Merdeka..??


 

Oleh: Dwi Purnawan (Mahasiswa PJKR/FIK/UNNES)

http://www.terpaksabikinwebsite.wordpress.com

 

 

Ahad, 17 Agustus 2008 tentu menjadi momentum bersejarah bagi kita semua, rakyat Indonesia yang merayakan kemerdekaan Indonesia ke 63. Seperti biasanya, kemeriahan menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia sangat terasa di seluruh daerah di Indonesia. Di gang – gang sempit, dilorong – lorong kampung, di sudut jalanan, di kantor – kantor, sekolah – sekolah semuanya tak lepas dari nuansa merah putih dengan berbagai corak. Ada yang berbentuk bendera, spanduk, umbul – umbul, dan bentuk dan corak yang lainnya. Berbagai macam perlombaan, mulai dari lomba permainan tradisional, seperti balap karung, gobak sodor, sampai dengan perlombaan tarkaman pun digelar. Tua muda, besar kecil, kakek nenek, ibu – ibu, semuanya larut dalam kegembiraan dan kemeriahan tahunan ini. Seorang bocah tertawa renyah ketika dia menyentuh garis finish dalam lomba balap karung, sedangkan di area lain, si bapak rela belepotan pelumas bekas demi mendapatkan sepeda di puncak pohon pinang, belum lagi sekelompok ibu – ibu yang bersasut – sahutan memukul lesung dalam perlombaan pukul lesung. Tepat, tanggal 17, seperti biasanya anak sekolah, guru, dan kaum pelajar melakukan upacara kemerdekaan di lapangan upacara masing – masing. Malamnya, alunan musik dangdut memecahkan kesunyian dan merekapun larut dalam kemeriahan ulangtahun kemerdekaan. “Merdeka mas“, kata salah seorang pemuda sambil terus bergoyang dengan asap rokok tetap mengepul. Sementara itu, disiang hari yang terik dipinggir trotoar, seorang penjual bendera rela berpanas – panasan sambil terus mengais harap semoga bendera merah putih dengan berbagai corak yang dijualnya akan laku. Tak jauh darinya, seseorang dengan pakaian yang sobek – sobek, dengan wajah dan rambut kusam terus menengadahkan tangannya keatas sembari mengharap receh dari mercy – mercy yang melaju didepannya, ia seakan tak peduli kalau bulan ini adalah bulan istimewa bagi ‘rakyat’indonesia, karena dari tahun ketahun tak ada yang beda, tak ada wajah ceria menghiasi dirinya, ia selalu menjadi pegawai tetap, menjadi pemburu uang demi mempertahankan hidup, bukan pemburu uang untuk memperkaya hidup.          

Benarkah kita sudah merdeka, benarkah kita sudah sepenuhnya bebas dari penjajahan, bebas dari penindasan, karena rasanya terlalu naïf jika kita mengatakan kata merdeka dari satu sisi saja, sementara banyak diantara kita yang masih terkungkung dalam penindasan, dalam belenggu kemiskinan, dan sebagian anak bangsa kita lebih asyik dalam kenikmatan duniawi, mereka menjadi budak dari kapitalisme modern. Setiap tahun, setiap kita merayakan 17 Agustus, tak ada yang beda dan berubah, setiap tahun, kita melihat kemeriahan yang semu, tetapi disisi lain kita juga masih menyaksikan pula masih banyak saudara kita yang masih belum merasakan makna merdeka sepenuhnya, karena makna merdeka yang mereka tahu adalah mampu bertahan dan menghidupi keluarga mereka secara layak, itu saja. Sedangkan makna merdeka bagi sebgaian orang lainnya adalah menghambur – hamburkan rupiah untuk sekedar merayakan hari ulang tahun kemerdekaan dengan hiburan semu semata. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya kita belum merdeka, karena kita masih saja ditindas dan dijajah oleh penjajah yang lebih sadis dan kejam dari zaman penjajahan. Ya, sebenarnya saat ini, kalau kita sadar, kita sedang ditindas oleh penjajah bernama kapitalis, para penumpuk modal, dan jiwa hedonis yang semakin lama semakin menggerogoti akal sehat dan nurani kita.

Henry A Giroux, dalam bukunya, The Fugitive Culture, mengatakan bagaimana rezim kapitalisme telah menguasai kedaulatan publik, menguasai sebuah negara dengan mengobral janji – janji semu dengan kenikmatan semu. Mereka menggiring kita untuk masuk dalam lingkaran setan hedonis, gaya hidup yang kebarat – baratan, dan parahnya, mereka menggunakan kaum muda sebagai sasaran tembak utama dalam upaya menguasai peradaban. Pemuda, yang diharapkan menjadi arsitek peradaban, menjadi generasi penerus estafet kepemimpinan bangsa telah berganti menjadi arsitek penghancur peradaban, setidaknya itulah harapan dari para penjajah itu, dan sekarang mereka pun mulai tersenyum bahagia karena mereka mampu meyakinkan pandangan masyarakat bahwa pemuda, yang diharapkan kontribusinya, hanya dianggap sebagai perusuh, drug user, itu saja. Selain itu, dalam representasi yang muncul diberbagai media, kaum muda diidentikkan dengan budaya pornografi. Tubuh – tubuh ramping dan sensual kaum muda ditampilkan secara mencolok demi menarik profitabilitas dan akumulasi kapital. Serangan dan teror terhadap kaum intelegensia dalam representasi media ini terlihat sangat gamblang dan jelas dengan cara yang sangat halus dan menjerat. Kalau kita lihat contoh nyata tentang penindasan dari kapitalis saat ini ada di kampus – kampus dinegeri ini. Privatisasi pendidikan adalah contoh nyata bagi kesadisan kapitalisme, akibat yang terjadi dari hal ini tentu saja adalah penyempitan akses terhadap anak negeri yang meskipun memiliki kemampuan intelegensia baik, namun harus bernasib malang karena orangtuanya tidak mampu membayar biaya pendidikan yang mencekik leher. Dari hal semacam inilah, kemudian muncul berbagai problematika sosial, mulai pelacuran, narkoba, sampai tindakan – tindakan kriminal lainnya. Intinya, pemuda/mahasiswa dinegeri ini sedang mengalami penindasan oleh kaum kapitalis. Kostruksi dan gaya hidup merupakan faktor diantara faktor lain yang merupakan pintu masuk bagi kapitalis untuk bertahan dan melakukan penindasan. Kalau kaum muda menjadi bodoh dan tidak terdidik, dan pengetahuan dijauhkan, siapapun akan menjadi serombongan makhluk idiot dan penurut yang dengan begitu mudahnya diarahkan, dibentuk, dikuasai, ditindas, demi kepentingan segelintir elite (modal) yang memegang kekuasaan, setidaknya itulah harapan dari para penjajah tersebut.

Disisi lainnya, ketimpangan – ketimpangan lainnya pun akan dapat kita saksikan, gedung – gedung bertingkat tampak berjejer memamerkan segala kesombongan dan keangkuhannya, sementara gubuk – gubuk beratap dan berdinding kardus yang mulai usang tampak mengiba dan memelas, dan ini adalah pemandangan yang dapat kita saksikan di kota metropolitan, yang tentunya semakin memberikan bukti bahwa kapitalis memegang kekuasaan tertinggi dan semakin menjajah nurani kita, menggerogoti akal sehat kita, dan pada akhirnya nanti, kita akan menjadi robot – robot manusia yang diarahkan semau mereka. Lalu, masihkah layak kalau kita disebut sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, padahal kenyataannya kita masih tertindas, kita masih terjajah oleh penjajah yang lebih sadis dari sebelumnya. Tetapi parahnya, kita tidak sadar bahwa kita saat ini sedang dijajah, sedang ditindas, bahkan kita merasa enjoy, kita seakan terlena dan mabuk akan kepuasan semu, padahal sebenarnya, kehancuran bangsa sudah mulai nampak. Rupanya kita sebenarnya keliru memaknai arti dari merdeka yang sesungguhnya, karena kita memaknai merdeka dari sudut pandang yang sangat sempit, bahwa merdeka itu bebas dari penjajahan imperialis, dan mendapatkan sebuah kedaulatan, padahal sebenarnya makna merdeka itu sangat luas, kita bebas dari penjajahan dan penindasan, itulah makna merdeka yang sebenarnya. Mungkin, saat ini, para pahlawan yang dulu turut andil dalam mendirikan negeri ini tidak dapat tidur dengan nyenyak, bahkan mungkin menangis, karena menyaksikan kita masih terjajah. 10 pemuda yang dulu pernah diharapkan bung karno untuk mengguncang dunia mungkin saat ini tidak pernah ada, karena 10 pemudanya itu lebih sibuk nongkrong, gitaran sambil menghisap  batang rokok, lalu malamnya membeli vodka untuk dinikmati sambil main kartu, atau kalau tidak, mereka menyendiri disudut gang sambil menghisap ‘serbuk penyemangat’. Begitu juga dengan para perempuan yang didambakan Kartini untuk memimpin bangsa tampaknya tidak ada, karena para perempuannya lebih sibuk keluar masuk night club dan lebih sibuk untuk ‘mengejar mas – mas’, atau sibuk mendadak dangdut (tamasya ke binaria dan pulang – pulang berbadan dua).

Sebenarnya kita sudah memiliki modal yang cukup unuk membuat negeri ini menjadi madani, menjadi negeri yang berdaulat, menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, menjadi negeri amarta baru, menjadi negeri yang merdeka sepenuhnya, kita memiliki potensi – potensi alam yang sangat kaya raya, hasil bumi, tambang, dan kekayaan laut kita lebih dari cukup, bahkan sangat mencukupi. Tetapi negeri ini, saat ini, tidak memiliki kemampuan untuk mengelola segala sumber daya yang ada, walaupun kita memiliki banyak professor, banyak doctor dibidangnya, mereka hanya sibuk untuk mengurusi di sendiri, sibuk memikir bagaimana supaya kekayaannya betambah, bukan memikirkan rakyat Indonesia, yag ternyata prosentase kemiskinan di negeri ini terus betambah dari tahun ketahun. Kita tidak memiliki sosok pemimpin yang mampu mengayomi rakyatnya, kita tidak memiliki seorang Prabu Yudhistira, yang memimpin negerinya dengan arif bijaksana sehingga amarta menjadi Negara yang berkeadilan dan sejahtera, tentunya,  kita tidak memiliki seorang Bima, yang dengan kewibawaannya mampu membuat Amarta menjadi negeri yang makmur, inilah sebenarnya masalah kita, selain masalah penjajahan kapitalis, tentunya.

 Tetapi walaupun begitu, walaupun penjajah negeri kita saat ini terus nenebar ancaman, dan sosok sosok Yudhistira, sosok Bima di negeri ini belum menampakkan diri, tentu masih ada secercah sinar harapan untuk bangkit. Bangkit dari keterpurukan dan krisis multidimensi di Indonesia, harapan untuk menghadirkan mimpi yang dulu pernah diperjuangkan para founding father di negeri ini masih sangat mungkin. Dan semangat perjuangan untuk merdeka, yang saat ini hadir didada kita, menggelora dan akhirnya membuncah menyebar keseluruh tubuh kita semoga menjadi sebuah semangat yang dulu pernah ada didada arek – arek suroboyo, didada Jenderal Sudirman dan pasukan gerilyanya, semngat perjuangan untuk melawan penjajah era baru, semangat untuk menghadirkan Indonesia baru yang merdeka. Saat ini, mulai sekarang, saatnya kita sadar, bangun dari mimpi kita tentang kemerdekaan, dan merajut benang – benang harapan untuk menjadi sebuah kain kain kenyataan, lalu diatas kain itu kita tuliskan dengan tinta perjuangan, sebuah kata yang menjadi impian banyak orang dinegeri ini, kata MERDEKA!

Iklan

2 thoughts on “Merdeka..??

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s