Mahasiswa dalam jebakan teror kapitalisme modern


Oleh : Dwi Purnawan (Mahasiswa PJKR FIK UNNES)

Seringkali kita mendengar kata teror ini dalam kehidupan sehari – hari, tetapi bukan teror dadar ataupun teror ceplok yang akan kita bicarakan dalam artikel ini. Teror sebenarnya adalah suatu hal yang intinya agar kita bertekuk lutut, yang membuat kita tidak bisa apa – apa. Tetapi yang paling membahayakan dari teror adalah fahamnya, yaitu faham terorisme. Sebenarnya inti dari teror adalah mengubah mental kita, mengalihkan keinginan – keinginan dan harapan – harapan kita. Kita mungkin pernah mendengar cerita tentang kasus teror ini, misalnya saja teman kita. Teman kita mungkin diteror lewat telepon. Ia diteror dalam bentuk kata – kata ancaman. Ia akan dibunuh oleh si penelepon kalau iaterus mendekati cewek yang didekati oleh teman kita, untuk dijadikan pacarnya. Si penelepon, sang peneror mengaku bahwa ia adalah pacar cewek itu (mungkin juga orang yang sama – sama mengejar cewekitu). Paling tidak, dalam kasus ini se peneror telah berhasil mewujudkan keinginannya supaya teman kita tak lagi mendekati cewek yang dimaksud, supaya tidak tersaingi untuk memburu cewek itu.

Teror mengandung unsur persuasi dan provokasi; melalui kata – kata dan ancaman yang dibuat, ia ingin membuat kita tunduk pada apa yang diinginkankan peneror (teroris). Kadang ia juga berusaha menghilangkan harapan serta sekaligus menjejalkan harapan baru yang lain. Dalam hal ini, teror bukanlah tujuan-kecuali oleh orang iseng-tetapi merupakan alat untuk memperoleh tujuan yang diinginkan peneror. Ia mengubah mental, mendatangkan ketundukan (submission), dan merengkuh kekuasaan. Kita yang diteror adalah orang yang ingin dikuasai supaya tujuannya tercapai dalam kondisi kita yang tunduk. Bisa karena ketakutan, bisa karena perubahan mental, atau bisa kehilangan kesadaran. Jadi, teror mental adalah yang paling membahayakan. Teror yang lebih mengerikan adalah teror yang membentuk, bukan teror yang menghancurkan atau merusak.

Kalau kita kaitkan teror ini dengan kondisi era globalisasi yang serba hedonis saat ini, iklan adalah teror, penumpuk modal (kapitalis) adalah teroris. Dan Kapitalisme adalah terorisme itu sendiri. Dan sebenarnya kitalah korban dari terorisme itu sendiri. Iklan datang dan menyerang kita (khususnya mahasiswa) lebih banyak daripada yang lainnya. Dewasa ini, perkembangan kapitalisme telahmendatangkan guru – guru moral kebajikan baru bagi kaum muda dan remaja. Meskipun jiwa – jiwa religiusitas tetap ada, tetapi iklan lebih sering menasihati dan mengajari kaum muda. Iklan mendatangi kita tiap lima menit sekali di layar TV ataupun  media yang lain; ia terpampang di sekitar mereka ketika sedang berada dimanapun, dikeramaian dan tempat – tempat lain. Bahkan, dalam matakuliah -yang frekuensinya relatif sedikit- kita mendapat pendidikan moral yang dangkal dalam pendidikan yang telah mengabdikan diri bagi usaha penumpukan modal. Tapi iklsn, sinetron, telenovela, film, lebih sering memberikan pelajaran pada kita. Para kapitalis meneror kita tiap detik, jam, hari, dan setiap waktu, supaya kita hanya membeli dan mengkonsumsi produk – produk mereka; supaya mereka untung dan modalnya bisa bertumpuk – tumpuk.

Secara tidak sadar, manusia modern-kapitalisme telah menjadi gila. Mungkin mereka dianggap, secara common -sense, normal – normal saja. Tetapi apabila kita membaca teori kegilaan Freud dan Michel Foucault, kita akan tahu bahwa kita akan benar – benar gila. Kita (maaf) merosot menjadi binatang dan benda – benda. Dan hanya dengan menjadi berbeda dan melawan penindasan kaptalistik saja kita akan menjadi manusia.

Mahasiswa, yang tentunya dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual dan juga jiwa kritis dan mempunyai sebuah idealisme yang tinggi ternyata lambat laun mulai dijajah oleh para teroris – teroris modern tersebut. Mahasiswa telah dialihfungsikan dari gerakan yang berujung pada sejarah terciptanya keadilan sosial bagi rakyat menjadi pelaku – pelaku kriminal yang harus “dibina dengan baik”. Sebenarnya, sejarah gerakan mahasiswa adalah sejarah pembebasan rakyat, sejarah perubahan bagi terciptanya keadilan sosial. Di Indonesia, gerakan mahasiswa adalah gerakan oposisi yang lahir atas kondisi historis untuk menjawab penindasan bangsa. Akan tetapi, pada perkembangannya, hakikat mahasiswa sebagai “siswa” yang “maha”, lambat laun mulai terbalik menjadi budaya konsumen dan anak”modal”. Mahasiswa justru tidak hadir sebagai golongan sosial yang mampu menjadikan diri sebagi manusia yang mempertanyakan segala sesuatu (realitas sosial) untuk kemudian menjadi kekuatan perubahan bagi struktur sosial yang adil. Tentu saja hal ini menyimpang bukan hanya secara hakikat eksistensial manusia terdidik atau kaum intelektual yang disebut mahasiswa, tetapi juga dapat diartikan sebagai pengingkaran terhadap sejarah mahasiswa itu sendiri. Dan hal ini tak lepas dari peran para “teroris” tersebut. Di layar TV sering kita saksikan bahwa film yang ditampilkan untuk remaja yang sering diangkat adalah hanya terbatas pada cinta libidinal saja, tidak lebih. Mereka hanya menonjolkan sisi-sisi cinta remaja saja, seolah – olah “mereka” memberikan paradigma kepada pemuda bahwa jika tidak pacaran, maka tidak gaul. Inilah suatu bentuk teror dari kapitalisme modern saat ini kepada kaum muda, kaum intelektual yang disebut mahasiswa. Jadi, bersiap siagalah…..     

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s