Mengapa harus dakwah


climb-sunri-pic48141 Pada waktu itu negeri Mekkah masih gersang, selain negerinya yang memang sebagian besar adalah gurun pasir, neger ini juga gersang akan kebenaran, disana – sini kemungkaran terus terjadi. Perampokan, berzina, minum khamr, berjudi, dan kemusyrikan berupa penyembahan terhadap berhala (Latta dan Uzza) menjadi sebuah tradisi pada masa itu. Lalu kemudian bersinarlah cahaya kebenaran itu menyapa negeri Ka’bah itu, mengetuk pintu – pintu rumahnya, dan kemudian masuk kedalam hati para penduduk Bani Ibrahim, dan akhirnya bersinarlah cahaya Al – Haq untuk menerangi kegelapan melalui perantara seorang yatim piatu, seorang penggembala kambing, dialah Muhammad bin Abdullah, yang telah digariskan oleh Allah menjadi pembawa berita kebenaran, menjadi perantara kebenaran Al – Islam, ya Al – Islam seperti yang ajarannya kita laksanakan sebagai sebuah ideologi saat ini, adalah Agama yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam, agama yang tentu tidak hanya menjadi sekedar simbol bagi kita, tetapi menjadi sebuah kepribadian, kepribadian Islam, dan kepribadian da’i.

Sejak zaman Rasulullah SAW menyampaikan kebenaran Islam hingga detik ini, tentu sudah tak terhitung pula ummat yang menancapkan panji Al – Islam dalam hatinya, untuk menjadi ummat yang kelak mendapat syafa’at dari sang qudwah. Amin. Dan kalau antum tahu, dan mungkin juga sudah tahu, bahwa dakwahlah yang merubah segalanya, merubah negeri yang jahiliyah menjadi sebuah negeri dengan peradaban Islam. Dakwahlah yang merubah seorang Ummar Ibn Al Khattab yang semula menentang Islam akhirnya menjadi bagian dari Islam, bahkan menjadi seorang khalifah yang disegani pada masa Rasulullah. Dakwahlah yang merubah seorang nenek yahudi buta yang semula begitu membenci Muhammad akhirnya memeluk Al – Islam yang mulia ini. Ketika Prabu Majapahit (afwan, ana lupa namanya) menyatakan diri masuk Islam, padahal sejak awal negeri Majapahit terkenal dengan peradaban Hindunya, dakwahlah yang telah mengubahnya. Ketika Aa Gym mampu membuat masyarakat sekitar menjadi lingkungan yang Islami, dakwahlah yang telah merubahnya. Sekali lagi ana tegaskan akhi wa ukhti, dakwahlah yang telah merubah dari kegelapan menuju cahaya kebenaran abadi, Al – Islam. Dakwahlah yang merubah kehncuran ummat menuju kemashlahatan ummat, dakwahlah…. dakwahlah …. dan dakwahlah.

Ketika ana mengikuti Dauroh Marhalah I, yang diadakan oleh KAMMI KOMSAT sekitar tahun 2006-an akhir di Ungaran, pada waktu itu saya masih ingat MC disela – sela acara memberikan pertanyaan : Siapa antum ?, lalu kemudian peserta menjawab : kami adalah para pejuang – pejuang dakwah, kemudian MC memberikan pertanyaan lagi : untuk apa antum disini ?, dan peserta dauroh kembali menjawab : kami disini untuk berdakwah, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, karena disitu ada kemungkaran, disitulah kami berada..Allahuakbar…!!!. Saat itu kata yang terucap dari setiap peserta begitu tegas, keras, dan penuh emosi. Suasananya begitu bergemuruh, penuh dengan kesemangatan yang luar biasa tinggi. Harusnya setiap dari kita, para aktivis dakwah selalu berikrar dalam hati ini dengan ucapan yang sama seperti peserta DM tersebut, setiap saat, dimanapun, kapanpun, karena sekali lagi akhi wa ukhti, seorang kader dakwah sejati akan selalu siap untuk mengajak kepada Al – Haq dan mencegah Al – Bathil, sesuai dengan manifestasi dari dakwah itu, menggapai kemashlahatan ummat dengan mengurangi mafsadah. Jangan sampai ketika kita, misalnya di hadapkan pada sebuah kondisi lingkungan yang sangat tidak menentu justru kita malah terlarut, lebur dalam lingkungan itu dan perlahan kualitas tarbiyah kita mulai luntur dan hilang samasekali. Naudzubillah. Justru ketika kita dihadapkan pada lingkungan yang tak menentu itu predikat kita sebagai kader dakwah senantiasa terjaga daan bahkan mampu mempengaruhi lingkungan itu untuk menjadi lingkungan yang islami.

Ustadz Anis Matta pernah menyampaikan bahwa dalam perspektif islam, politik adalah subsistem Islam. Tentunya dalam konteks pembangunan peradaban menuju kampus religious seperti yang kita cita – citakan (Insyaallah), maka dakwah harus mempunyai kekuatan yang memadai dan juga yang terpenting kita harus mendapatkan dukungan kekuasaan untuk merealisasikan Islam, merealisasikan akhlak sang qudwah kedalam dunia kampus kita. Dan proyek jangka panjang menuju kampus religius ini mengharuskan kita untuk memandang belahan – belahan budaya di kampus kita (kampus yang berciri khas sportif dan energik) dan juga belahan politik bukan lagi terpisah, tetapi harus dalam kesatuan kerangka pemikiran. Dimana antara keduanya,-sosial budaya dengan politik- diintegrasikan dalam suatu gerakan sosial budaya sebagai sarana melakukan mobilitas horizontal dan gerakan politik untuk melakukan mobilitas vertikal.

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s