Ranting – ranting kecil yang kadang terlupakan…


Sabtu (25/07) ada sebuah hal yang ingn kuceritakan kepada semuanya… tentang kegundahan saya, melihat kondisi yang memprihatinkan, yang sedang melanda kita semua, (yang katanya)para pengusung kebaikan.

Hari ini, sekitar pukul 06.45 WIB aku berangkat dan sampai di kampus tercinta untuk mengikuti Dauroh Ilmy II yangSang Putri2 diselenggarakan Div Edukasi dan Skill Pesantren Basmala yang rencana di jadwal mulai acara pukul 07.00 WIB. Segera kupacu kuda besi kesayanganku untuk melangkah dari Kos – kosan perjuangan menuju kampus, setelah sampai kampus ternyata masih sepi, belum ada orang samasekali, hanya ada salah satu panitia akhwat duduk di meja presensi. “Lho, katanya jam 7 mulai, kok belum ada pesertanya” tanyaku dalam hati. Seperti biasanya, jam karet di dunia Indonesia sudah merambah kedalam jalan ini, padahal kita (aktvis dakwah) sudah tahu tentang pentingnya sebuah indibath (kedisiplinan) dalam semua aspek ini, kita sering mendakwahi orang lain tentang urgensi waktu, manajemen waktu, dsb, namun kita pun belum bisa melaksanakan kedisplinan tersebut. Huff… daripada mikirin hal begituan mending nulis status aja di FB, pikirku. Segera kubuka notebook sambil menunggu peserta lain datang. Akhirnya selang 1/2 jam kemudian dimulailah acara Dauroh Ilmy, akupun segera mengisi presensi si meja dan sekilas kulihat para peserta yang tertulis di Presensi banyak banget (sekitar 70 peserta), ada nama – nama beken juga di daftar peserta. Setelah presensi dan registrasi segera kuambil tempat duduk dan dimulailah acara dauroh. Nah, disinilah mulai timbul perasaan gundah, sedih, kecewa… tentang kondisi kita. Kok yang dateng cuman 20an peserta… kemana yang lain? pikirku. Padahal kayaknya udah pada dikasih undangan. Inikah cara kita memperlakukan saudara kita, yang dengan susah payah menuliskan nama kita diundangan, didaftar peserta, inikah cara kita sebagai seorang yang sedang merajut ukhuwah? padahal salah satu kewajiban seorang muslim adalah memenuhi undangan saudaranya….hufff….ban

yak sekali dzon – dzon yang muncul ketika itu dalam benakku….

Dari penggalan kisah diatas, mungkin akan ada suatu, atau beberapa hal yang harus kita perbaiki, jika kita ingin tetap meneguhkan eksistensi dakwah ini, tentang kewajiban memenuhi undangan, tentang indibath, dan tentang ranting – ranting kecil dalam pohon dakwah ini yang dapat menentukan arah tumbuh dan berkembangnya pohon dakwah ini.

Saudaraku… mari kita review pemahaman kita tentang Islam yang mulia ini, tentang kewajiban kita kepada saudara kita, ya, memenuhi undangan. Mari kita ingat kembali pesan Sang Qudwah. Dalam hadisnya rasul berpesan 6 hal, agar sesama muslim benar-benar bersaudara dan memiliki kedekatan batin yaitu:

”Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)”. Riwayat Muslim.”

Sudah sangat jelas, bahwa dalam pesan Rasulullah pada poin dua, tentang bila ia memanggilmu maka penuhilah, itu yang ‘mungkin’ sampai saat ini belum sepenuhnya kita lakukan. Mungkin kita beranggapan bahwa itu hanya sebuah kertas, berisi undangan yang ditujukan kepada kita, dan ‘mungkin’ juga kita menganggap sebuah hal yang remeh. Tapi, tidakkah kita membayangkan, mungkin betapa susahnya saudara kita membuat undangan tersebut, mulai dari mengetik, mengkopinya, sampai dengan tergopoh -gopoh mengantarkannya sampai kekos kita. Ataukah hati kita sudah mulai tidak tersentuh lagi, (afwan) sudah mulai keras–naudzubillah—

Kemudian yang kedua, mari kita baca lagi buku – buku yang dulu sempat kita pelajari, tentang manajemen waktu, Indibath kita, kedisiplinan kita. Kedisiplinan (semestinya) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri seorang muslim, apalagi yang mendapat label sebagai ADK, tentu sudah bukan lagi menjadi masalah tentang kedisplinan waktu. Tapi kita tidak. kita masih berkutat pada permasalahan yang serupa. Lalu kapan dakwah ini akan melakukan ekspansinya, jika dari pengusungnya sendiri bahkan menjadi troublemaker dakwah. Mungkin masalah waktu, masalah memenuhi undangan, adalah hal – hal kecil bagi kita, namun hal kecil tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan dakwah. Karena seribu langkah dalam jalan ini, pasti dimulai dari satu langkah. Sebuah rumah akan terbentuk dari berbagai batu bata yang ditumpuk dan ditata sedemikian rupa. Dan pepohonan pasti tumbuh dan berkembang, nan nampak indah ketika ada ranting – ranting didalamnya. Begitu juga dalam pohon dakwah ini akan tetap tegar dan berkembang ketika ranting – rantingnya mampu menopangnya.

Saudaraku…. mungkin sekarang bukan saatnya lagi untuk meremehkan ranting – ranting kecil tersebut, dan marilah kita buat ranting – ranting itu menjadi sebuah kekuatan yang akan sangat berguna untuk menopang pohon dakwah yang mulia ini, agar pohon ini tetap tegar, menjulang tinggi dengan segala pesona keindahannya, sehingga angin – angin kemunkaran tidak mampu menggoyahkannya.

Saudaraku… semoga kegundahanku menjadikan semangat baru, untuk terus dan senantiasa memperbaiki kualitas diri kita, menuju generasi robbani. Wallahu’alam bis shawab.

GSG FIK Unnes, Semarang, 25 Juli 2009 pukul 14.51.20 WIB
Yang fakir akan ampunan Rabbnya

Dwi Purnawan (Ketua KARISMA FIK)

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s