Serial Rindu


Jum’at petang (19/6) ba’da maghrib, sekitar pukul 18.25, ada semangatmas wawan untuk memacu si kuda besi kesayanganku untuk bergerak lebih cepat lagi, menyusur dari Banaran ke sampangan, meliuk – liuk melewati bus Minas, angkot oranye, tapi berhenti tepat di belakang marka ketika lampu merah menyala di daerah Kaligarang. Begitu juga dijalur – jalur selanjutnya setelah itu, karena hari itu ada hal yang luar biasa yang akan terjadi untukku. Ingin segera aku sampai ketempat Paklik, karena ada suatu hal yang spesial bagiku disana pada hari itu. Walaupun si smash sudah kupacu kencang, tetap saja sang waktu terasa lambat sekali, jam seperti diganduli malaikat, terasa lama sekali, apalagi ketika melewati jalur Kaligawe-Terboyo-Genuk. Asap kendaraan, debu – debu yang menyakitkan mata, dan kemacetan yang luar biasa lamanya sangat menjenuhkan sekali, sebentar – sebentar berhenti, sebentar – sebentar berhenti lagi, begitu seterusnya, apalagi ketika disamping kanan – kiri truk – truk, mobil, bis, dan motor seperti tidak mau kalah untuk saling mendahului. Sangat ruwet. Itulah keadaan saat itu, karena memang daerah kaligawe sampai genuk dan perbatasan Demak sedang ada proyek peninggian dan pengecoran jalan utama, agar kemungkinan terjadi banjir agak berkurang.  Tapi aku tidak memikirkan hal itu, yang aku pikirkan adalah aku segera sampai di Sayung, tempat paklik, karena aku akan segera bertemu dengan orang yang selama 5 tahun lebih menghilang dari kehidupanku, ya, beliau adalah kakak tercinta. Mas Wawan.

Ketika sampai di jalan dengan tulisan besar, Selamat datang di kota wali, jantung ini semakin berdegup kencang, ingin sekali rasanya aku segera bertemu dengan kakak, dan Ibu serta my dady yang juga ikut serta ke Semarang. Ketika sampai di Masjid  dekat rumah paklik, Alhamdulillah sholat Isya’ berjama’ah belum selesai, masih bisa masbuk. Segera kuambil air wudhu dan kutunaikan sholat Isya’ berjama’ah. Kutunda sejenak rasa kangenku untuk tetap lebih mengutamakan sang pencipta hati, sang pencipta segalanya, Allah Rabbul Izzati untuk rehat sejenak dengan sholat, memulihkan energi yang hilang, mencharge ruhiyah agar kembali full. Setelah sholat Isya’ selesai, sayup – sayup dibelakang diteras masjid terdengar suara yang taka sing lagi, keras dan tegas, ya itu adalah suara kanjeng rama, segera kepercepat  zikirku, lalu bergegas shalat  sunnah, lalu segera kulangkahkan kakiku untuk menuju kearah sumber suara itu. Ketika sampai di beranda masjid, kulihat sosok agak pendek dan gemuk tersenyum kepadaku, taka asing bagiku sosok ini, ya dialah mas Wawan, yang selama 5 tahun belum pernah bertemu muka dengannya, kupercepat langkah untuk memeluknya untuk melepas rindu, tapi ketika sampai didekatnya…. Plak!!.. sebuah tendangan melayang kearah paha kaki kiriku. Oh iya aku baru ingat, kakakku satu – satunya ini beda dengan yang lain, dan segera kubalas tendangannya itu dengan pukulan tepat kearah perutnya, sebagai tanda kangen. Akhirnya, do’aku selama ini terkabul sudah, aku bertemu dengan kakak tercinta mas Wawan. Dan juga kanjeng rama lan biyung. Duh senangnya, ketemu sodara. Mungkin waktu sehari semalam tak cukup untuk menumpahkan rindu pada keluarga, pada Ayah Bunda yang selam 4 bulan belum ketemu, dan dengan kakak yang selama 5 tahun belm pernah ketemu. Akhirnya, mungkin aku hanya akan menulis sedikit syair untuk mengobati rasa rindu

Di hari Lebaran itu…

Seharusnya aroma kebahagiaan terpancar dihari kemenangan itu…

Namun tidak bagi keluargaku

Kulihat ibu menangis tersedu….

Menanti seseorang yang tak kunjung datang

Menunggu seseorang yang tak pernah pulang

Akupun demikian…

Kulihat sang rama tersenyum pahit

Menanti seseorang yang pergi entah kemana

Menunggu seseorang yang jarang kerumah

Akupun demikian….

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun

Lebaran berikutnya, suasana kesedihan itu masih ada

Lebaran selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya

Akhirnya… tiba pada suatu waktu

Waktu dimana kerinduan itu bertumpah ruah

Karena…

Yang kami tunggu…. Telah datang…

Selamat datang kembali saudaraku

Selamat berjuang kembali dan lagi dan lagi

Tuk persembahkan yang terbaik…

Bagi keluarga, Bangsa, dan negara

Jum’at, 26 Juni 2009 pukul 11.02.44

Dari atas meja di pojok kamar kos di Kota Semarang

Ditulis dengan tetesan airmata

Dwi Purnawan

One thought on “Serial Rindu

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s