Tentang sebuah kata : Pengorbanan

27 11 2009

Hari kamis (26/11) pukul 18.46 WIB, segelas es susu coklat menghilangkan dahaga di tenggorokan saya setelah dua hari melaksanakan Puasa sunnah dalam bulan Dzulhijjah, Tarwiyah dan Arofah. Gema takbir pun segera berkumandang dari berbagai sudut di kampus konservasi Unnes. Ada yang bergetar dihati ini, dan hati para mukminin ketika itu, Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar….Laa Ilaa ha Ilaallahu Allahuakbar….Allahuakbar Walilaah Ilham. Ada kerinduan mendalam dengan kata – kata ini, kata – kata kemenangan yag mengagungkan kebesaran Allah. Ya, hari itu umat Islam diseluruh dunia  sedang merayakan kemenangannya. Kemenangannya setelah melakukan segenap pengorbanannya, pengorbanan yang tak terasa setiap waktu dalam hidup ini terus kita lakukan. Lalu, sebuah inspirasi baru pun muncul kemudian, setelah seharian penuh melakukan aktivitas yang melelahkan, menguras energi, baik kelelahan fisik, pikiran, maupun kelelahan ruhiyah. Ya, inspirasi tentang semangat rela berkurban yang kadang hilang dalam diri kita.

Seperti yang diungkapkan ustadz Usep Badruzzaman (salah satu ustadz kampus konservasi) dalam taujihnya di forum kajian pekanan Unnes, bahwa dalam setiap waktu yang kita lalui, harus ada pengorbanan yang kita lakukan kepada Allah SWT, karena pada hakekatnya itu adalah keniscayaan bagi seorang hamba untuk berqurban kepada sang Khalik yang telah menciptakan hamba-Nya. Karena tentu kita tahu bahwa didunia ini hanya ada dua kubu, kubunya syaithan dan kubu Allah SWT, maka tinggal kita mau memilih kubu yang mana. Kalau kubu syaithan mempunyai ciri khas malas dan suka berbohong, sedangkan kubu Allah SWT salah satunya adalah bercirikan pengorbanan dan syukur.

Mari kita simak makna pengorbanan ketika tujuan yang akan dicapai berbeda. Yang satu pengorbanan untuk kubu syethan, yang satu kepada Allah SWT. Seseorang pecandu narkoba akan berkurban harta, waktu, fisik, tenaga, pikiran, dan masa depannya untuk sesuatu yang dia cintai, yaitu narkoba. Maka setiap waktu akan ia habiskan untuk itu. Namun bukan kemuliaan yang dia raih, justru adalah kesengsaraan dunia dan akhirat. Lalu mari kita lihat konsep pengorbanan yang dilakukan si fulan kepada yang dicintainya, yaitu Allah SWT. Setiap waktunya, hartanya, tenaganya, pikirannya hanya untuk satu tujuan, yaitu Allah SWT, maka sudah tentu akan ada kemuliaan yang akan dia dapat, meskipun kelelahan kadang mendera, namun ada satu kenikmatan tersendiri yang dia dapatkan, sebuah pencapaian yang luar biasa, adalah apabila seorang manusia mampu menggapai cinta-Nya. Dari dua deskripsi diatas tersebut, yaitu pengorbanan yang dilakukan oleh kubu syaithan dan kubu Allah SWT, maka ada dua perbedaan yang mencolok, walaupun sama – sama berkurban untuk sesuatu yang dicintainya, tetapi ending keduanya berbeda, yang satu berakhir dengan kesengsaraan, sedangkan yang lainnya berakhir dengan kemuliaan dunia akhirat. Lalu tinggal kita akan memilih yang manakah, kenikmatan semu yang berakhir dengan kesengsaraan dunia akhirat, atau kenikmatan abadi yang berakhir dengan kemuliaan dunia akhirat?

Sekarang mari kita lihat tentang makna sesuatu hal yang sering diidentikkan dengan makna qurban di hari yang mulia ini. Tentang harta. Tentang kekayaan yang kita miliki. Kekayaan duniawi yang kadang membuat kita lupa diri. Karena kekayaan sudah pasti dihadapan Allah SWT bukanlah harta yang selama ini sering kita identikkan demikian. Contoh kecil dalam kehidupan sehari – hari, adalah nafas yang kita hirup adalah gratis alias tidak membayar. Dan Allah tidak pernah meminta harta atas karunia yang diberikan-Nya kepada kita melalui nafas yang kita hirup setiap waktu tersebut. Lalu, apa yang terjadi seandainya dalam 30 menit saja kita tidak bisa bernafas dengan baik, atau barangkali kita tidak bisa mengeluarkan udara yang telah kita hirup tersebut? Tentu kita akan mengeluarkan segenap kemampuan  kita, baik itu berupa harta kekayaan berjuta – juta untuk membuat kita bisa bernafas kembali dengan normal. Begitu juga ketika kenikmatan penglihatan maupun pendengaran ini dicabut oleh Allah, pasti kita akan berupaya, dengan uang yang kita miliki untuk mengembalikan penglihatan dan pendengaran kita menjadi normal kembali. Artinya dari permisalam diatas, bahwa Allah tidak butuh dengan harta kita, Allah tidak butuh kekayaan kita seberapapun banyaknya. Yang Allah perlukan adalah pengorbanan yang tulus yang diberikan kita untuk menghargai segala kenikmatan yang diberikan Allah tersebut. Dan pengorbanan itu adalah dalam bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT. Mensyukuri segala kenikmatan dari Allah SWT dalam bentuk kata maupun perbuatan merupakan pengorbanan yang harus kita lakukan agar kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada kita akan terus dilipatgandakan seiring semakin banyaknya kita bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita semua.

Konsep syukur tentu bermacam jenisnya. Namun salah satu contoh kecil yang kadang kita melupakannya adalah seringkali kita malas – malasan dalam melakukan aktivitas – aktivitas da’awi kita. Padahal Allah telah mengaruniakan kenikmatan – kenikmatan yang berlimpah kepada kita, kenikmatan kesempatan, kenikmatan waktu, kenikmatan indahnya ukhuwah dalam menyeru. Padahal kalau saya jelaskan diatas, bahwasanya sifat malas merupakan sifat – sifat yag dimilki oleh kubu syaithon. Lalu mengapa kita masih memiliki sifat itu, berarti kita masuk dalam kubu syaithon dong?

Yang kedua adalah sikap yang sering kita tunjukkan dihadapan saudara – saudara kita, atau tanpa sadar kita sering mengucapkan kata – kata itu. Kata – kata yang berisi dengan nada mengeluh, ah capek ah… dan sejenisnya. Memang kita sadari bersama bahwa aktivias – aktivitas ini kadang melelahkan, tetapi sadarkah kita, bahwa perkataan bernada ngeluh yang sering kita ucapkan tersebut akan berdampak kepada akal pikiran kita yang kemudian mentransfer keseluruh tubuh kita aura – aura ngeluh (negative) kita sehingga akan berdampak kepada setiap organ tubuh yang kita menjadi tidak berdaya, tidak semangat dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.

Jadi, Allah tidak pernah menginginkan kedudukan, harta, jabatan kita untuk mendapat kedudukan yang mulia disisi-Nya, melainkan tingkat ketaqwaan kita, dan itu dimulai dari sikap berkurban kita untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Al-Islam yang mulia ini. Insyaallah kelelahan, keletihan, dan capeknya kita dalam menjalani aktivitas mulia ini akan tergantikan ketika kita ikhlas menjalaninya. Semoga pengorbanan kita untuk Ad-dienul haq ini akan berbuah surganya Allah Azza Wa Jalla. Amin.

Terakhir, sebuah sms yang masuk ke HP saya dari saudara seperjuangan mewakili sebuah ucapan merayakan Lebaran haji tahun ini.

“Diufuk timur sang fajar merekah

Menyambut pagi nan cerah

Untaian asa bercengkerama

Dalam semarak tahmid, tahlil, dan takbir

Mengeja kembali arkanul baiat sang Imam

At-Tadhiyah….

Menyusur kembali jejak sang Nabi

Akan totalitas penghambaan pada RabbNya

Yang begitu kokoh dalam pondasi iman yang menghujam

Dibingkai semangat pengorbanan yang menakjubkan

Ya Allah….

Jadikan kami, penerus langkah – langkah insan pilihan

Meski kami sering kali enggan untuk berkurban

Walau sedikit saja….

Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H





Oleh – oleh Lebaran : Antara noda dan penghapusnya

29 09 2009

10Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis artikel ini, kira – kira sebelum Ramadhan sudah direncanakan, namun ternyata baru kesampaian hari ini, tapi tak apalah, semoga tetap memberikan kebermanfaatan.

Begini ceritanya, jadi ketika itu, sebuah pemandangan yang menjadi rutinitas tahunan pun menjadi suguhan bagi masyarakat umum, dan khususnya kaum muslimin. Ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri, disana – sini, baik spanduk, baliho, poster, iklan di koran atau TV, kartu ucapan, status Facebook, sampai dengan googling di Internet pun kita pasti akan melihat begitu banyak ucapan “Mohon Maaf Lahir Batin” akan terpampang dengan berbagai variasinya. Dan itu sungguh luar biasa. Dan tentu tidak ada yang salah dengan semuanya itu, karena kita tahu bahwa setiap orang tetaplah berhak untuk beropini, menulis, menyampaikan pesannya tentang sebuah makna kata maaf dalam ucapan Hari Raya Idul Fitri. Tentu jika anda ditanya apakah makna lebaran barangkali secara umum anda akan berpedapat bahwa lebaran artinya kembali fitrah, kembali suci seperti halnya kertas putih yang tak ada noda sama sekali. Tetapi yang kemudian masih mengganjal dihati saya adalah bahwa sadar atau tidak sadar kita telah mengulang ucapan – ucapan serupa “mohon maaf lahir batin, Minal Aidin Wal Faidzin, kosong – kosong ya..”, dan ucapan – ucapan sejenisnya yang sepertinya kita selalu mengulang – ulang makna ucapan tersebut, tetapi disisi lain, masalah – masalah tentang ukhuwah, perang saudara, masalah – masalah naas yang lainnya. Bukankah kita sudah tahu betul tentang makna Idul Fitri (Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. Kelahiran seorang manusia, dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak, masih dalam pandangan Islam, diibaratkan secarik kertas putih. Kelak, orang tuanya lah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya).

Itulah makna Idul Fitri. Lalu mengapa ketika kita mengucapkan “ Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin” seakan – akan kalimat tersebut hanya terlontar melalui bibir kita, dan tidak sepenuhnya meyalur sampai ke hati yang paling dalam? Bukan bermaksud menyindir, tapi itulah keadaannya, setiap tahun kita selalu bermaaf- maafan, tapi setiap tahun pula akan selalu terjadi masalah – masalah tentang perpecahan ummat, lalu yang menjadi pertanyaan, dimana esensi dari kata – kata yang terlanjur kita ucapkan kepada saudara – saudara kita, “Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf lahir Batin”. Apakah kita kurang memahami, atau kita kurang serius dalam mengucapkannya?

Mungkin yang menjadi pemikiran “nyeleneh” saya, bahwa masyarakat Indonesia mayoritas muslim, dan ketika semua muslim tersebut sungguh – sungguh dalam memaknai kata maaf dalam Hari raya Idul Fitri, maka efeknya sungguh luar biasa bagi bangsa ini. Ya, kekuatan ukhuwah sangat erat, seperti halnya ketika Negara Madinahnya Rasulullah SAW, atau paling tidak miriplah. Karena tentu kita sudah sangat mafhum bahwa ketika lebaran, kita akan menjadi sebuah kertas putih tanpa noda, alias suci, dan tugas kita selanjutnya adalah menjaga kertas putih itu agar tetap putih tanpa noda, karena kitapun akan sulit untuk menemukan penghapusnya. Wallahu’alam Bishawab. Mohon Maaf Lahir Batin (semoga benar – benar tulus dari hati).