Jadilah Generasi Pemikir


Oleh : Dwi Purnawan (PJKR/FIK/UNNES)

www. terpaksabikinwebsite.wordpress.com

penyesalan“Berikan aku 10 pemuda, maka akan aku akan guncangkan dunia” Bung Karno

Pemuda adalah salah satu tonggak keberlanjutan estafet kepemimpinan, setidaknya itulah maksud dari ucapan Bung Karno tersebut, dan hal itu memang benar adanya, karena kita tahu, negeri ini didirikan juga oleh kaum muda. Soekarno, Muhammad Natsir, Hatta, Dr. Soetomo, adalah sang  tuladha , bagaiman pemuda (dengan  jiwa kritis, analitis, dan tentunya idealismenya) mampu berdiri di barisan terdepan memegang tongkat estafet kepemimpinan. Karena memang,  salah satu tanggungjawab kaum intelegensia (pemuda/mahasiswa) adalah menjadi agen perubahan (agent of change) masyarakat atau transformasi sosial dan budaya. Oleh karena itu apa yang menjadi titik perhatian bangsa yang terus menerus menjadi concern (kepedulian) masa kini dan masa depan, menjadi relevan untuk ditranformasikan di dalam dunia pendidikan, apalagi pendidikan tinggi. Mahasiswa, yang notabenenya disebut sebagai masyarakat intelektual yang dituntut untuk memiliki high quality dalam segala aspek, baik aspek akademik, verbal, social controlling, dan sebagainya. Selain sebgai agent of change, mahasiswa juga sebagai social controll bagi keberlangsungan demokrasi, baik demokrasi di dunia kampus, maupun demokrasi dalam arti sesungguhnya (yang saat ini wacana demokrasi ini mulai meluntur). Artinya disini mahasiswa bertindak sebagai elemen oposisi yang dituntut untuk tidak hanya berkutat pada study oriented, tetapi bagaimana mengangkat kembali idealisme mahasiswa yang perlahan mulai menampakkan sebuah kemunduran, yang tentunya disebabkan oleh banyak faktor.

Kita tentu tahu, bahwa sudah pasti yang tua akan digantikan oleh kaum muda, dan itu adalah hukum alam yang sudah pasti terjadi. Tetapi yang menjadi pemikiran kita adalah sejauh mana pemuda itu memperssiapkan dirinya untuk memimpin, yang tentunya kita tahu bahwa seorang pemimpin dituntut memiliki kapabilitas dan kompetensi yang diatas rata – rata. Penguasaan ketrampilan dalam semua bidang adalah hal mutlak yang harus dipersiapkan oleh seorang calon pemimpin, akan tetapi, yang paling penting kemudian adalah pemikiran dari calon pemimpin tersebut, karena tentunya kita juga sangat mahfum bahwa tidak banyak dari para pemimpin kita yang menjadi seorang pemikir, padahal tentunya seorang pemimpin adalah pemikir, pusat dari segalanya.

Dalam dunia kampus, adalah sangat penting bagi mahasiswa untuk menggembleng dirinya dengan berbagai aktifitas yang tentunya akan meningkatkan kualitas diri, dengan melatihkembangkan jiwa  – jiwa kepemimpinan, leadership, kemampuan verbal, kemampuan akademik, dan kemampuan menggali dan menerapi jiwa idealisme mahasiswa.

Akan tetapi yang menjadikan problematika saat ini, tentang kepemudaan, adalah bahwa banya generasi muda kita yang “lupa”, siapa sesungguhnya mereka, dan untuk apa berada dikampus. Mahasiswa kita lebih banyak berkutat pada kepentingan diri semata, kampus, kos, dan pacaran adalah kegiatan sehari – hari yang dilakukan oleh para pemuda. Banyak mahasiswa kita terjerumus kedalam arus hedonisme dengan segala kenikmatan semunya sehingga hal ini akhirnya mematikan potensi pemuda sebagai arsitek peradaban. Jiwa – jiwa pemikir dalam otak pemuda perlahan mulai dihilangkan dan diganti menjadi jiwa – jiwa konsumtif, dengan kapitalisme senagai dalang dari hednisme itu sendiri. Kalau dalam sebuah siklus, dapat digambarkan bahwa hedonisme adalah terror nyata bagi kaum – kaum pemikir (mahasiswa), kapitalsime sebagai raja, dan tentunya mahasiswa sebagai korban dari hedonism itu sendiri. Dan kampus, sebagi tempat belajar dari calon pemimpin itu, sudah disetting sedemikian rupa oleh si peneror, sebagai pasar modal yang sangat menggiurkan investor – investor kapitalis untuk memasarkan produknya, melalui media iklan, tentunya.

Sebagai pemuda, atau mahasiswa, sudah saatnya kita sadar, bahwa mahasiswa bukan lagi sekedar menjadi agen dari sebuah perubahan (agent of change), tetapi saatnya menjadi pemimpin dari sebuah perubahan (leader of change), dan kita harus tahu satu hal, bahwa saat ini mahasiswa kembali ke titik terlemah, dan kita sudah disetting untuk tidak lagi menjadi generasi pemikir, melainkan hanya sebatas budak – budak peradaban. Lalu yang tentunya kita pertanyakan kepada diri kita, sudikah kita menjadi seorang budak, yang hanya disuruh sana – sini, tanpa imbalan apapun. Saatnya, bahwa generasi pemikir itu segera kembali, dan siap berperang dengan teror – teror pemikiran. Wahai pemuda, jadilah generasi pemikr. (Dwik/010808)

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s