Menggugat Semarang


Semarang, kaline bajir…. jo sumelang yen dipikir….

Sepenggal lagu yang dilantunkan Waljinah tersebut sedikit banyak Becak_Tugu_Muda_Semarang_Central_Javamenggambarkan kondisi kota semarang yang masih penuh dengan problematika – problematika yang kompleks dan rumit sehingga membutuhkan penanganan yang jangka panjang. ketika beberapa waktu lalu, Pemerintah daerah sempat menggelontorkan jargon Semarang Pesona Asia, mungkin yang terbayang dibenak kita saat itu adalah Kota Semarang yang menjadi sebuah Pesona baru di tingkatan Asia. Tetapi sepertinya, ketika melihat kondisi Semarang saat ini yang cenderung stagnan, tidak ada perubahan drastis dari berbagai aspek yang ada, maka jargon SPA sepertinya hanya menjadi sebuah mimpi saja.

Beberapa waktu lalu saya dan teman – teman KAMMI berdiskusi dengan Pak Agus selaku praktisi lingkungan sekaligus Ketua Yayasan BINTARI dan membahas seputar tata ruang kota Semarang dan Kondisi Semarang secara umum. Ada beberapa titik poin dari hasil diskusi tersebut, antara lain bahwa untuk menangani masalah – masalah yang ada dikota semarang tidak cukup kemudian kita mengandalkan beberapa pihak saja, tetapi semua pihak dan yang paling penting adalah masyarakatnya itu sendiri yang harus berubah. Masalah banjir misalnya, banjir di Semarang sebenarnya dari PEMKOT sudah berupaya untuk menyelesaikannya, mulai dari membangun proyek Banjir Kanal Timur dan Barat, sampai membuat pipa pembuangan, tetapi masih ada juga pihak yang berupaya menggagalkan proyek tersebut, dan setelah ditelisik lebih lanjut ternyata masyarakatnya sendiri yang tidak sadar. Kemudian, masalah peninggian tanah dibeberapa tempat seperti daerah Tanah Mas yang juga masih menimbulkan kontroversi berkepanjangan. Tanah Mas sendiri kalau kita ketahui adalah tanah urugan pada zaman Belanda yang dipertinggi dalam rangka untuk memperluas daratan kota Semarang. Tetapi karena sekarang persediaan tanah semakin menipis, maka tanah yang ada di sekitar Tanah Mas – daerah Tawang semakin amblas, bahkan di daerah dekat Tawang dan sekitar kota Tua, ada beberapa rumah yang dulunya itu jendela, sekarang sudah menjadi pintu. Tentu kalau kita melihat kondisi tanah di tanah Mas yang merupakan tanah urug dan amblas, akan tampak ketimpangan yang sangat mencolok antara si kaya dan si miskin.  Si kaya dengan bekal uang yang banyak akan mampu terus menerus menguruk tanahnya, sedangkan si Miskin hanya bisa pasrah. Tetapi yang menjadi masalah lagi, masyarakat semarang juga acuh saja dengan kondisi semacam ini, mereka seakan – akan sudah terbiasa dengan kondisi saat ini, ketika diajak mennaggulangi banjir, mereka hanya menjawab ” yo wis ben, pancen takdire yo koyo ngene, wis biasa”.

Lalu ketika membicarakan masalah penggunaan tata ruang kota, kita juga akan melihat banyak penyimpangan antara yang tertulis dengan apa yang dilakukan dilapangan. Ketika dalam arah kebijakan pembangunan tata ruang kota Semarang tertulis terciptanya hubungan sinergis antara wilayah kota semarang dengan daerah sekitar, maka poin ini hanya isapan jempol belaka. Karena kita bisa melihat proses Pembangunan RUSUNAWA di derah Unnes Gunungpati yang masih menjadi kotroversi sampi saat ini, dimana kata PEMKOT pembangunan Rusunawa tersebut menyalahi RTRW dan drainase sungai dibawahnya. Kemudian ketika kita mengorek lagi lebih dalam tentang konservasi lahan yaitu adalah pemenuhan kawasan hijau diupayakan sebagai media penyelaras akan kecenderungan degradasi ketersediaan udara bersih dan sehat. Dengan tersedianya ruang terbuka hijau yang cukup diharapkan mampu menurunkan tingkat polusi udara kota, sekaligus sebagai media resapan air hujan yang pada akhirnya berfungsi sebagai media pencegah bahaya banjir. Implementasi program ini dilakukan melalui penyusunan rencana kawasan konservasi dan pengendalian atas implementasi peruntukan lahan serta konservasi lahan kritis. Salah satu contoh kasus tentang kontroversi konservasi lahan ini adalah kita bisa melihat di Ngaliyan yaitu adanya Bukit Semarang Baru (BSB) yaitu adalah sebuah kompleks perumahan dan kawasan industri yang pembangunannya pun  menimbulkan kontroversi tentang konservasi lahan yang tidak memenuhi aturan (60% – 40%) dan masyarakat sekitar pun hanya mendapat rumah kecil jelek dan bekas kuburan lagi. Itupun masih membayar kontrak 1,3 juta pertahun. Tetapi yang lebih ironis lagi, masyarakatnya pun hanya menerima dengan pasrah atas ketidakadilan ini. Anehnya lagi, kalau kita tahu tentang masalah pengairan di pusat kota semarang yang penuh denga gedung – gedung bertingkat nan mewah. Yang menjadi masalah adalah darimana gedung – gedung seperti mall – mall, novotel, dan lainnya itu mendapatkan air?? Dan setelah di telisik, ternyata perlombaan penyerapan air dan pengeboran besar – besaran sudah dimulai, sehingga dampaknya, kita bisa melihat bahwa salah satu contohnya adalah gedung balaikota semarang terindikasi tercemar air laut jawa karena asin. Dan masih banyak lagi perrmasalahan – permasalahan kota semarang tercinta ini.

Judul artikel yang saya buat merupakan sebuah hal yang seharusnya kita lakukan, sebenarnya siap yang pantas kita gugat atas problematika yang terjadi di kota semarang ini, apakah pemerintahnya, atau  masyarakatnya. Ketika misalnya kita menyalahkan Pemerintah Kota, itu juga tidaj adil karena PEMKOT sudah berupaya untuk membangun dan meyelesaikan permasalahan yang ada seputar kota semarang, lalu ketika kita menyalahkan masyarakatnya, sudah barang tentu tidak adil juga. Jadi disini kalau bisa kita ambil sebuah benang merah tentang siapa yang patut kita salahkan atas kondisi semarang saat ini? Yaitu dua – duanya, masyarakat dan pemerintah kota. PEMKOT salah karena proses transformasi kebijakan ke masyarakat tidak menyeluruh dan tidak sepenuhnya tersampaikan, dan masyarakatnya juga salah karena terkesan seperti pasrah karena budaya yang ewuh pekewuh dan segala sesuatunya hanya dinilai dengan materi. Dan solusi akhir yang saya kira tepat adalah sinergi antara masyarakat dan PEMKOT, masyarakatnya sadar diri, PEMKOTnya juga sadar diri, karebna sudah tidak mungkin PEMKOT akan menangani masalah banjir ini sendirian tanpa bantuan rakyat. Saya yakin, bahwa ketika kita rame – rame dalam membangun kota semarang ini, ada sinergitas, ada kerjasama, maka jargon Semarang Pesona Asia bukan hanya sekedar mimpi lagi. Dan tentu suatu saat…. Syair dari lagunya Waljinah akan berubah menjadi …. Semarang, kaline asat…. Kuthane tentrem, ngayemke pikir…. . Semoga.

Iklan

3 thoughts on “Menggugat Semarang

  1. Sebuah himbauan menyejukkan. Kita sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Lihatlah filosofi semut. Kenapa ini perlu, sebab di dunia ini tak ada kebenaran mutlak. Kecuali hukum fisika. Itu juga tidak mutlak penuh. Dan bagi kami orang Cina/Tionghoa, kami orang hanya lebih suka yang klasik yaitu yang ikut Muhammadiyah atau NU. Kami tidak suka yang jenggot2 seperti orang2 PKS, atau orang2 Muslim ektrim lainnya, seperti aliran Maliki, Hambali dan lainnya yang baru “diimpor” ke Indonesia bbelum lama, dan cenderung ekstrim, ada yang pakai jengot, norak. Ahmadiyah sebetulnya baik dan orang-orangnya tidak ekstrim. Tapi karena baik dan bisa banyak pengikut, maka difitnah dan dijegal bahkan mereka dibunuh. Padahal, negeri ini bukan negara Islam, tapi sekuler berdasarkan Ketuhanan YME seperti pada Pancasila, dasar negara, ini sangat penting. Artinya, orang boleh beragama apasaja memilih aliran apasaja selama tidak melanggar hukum nasional.

    Dan ini soal penting rek. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel.
    Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, padahal, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang SBY baru tahu kalau Tifatul itu tidak berguna. Negara mau dikemanakan?

  2. Benar dan tidak benar, itu orang berpendapat boleh2 saja. Kita orang bebas bicara. Apapun. Terkait dengan reshuffle yang sudah dikatakan. SBY bisa maju kena mundur kena. Ada teori menarik dan logika benar dalam politik. Kamu aku tak suka. Orang lain berteman sama kamu. Orang lain itu aku tak suka pula. Saat ini Partai Demokrat, partai berkuasa saat ini, banyak orang tak suka karena partai ini melalui presidennya kurang sekali pro rakyat. Jadi partai yang bersamanya atau yang akan bergabung dengannya pasti akan “selesai”. Tak akan dipilih tahun 2014. Yang oposisi yang akan dipilih. Jadi kalau mau “dipeluk” partai/penguasa, siap-siap untuk kalah.

  3. Kepiye to. Oh Republik Indonesiaku. Ketika pesawat-pesawat tempur Republik Indonesia yang dibayar angsur itu terbang, perasaanku sempat merinding dan sempat yakin Indonesia masih ada. Konon pesawat-pesawat itu tak bisa terbang karena terbatasnya anggaran. Sedih. Kalau saja sumber-sumber alam Indonesia dikelola lebih menguntungkan Indonesia seperti negara-negara Amerika Latinnya Evo Morales, Hugo Chaves atau Kubanya Fidel Castro, kalau saja negeri ini dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang peduli rakyat negara dan bangsa seperti negara-negara tersebut yang tidak mau dibohongi negara lain, lebih suka berdikari dan sumber alam penting digunakan sebesarnya kemakmuran rakyat, korupsi teri dan kakap diberantas benar, jenderal-jenderal polisi dan tentara semuanya dan anggota-anggota DPR yang ikut bermain sandiwara dan pengkhianat rakyat memang benar-benar sayang rakyat dan negara, mau memberi contoh hidup sederhana dan anti korupsi dan memberantas korupsi benar-benar, bukan pura-pura, atau pencitraan, tapi hidup sederhana sesederhana rakyat yang dibuat miskin, dalam merdeka lama, aku yakin Indonesia akan hebat seperti cita-cita Sukarno dan menjadi seperti negara-negara lain tersebut. Tapi mengapa negeri ini dibuat begini? Ketika aku ingat kenyataan Indonesia saat ini, bukan seperti yang dicita-citakan Sukarno, sekajap pun hilang kebanggaanku melihat pesawat-pesawat tempur itu terbang. Hilang pula perasaanku yang tadi sempat merinding dan sempat yakin Republik Indonesia masih ada. Kepiye to.

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s