Muslim or Moslem..?


Saudaraku yang semoga selalu dirahmati Allah, ketika kita melihat bunga yang indah dan wangibritis-pic1, tentu yang terbayang dibenak kita adalah keindahan, keabadian, dan wangi. seperti itulah cinta sejati. Cinta sejati takkan mampu menyembunyikan semerbak wanginya. Eksistensi cinta melebur dalam kelembutan, kecerdasan, keshalihan dan tentu juga keikhlasan yang semoga selalu menyertai setiap jengkal langkah yang kita lewati. Karena tanpa energi keikhlasan maka hidup ini tak terasa hidup, hidup ini mati, persis seperti setangkai mawar yang dipotong lalu diberikan kepada sang kekasih dengan ucapan “Be my love”. Mungkin sejenak bunga itu akan merah merona, tapi setelah itu akan layu, dan mati. Cinta sejati takkan pernah kehilangan semerbak wanginya, tidak akan pernah layu, akan terus abadi, itulah cinta orang – orang mukmin kepada Rabbya, yang takkan kekang oleh zaman, yang takkan pernah pupus oleh apapun. Semoga kita digolongkan orang yang mempunyai cinta abadi, kepada Rabbnya, kepada ikhwafillah, saudara seiman.

Hari ini bukan cinta yang ingin saya bicarakan, ada sebuah pengharapan yang ingin saya sampaikan lebih dari sekedar cinta, tentang identitas kita saat ini, yang ketika kita tahu bahwa identitas kita adalah seorang muslim maka sudah seharusnya kita bangga dengan identitas kita itu. Tetapi seperti yang kita ketahui, bahwa kadang kita tidak bangga dengan kemusliman kita, tidak bangga dengan keislaman kita. Inilah yang sebenarnya menjadi salah satu faktor kenapa kualitas ummat islam saat ini tidak sebaik ketika zaman Rasulullah.

Ketika itu, tahun 2006 seorang teman kita aktivis ROHIS membuat jaket ROHIS, dan ketika jaketnya sudah jadi, banyak yang protes tentang tulisan yang ada dijaket tersebut, yang bertuliskan “MUSLIM FIGHTER”, kata mereka seharusnya katanya diganti “MOSLEM FIGHTER”, karena kata Moslem merupakan bahsa inggris. Sebenarnya kalau kita cermati lebih mendalam, apa perbedaan antara muslim dengan moslem?

Menurut apa yang dikatakan oleh Victor E Frankl, seorang Yahudi Austria yang juga sebagai psikolog dunia pernah survive dipenjara oleh NAZI, ketika itu menyebut rekan – rekannya sesame tawanan yang tidak survive sebagai moslem. Moslem, menurut Frankl adalah mereka yang tidak lagi memancarkan semangat untuk hidup, putus asa, lemah, dan siap untuk dimasukkan kekamar gas. Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah para muslim Balkan penghuni kamp tersebut jauh lebih tangguh dari Yahudi eropa. Kalau kita kembali lagi kebelakang, padaa zaman Reconquesta menyebut Masjid sebagai mosque, hunian mosquito alias sarang nyamuk, begitu juga kata moslem. Kata moslem saat ini bagi sebagaian yang belum paham adalah sebagai bahasa inggrisnya muslim, tetapi mengingat artinya seperti diatas, masihkah kita menggunakan kata moslem dalam bahasa inggris kita, berarti dengan demikian kita menyamakan kemusliman kita dengan sarang nyamuk? Bolehlah kita berbahasa inggris. Tetapi abadikan kata masjid seperti Al-Qur’an menamai. Tetap sebut kata muslim seperti halnya ilmu tajwid menata lafazhnya. Maka muslim, ejaan melayu untuk hamba yang selalu berserah kepadaNya ini teras lebih indah.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang – orang yang menyeru kepada (jalan) Allah, beramal shalih dan mengatakan , sesungguhnya aku termasuk orang – orang muslim!” (QS Fushshilat 33)

Kegemilangan sejarah seorang muslim terukir bukan hanya pasca risalah Nabi Muhammad. Karena muslim adalah gelar agung yang sejak semula disandang para guru peradaban cahaya. Termasuk Ibrahim ‘Alaihiis Salaam. Dialah muslim yang haniif. Yang telah memenggal berhala dengan kapak kecerdasan, yang membungkam Namrud si Tuhan palsu.

Inilah muslim, predikat seoanjang masa yang tak akan kita lepaskan sampai maut menjemput. Muslim, sebuah panggilan indah dari pepohonan dan bebatuan yang akan berbicara di akhir zaman tentang Yahudi, musuh kebenaran ang bersembunyi dibelakangnya.

“Belum akan tiba hari kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan Yahudi. Kaum muslimin membunuh mereka dan mereka bersembunyi di balik batu dan pohon. Lalu batu dan pohon berkata, “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada Yahudi dibelakang saya, mari bunuhlah dia…” (HR Ahmad)

Tetaplah menjadi muslim, muslim yang bangga dengan keislamannya. Para hawari pengikut setia ‘Isa pun memberi contoh bahwa mereka bangga dengan keislamanya. Dan kini para hawari murid ‘Isa telah tiada. Sementara yang mengaku menjadi ahli kitab telah berpaling dari Laa Ilaaha Illallah. Saudaraku, ini giliran kita. Kita, muslim sejati yang selalu mengajak semua manusia kembali kepada kebenaran sejati, kebenaran yang suci, yang saat ini sang suci masih berada dalam lumpur, dan kitalah yang akan membersihkan lumpur itu.

Saudaraku, mari kita naik ke gunung yang paling tinggi, lalu dengan bangga, dengan penuh kemuliaan, kita teriakkan dengan penuh keyakinan, bahwa kita adalah muslim sejati.

Iklan

2 thoughts on “Muslim or Moslem..?

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s