dominasi mentalitas lama inilah yang menjadi biang kerisauan kita. Muka baru, usia muda, tetapi orientasi lama, yaitu DPR tetap dianggap sebagai ladang nafkah. Bukan ladang pengabdian.

Inilah sesungguhnya wajah civil society kita. Karena sebagai wakil rakyat, mereka sesungguhnya merepresentasi sikap, perilaku, dan persepsi publik terhadap realitas kehidupan.
Jadi, korupsi dan kerakusan serta kebobrokan mental para wakil kita di DPR sesungguhnya mencerminkan wajah masyarakat yang diwakili. Artinya, DPR yang korup hanya subur dalam lingkungan masyarakat yang juga korup.
Dominasi mentalitas rakus itu semakin merisaukan ketika tidak ada lagi oposisi di parlemen. Seperti kita ketahui bersama, belum ada kepastian dari partai – partai yang kalah di pemilu kemarin yang menyatakan untuk siap menjadi oposisi pemerintah, maka tentu hal itu akan sangan meringankan jalan bagi anggota Dewan yang terhormat untuk ‘mencari nafkah’.

Tetapi kita tidak usah khawatir, akan selalu ada harapan ditengah terpuruknya kondisi Indonesia saat ini. Karena menurut hukum alam, ketika ada yang jahat, maka tentu ada yang baik, ketika ada buta cakil, maka ada Arjuna, ketika ada dajjal, maka tentu ada juga Imam Mahdi. Sepertinya itu pula yang akan terjadi di Indonesia. Kabarnya ada para pemimpin kita (terkhusus di DPR) yang masih saja ingin terus belajar disebuah lingkaran, atau bahasa kerennya ‘ngaji bareng’, untuk menjadi para pemimpin yang benar – benar mewakili rakyatnya untuk bersikap bijaksana, dan adil. Dan harapan kita, lokomotif perubahan yang diatas saya katakan masih sedikit, kedepan akan semakin bertambah banyak untuk kejayaan Indonesia. Jayalah Negeriku… Jayalah…

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s