Regenerasi Masjid


Oleh :

Dwi Purnawan (Mahasiswa PJKR FIK UNNES’06)

 

muslim-building-sunsetSawah yang terhampar luas nampak berkelok kelok karena berada di daerah perbukitan atau yang disebut juga sawah teras iring dan padinya siap dipanen, mentari yang bersinar tak terlalu cerah sehingga menawarkan kesejukan, pepohonan yang mayoritas didominasi oleh pohon kelapa yang bergerak malas menambah kesejukan, bukit – bukit berwarna hijau menambah indahnya pemandangan sore itu, ditambah lagi sekelompok anak – anak remaja yang sedang asyik bermain sepakbola menambah semarak sore itu. Pemandangan tersebut kalau digambarkan dengan tinta adalah seperti gambar pemandangan yang saya lukis diwaktu SD dulu. Itulah sekelumit kisah awal yang saya saksikan dari atas sepeda motor ketika pulang kampung ke daerah Pacitan, Jawa Timur. Begitu indahnya gambaran pemandangan itu sehingga kalau dinilai pun pasti dapat 100. Namun, ketika melewati waktu maghrib, sebuah cerita lain yang menjadikan sebuah pertanyaan tersendiri terjadi. Serombongan orang yang kira – kira berusia setengah baya, berbaju rapi dengan kopiah dan sajadah dipakai nampak berjalan menuju masjid, tentu untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah, kemanakah para pemudanya? Tidakkah mereka tergetar hatinya ketika suara adzan memenggil untuk mengajak sholat berjamaah dimasjid, ataukah mungkin mereka belum paham tentang keutamaan sholat berjamaah dimasjid? Padahal kalau secara logika, orang tua akan segera mati dan yang menggantikan untuk menjadi imam adalah pemuda yang tentunya jiwa sebagai seorang mas’ul (pemimpin) harus dilatih secara kontinyu sejak dini.

Hal inilah yang menjadikan problem mendasar mengapa umat islam sekarang menjadi terbelakang daripada umat – umat terdahulu. Pemudanya lebih cenderung mementingkan hal – hal yang bersifat keduniawian yang sudah jelas – jelas nilai kemudharatannya lebih banyak dari manfaatnya. Padahal sudah jelas kalau pemuda adalah calon – calon pemimpin masa depan yang menggantikan pemimpin pada saat ini. Nah kalau jiwa pemuda sudah tak lagi terpaut dengan masjid, dengan Al – Qur’an, dengan As – Sunnah dan tentunya dengan Al – Islam, mau dibawa kemanakah bangsa ini? Mungkin sudah banyak para pemimpin kita yang tersangkut berbagai kasus terlarang, seperti suap, korupsi, narkoba, padahal ketika mereka ditanya tentang Agama, mereka menjawab beragama islam, lalu dimanakah letak keislamannya? Padahal islam tidak pernah mengajarkan hal munkar. Kalau kita kaitkan antara kasus – kasus yang menimpa para pemimpin yang notabenya beragam islam tersebut dengan sikap para pemuda terhadap masjid maka akan menjadi jelas bahwa mereka hatinya tidak terpaut lagi dengan masjid, sehingga mereka tidak mempunyai ruh untuk melawan nafsu – nafsu syaithon yang disetipa waktu terus menggoda. Mereka beranggapan bahwa sholat berjamaah dimasjid adalah  urusannya para orangtua, karena akan segera mati. Statement seperti inilah yang sering dijumpai dikalangan pemuda. Paradigma pemuda terhadap masjid seperti inilah yang spertinya harus diubah. Kalau kita bandingkan masjid dizaman Rasulullah dengan masjid saat ini perbedaanya bagaikan bumi dan langit lapis ketujuh, jauh sekali. Masjid di zaman Rasulullah adalah sebagai pusat kegiatan umat islam, mulai dari ibadah, beramal ijtima’i atau bermusyawarah, masalah ekonomi, dan lain sebagainya, lain halnya dengan saat ini, yang mayoritas umat islam di Indonesia belum mengoptimalkan fungsi masjid sepenuhnya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, bahwa ada tujuh golongan yang mana hal itu sangat disukai Allah, diantaranya adalah hati pemuda yang salalu terpaut pada masjid, mengabdikan spenuhnya untuk masjid, dan Allah lebih menyukai pemuda yang ada dimasjid daripada orangtua. Dari sabda rasululullah ini, tidakkah kita tergelitik hatinya sebagai seorang pemuda untuk menggerakkan langkah menuju masjid, yang kita semua tahu bahwa setiap langkah kita dihitung sebagai pahala yang akan menambah punndi – pundi amalan kita, tidakkah kita berfikir sedalam itu? wallahu a’lam bishowab

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s