Oleh – oleh Lebaran : Antara noda dan penghapusnya


10Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis artikel ini, kira – kira sebelum Ramadhan sudah direncanakan, namun ternyata baru kesampaian hari ini, tapi tak apalah, semoga tetap memberikan kebermanfaatan.

Begini ceritanya, jadi ketika itu, sebuah pemandangan yang menjadi rutinitas tahunan pun menjadi suguhan bagi masyarakat umum, dan khususnya kaum muslimin. Ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri, disana – sini, baik spanduk, baliho, poster, iklan di koran atau TV, kartu ucapan, status Facebook, sampai dengan googling di Internet pun kita pasti akan melihat begitu banyak ucapan “Mohon Maaf Lahir Batin” akan terpampang dengan berbagai variasinya. Dan itu sungguh luar biasa. Dan tentu tidak ada yang salah dengan semuanya itu, karena kita tahu bahwa setiap orang tetaplah berhak untuk beropini, menulis, menyampaikan pesannya tentang sebuah makna kata maaf dalam ucapan Hari Raya Idul Fitri. Tentu jika anda ditanya apakah makna lebaran barangkali secara umum anda akan berpedapat bahwa lebaran artinya kembali fitrah, kembali suci seperti halnya kertas putih yang tak ada noda sama sekali. Tetapi yang kemudian masih mengganjal dihati saya adalah bahwa sadar atau tidak sadar kita telah mengulang ucapan – ucapan serupa “mohon maaf lahir batin, Minal Aidin Wal Faidzin, kosong – kosong ya..”, dan ucapan – ucapan sejenisnya yang sepertinya kita selalu mengulang – ulang makna ucapan tersebut, tetapi disisi lain, masalah – masalah tentang ukhuwah, perang saudara, masalah – masalah naas yang lainnya. Bukankah kita sudah tahu betul tentang makna Idul Fitri (Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. Kelahiran seorang manusia, dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak, masih dalam pandangan Islam, diibaratkan secarik kertas putih. Kelak, orang tuanya lah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya).

Itulah makna Idul Fitri. Lalu mengapa ketika kita mengucapkan “ Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin” seakan – akan kalimat tersebut hanya terlontar melalui bibir kita, dan tidak sepenuhnya meyalur sampai ke hati yang paling dalam? Bukan bermaksud menyindir, tapi itulah keadaannya, setiap tahun kita selalu bermaaf- maafan, tapi setiap tahun pula akan selalu terjadi masalah – masalah tentang perpecahan ummat, lalu yang menjadi pertanyaan, dimana esensi dari kata – kata yang terlanjur kita ucapkan kepada saudara – saudara kita, “Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf lahir Batin”. Apakah kita kurang memahami, atau kita kurang serius dalam mengucapkannya?

Mungkin yang menjadi pemikiran “nyeleneh” saya, bahwa masyarakat Indonesia mayoritas muslim, dan ketika semua muslim tersebut sungguh – sungguh dalam memaknai kata maaf dalam Hari raya Idul Fitri, maka efeknya sungguh luar biasa bagi bangsa ini. Ya, kekuatan ukhuwah sangat erat, seperti halnya ketika Negara Madinahnya Rasulullah SAW, atau paling tidak miriplah. Karena tentu kita sudah sangat mafhum bahwa ketika lebaran, kita akan menjadi sebuah kertas putih tanpa noda, alias suci, dan tugas kita selanjutnya adalah menjaga kertas putih itu agar tetap putih tanpa noda, karena kitapun akan sulit untuk menemukan penghapusnya. Wallahu’alam Bishawab. Mohon Maaf Lahir Batin (semoga benar – benar tulus dari hati).

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s