Karakterisasi dan levelisasi kader sebagai upaya transformasi intelektual KAMMI


Kader adalah rahasia kehidupan berbagai umat. Sejarah umat adalah sejarah para kader yang militan dan memiliki kekuatan jiwa

KAMMI Merah

KAMMI Merah

serta kehendak. Sesungguhnya kuat lemahnya suatu umat diukur dari sejauh mana kesuburan umat tersebut dalam menghasilkan kader-kader yang memiliki sifat-sifat ksatria
Hasan Al Banna[1]

Didalam organisasi manapun, gerakan manapun, kita selalu mengenal yang namanya kader. Karena kader adalah asset, maka sudah dipastikan bahwa peran kader begitu dominan untuk suatu pergerakan, apapun. Dari situlah kita mendapat amanah untuk menghasilkan kader-kader yang nantinya siap untuk meneruskan perjuangan ini. Kalau kita amati bersama, disetiap gerakan yang ada dimanapun didunia ini, sangat butuh yang namanya kader – kader yang akan menjadi penopang utama gerakan tersebut.

Sejarah telah mencatat bahwa kegemilangan generasi shalafusshalih tak lepas dari proses pembentukan kader yang kontinyu, tersistem, dan memanfaatkan segala sarana yang ada pada waktu itu. Sehingga dengan program pembentukan kader yang dilakukan Rasulullah, dengan sistem yang bagus dan terus menerus, dengan menggunakan sarana yang ada dan dioptimalkan, terbentuklah kader – kader tangguh bermental pemimpin dan memiliki kearifan filosofi, sehingga kader – kader semacam inilah yang pada akhirnya mampu mencipta sejarah kegemilangan, baik secara personal, secara personal mereka mampu menggapai kesejarahan personal, dan secara gerakan, mereka mampu melambungkan Islam ke puncak sejarahnya.

Kalau kita analisa lebih mendalam, ada bebeberapa hal yang menjadi alasan mengapa generasi shalafusshalih tersebut mampu mencipta sejarah kegemilangan sebagai gerakan maupun sebagai personal. Yang pertama adalah masalah kesatuan visi, misi, dan ideologi yang pada akhirnya akan menentukan kesatuan gerak mereka. Yang kedua terletak pada metodologi perjuangan, yang kemudian disebut dengan manhaj perjuangan gerakan. Kejelasan manhaj serta komitmennya para kader untuk melaksanakan manhaj berserta sarana yang ada didalamnya inilah yang pada akhirnya menjadi titik penentu kemenangan mereka, baik kemenangan personal, ataupun kemenangan secara gerakan.

Inilah yang menjadi penting, dan menjadi bahan kajian bersama, bahwa kalau kita amati sejarah kebangkitan berbagai bangsa, baik Barat maupun Timur, dahulu maupun sekarang, kita akan menjumpai kenyataan bahwa para pelopor kebangkitan dapat menuai sukses karena memiliki manhaj tertentu yang menjadi acuan dalam kerja mereka. Manhaj yang telah jelas langkah-langkahnya, termasuk didalamnya mengoptimalisasikan sarana yang ada untuk menuju sebuah hasil yang telah diperhitungkan yang menjadi orientasi kerja umat[2].

Kejelasan manhaj serta komitmennya untuk melaksanakan manhaj itulah yang pada akhirnya menjadikan para kader – kader generasi shalafussalih memiliki kapasitas besar, dan akhirnya memperoleh kemenangan mereka, mampu mencapai titik tertinggi kepahlawanan dalam hidup, baik secara personal maupun secara gerakan. Inilah pekerjaan rumah atau bisa jadi bahkan menjadi satu dilema bagi gerakan manapun didunia ini, termasuk didalamnya adalah KAMMI.

Semua gerakan yang membawa ideologi tertentu pasti akan menemukan fakta bahwa dilemanya selalu terletak antara idealisme dan kapasitasnya[3]. Sebab, keyakinan ideologi selalu membutuhkan pembuktian dengan realitas dilapangan. Dan proses pembuktian itu masalahnya. Ideologi tidaklah berdiri sendiri. Ideologi selalu membutuhkan manusia (kader) untuk menopang proses transformasi ideologi tersebut. Ideologi dan manusia sebagai subyek dan obyek transformasi ideologi tersebut adalah dua sisi dari mata uang sejarah dan realitas yang sama. Jika ada ideologi besar, harus ada manusia atau kader yang besar juga. Jika ada keyakinan kuat, harus ada kapasitas besar, itulah analogi antara ideologi dan kapasitas.

KAMMI sebagai satu gerakan yang sejak awal sudah memiliki kejelasan ideologi, yaitu Islam telah memposisikan dirinya menjadi gerakan pengkaderan[4]. Baik sebagai organisasi kader (harokatut tajnid) dan organisasi pergerakan (harokatul ‘amal), fungsi kaderisai KAMMI terletak pada penggunakan pendekatan sistematik dalam keseluruhan proses kaderisasinya. Semua bentuk aktivitas kegiatan kaderisasi disusun  dengan semangat integralistik untuk mengupayakan lahirnya kader-kader berkualitas yang mampu mewujudkan tujuan organisasi. Sejak awal terbentuknya KAMMI dengan adanya filosofi gerakan (Visi, misi, prinsip, unsur, kredo) KAMMI telah memposisikan dirinya sebagai wadah perjuangan dalam pembentukan kader pemimpin masa depan.

Untuk mewujudkan visi KAMMI sebagai wadah permanen dalm rangka membentuk kader – kader pemimpin masa depan dan tangguh dalam rangka mewujudkan bangsa dan negara Islami di Indonesia, dibutuhkan sarana yang komprehensif dan sistematis untuk mewujudkan visi tersebut, atau dalam bahasa yang lebih simpel di KAMMI adalah mewujudkan muslim negarawan, yang ternyata masih terlalu global untuk diaplikasikan. Karena kita pasti sangat paham bahwa dalam sebuah sistem perkaderan adalah proses yang holistic dalam aktivitas sebuah jam’iyyah, itupun berlaku di KAMMI. Bukan hanya dilihat dari bentuk pelatihan formal saja. Semua aktivitas dalam suatu jami’yyah semestinya merupakan bagian dari proses kaderisasi bagi para penggiatnya. Namun, untuk memberikan sistematisasi dan formalisasi dalam proses ini maka sudah selayaknya ada bentuk pelatihan yang dibakukan. Inilah fungsi sarana dalam manhaj kaderisasi KAMMI[5].

Salah satu yang kadang, beberapa masih menjadi perdebatan dikalangan internal kita adalah pernyataan tentang perlu atau tidaknya seorang kader menyelesaikan tahapan skema man power dalam kerangka kaderisasi KAMMI. Bagi saya secara pribadi, hal itu wajib dilalui oleh seorang kader yang bergerak dilini siyasi mengingat manhaj ini adalah hasil perenungan yang mendalam tentang konsep pembentukan kader – kader pemimpin, serta sudah dibuat sedemikian sistematis untuk menunjang upgrade kapasitas kader KAMMI. Jadi, sebenarnya tidak perlu lagi kita mempertanyakan tentang perlu tidaknya seorang kader meneruskan jenjang pengkaderan ke tahap yang lebih tinggi. Manhaj yang ada di KAMMI, baik itu DM1, DM2, MK1, MK2 adalah sarana pembentukan karakter kader yang berkapasitas. Jadi berbagai sarana yang ada tersebut adalah penunjang pembentukan kapasitas kader, dan sudah seharusnya kader disiplin dalam melaksanakan manhaj, termasuk didalamnya memanfaatkan secara penuh sarana – sarana pembentukan kader tersebut.

Kalau kita simak kembali dalam alur kaderisasi, kita akan mendapatkan bahwa sarana – sarana kaderisasi tersebut adalah upaya untuk membentuk kaarakter muslim negarawan dalam diri kader. Alur Proses Kaderisasi adalah rangkaian tahapan sarana kaderisasi yang harus dilalui oleh kader KAMMI sesuai dengan jenjang keanggotaanya yang dimulai dari Pra DM 1 hingga mendapatkan status AB3 untuk kemudian terus berproses secara mandiri menjadi seorang Muslim Negarawan[6].

Setiap kader harus melewati tahapan demi tahapan dalam upaya pencapaian IJDK secara berurutan. Komitmen dari seluruh kader untuk melewati berbagai tahapan yang telah disusun dalam manhaj ini, memudahkan KAMMI sebagai organisasi kader, mengontrol dan mengevaluasi perkembangan kondisi kadernya secara berkesinambungan.

Komitmen dalam mengikuti berbagai tahapan kaderisasi juga dibutuhkan dalam upaya menjaga regenerasi kepemimpinan dan kesinambungan organisasi sehingga secara langsung menyelesaikan berbagai permasalahan krisis kepemimpinan dan kepengurusan dalam organisasi KAMMI yang disebabkan karena jenjang keanggotanya tidak memenuhi persyaratan jenjang keanggotaan yang telah ditetapkan dalam AD/ART KAMMI. Karena itulah, komitmen dalam melewati tahapan-tahapan kaderisasi harus menjadi kesadaran dan budaya dalam organisasi agar KAMMI tumbuh dan berkembang menjadi organisasi kader yang tertata rapi dan beramal produktif. Inilah fungsi adanya manhaj Kaderisasi KAMMI sebagai optimalisasi visi komprehensif gerakan ini.

Dalam artikel ini, sebenarnya saya hanya ingin membuat satu bentuk sederhana untuk lebih mengetahui fungsi dan pembagian peran dalam jenjang kaderisasi KAMMI. Ada AB1, AB2, dan AB3. Didalam manhaj kaderisasi kita mengenal yang namannya jenjangisasi kader, ini menjelaskan tentang tiga jenjang keanggotaan KAMMI dari aspek definisi, karakter dan tujuan dari Anggota Biasa (AB) 1, Anggota Biasa (AB) 2, dan Anggota Biasa (AB) 3.

Pembagian peran anggota KAMMI

AB1 adalah kader KAMMI yang memiliki syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam), dan memiliki kesiapan serta kesediaan untuk bergerak di tengah masyarakat guna merealisasikan dan mengeksekusi tugas-tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI. bahasa lebih sederhananya saya sebut dengan Muslim Progresif. Mengapa disebut Muslim Progresif, karena pada tataran ini, seorang AB1 bertindak dan berjuang dalam kerangka menemukan pemahaman yang utuh tantang Islam, untuk selanjutnya menyiapkan amunisi memasuki gerbang jenjangisasi yang lebih spesifik.

AB2 adalah aktivis KAMMI yang memiliki syakhsiyah da’iyah muharrikah  atau dapat dimaknai memiliki kepribadian dai yang mampu menjadi penggerak, mampu menjadi teladan di tengah masyarakat, menjadi teladan bagi gerakan mahasiswa, mengislamisasi ilmu pengetahuan pada bidangnya dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagai segi kehidupan manusia. Menurut bahasa saya yang lebih sederhana adalah Da’i cerdas bermental pemimpin.

Sedangkan AB3 adalah ideolog-aktivis yang memiliki syakhsiyah qiyadiyah siyasiyah (kepribadian pemimpin yang mampu mengambil kebijakan), memiliki kualifikasi keilmuan yang sesuai bidangnya, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkan situasi dan kondisi yang berkembang. Bahasa saya yang lebih sederhana untuk menggambarkan peran AB3 adalah sebagai Mujahid yang bervisi negarawan.

Sifat dan karakter anggota KAMMI

Sifat dan karakter ini menjadi perlu untuk memahami sifat – sifat yang seharusnya sesuai dengan jenjang anggota KAMMI sebagai buah dari proses pembelajaran secara kontinyu selama mengikuti alur kaderisasi yang dikonsep secara brilian di KAMMI. Nah, secara karakter, AB1 adalah mereka yang mampu membangkitkan rasa kebutuhan kader kepada Islam secara total dan memiliki totalitas untuk mewujudkannya, juga kepada pelaksanaan adab-adab dan hukum-hukumnya serta rasa cinta untuk hidup di bawah naungan Islam, dan yang terpenting adalah memiliki sifat – sifat yang militan dalam perjuangan mewujudkan Islam sebagai solusi. Bahasa yang lebih sederhana untuk sifat dan karakter AB1 adalah Radikal Fundamentalis.

AB2 memiliki sifat dan karakter yang lebih dari seorang AB1, hal ini merujuk kepada levelisasi keilmuan dalam Islam, artinya sejauh mana AB2 mampu mengkontekstualisasikan teks menjadi bentuk yang lebih solutif, sedangkan karakter yang harus dipenuhi oleh seorang AB2 adalah dia mampu, merasakan urgensi amal jama’i, rela berkorban demi Islam, dan merasakan kemestian bergabung kepada sebuah gerakan dakwah Islam untuk menegakkan keadilan. Bahasa saya yang lebih sederhana untuk menyebut karakter AB2 adalah memiliki sifat kearifan Ideologis.

Sedangkan dalam kerangka karakter, seorang AB3 memiliki sifat kearifan filosofis. Yang saya maksud dengan kearifan filosofis, sesuai dengan manhaj, adalah menanamkan urgensi rela berkorban dengan waktu dan harta untuk dakwah, melaksanakan kerja-kerja yang dibebankan kepadanya dalam lingkup berjamaah, dan senantiasa berinteraksi secara aktif dengan manhaj dalam berbagai sisinya, dan menjadi referensi bagi kader – kader dengan tingkat dibawahnya.

Levelisasi secara kinerja dan kepakaran

Merujuk buku 8 mata air kecemerlangan Anis Matta, kita langsung dapat menyimpulkan dalam konteks levelisasi anggota KAMMI, bahwa AB1 adalah afiliator, AB2 adalah partisipator, dan AB3 adalah kontributor. Afiliasi, adalah tangga awal di mana seorang bergabung dan memperbaharui kembali komitmennya kepada Islam; menjadikan Islam sebagai basis identitas yang membentuk paradigma, mentalitas, dan karakternya. Dalam proses afiliasi ulang itu, kita memperbaharui komitmen kita dalam tiga hal. Pertama, komitmen aqidah yang menetapkan tujuan dan orientasi, atau visi dan misi kehidupan kita. Kedua, komitmen ibadah yang menentukan pola dan jalan kehidupan. Ketiga, komitmen akhlak yang menentukan pola sikap dan perilaku dalam seluruh aspek kehidupan[7]. Afiliator (AB1) adalah kader yang memiliki kemauan untuk memahami islam secara syumul, lalu memiliki bidang keilmuan yang kompleks, dann berupaya untuk mewujudkan solusi bagi setiap bidang ilmu yang ada. Para kader afiliator tersebut belajar tidak hanya pada satu bidang ilmu. Mereka cerdas, fasih menguasai multidisiplin ilmu. Tentang ekonomi, politik, kebudayaan, pendidikan, dan pastinya kedalaman ilmu agama Islam. Ilmu agama menjadi dasar dari frame berfikir menggagas Indonesia masa depan.

Partisipasi, adalah tangga kedua di mana seorang Muslim telah mencapai kesempurnaan pribadinya, dari mana kemudian ia melebur ke masyarakat, menyatu, dan bersinergi dengan mereka, guna mendistribusikan keshalihannya. Dalam proses partisipasi itu, kita melakukan tiga hal. Pertama, komitmen untuk mendukung semua proyek kebajikan dan melawan semua proyek kerusakan di tengah masyarakat. Kedua, komitmen untuk selalu menjadi faktor pemberi atau pembawa manfaat dalam masyarakat. Ketiga, komitmen untuk selalu menjadi faktor perekat masyarakat dan pencegah disintegrasi sosial[8]. Nah, untuk menyebut kinerja kader pada level ini, saya sebut dengan Partisipator. Dan para partisipator bisa saya sebut adalah AB2. Wilayah partisipator adalah ranah solusi dalam masyarakat, mampu mengimplementasikan pemahaman keilmuannya ke dalam masyarakat secara utuh, atau bahasa lainnya adalah transformasi intelektual wilayah praksis.

Sedangkan yang ketiga adalah kontribusi, adalah tangga ketiga di mana seorang Muslim yang telah terintegrasi dengan komunitas dan lingkungannya (keluarga, perusahaan, dan masyarakat) berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas hidupnya. Hal ini dilakukan dengan cara menajamkan posisi dan perannya, sesuatu yang kemudian menjadi bidang spesialisasinya, agar ia lebih tepat dan sesuai dengan kompetensi intinya. Dengan cara itu, ia dapat memberikan kontribusi sebesar-besarnya, dan menyiapkan sebuah “amal unggulan” atau karya terbesar dalam hidupnya. Amal yang ia persembahkan bagi Allah, umat, dan kemanusiaan secara umumnya, dan bagi komunitas sosial dan bisnisnya secara khususnya. Kontribusi itu dapat ia berikan dalam berbagai bidang; pemikiran, kepemimpinan, profesionalisme, finansial, dan yang lainnya[9]. Orangnya adalah kontributor, atau secara jenjang di KAMMI adalah AB3, yaitu mereka yang memiliki spesialisasi keilmuan yang menjadi amal unggulan dalam kerangka menjadi solusi dalam konteks kebangsaan dan keummatan.

Tabel levelisasi dan karakterisasi kader KAMMI

No.

Jenjang

Manpower

Pembagian Peran

Sifat dan karakter

Kinerja

1. AB1 Basis penggerak dan pendukung Muslim Progresif Radikal Fundamentalis Afiliator
2. AB2 Basis konseptor Da’i cerdas bermental pemimpin Kearifan Ideologis Partisipator
3. AB3 Basis kebijakan Mujahid bervisi negarawan Kearifan Filosofis Kontributor

Demikianlah, levelisasi dan karakterisasi kader KAMMI, yang bagi saya adalah sebagai upaya dalam penegasan kembali wilayah peran – peran yang harus diambil, wilayah fungsi mana yang mesti kita ejawantahkan dalam kerangka muslim negarawan. Agar jelas dalam amal, agar tak bimbang dalam menentukan sikap.

Dan kemauan kita untuk taat asas dalam mengikuti alur kaderisasi KAMMI, termasuk menjadi AB1, selanjutnya menjadi AB2, dan menjadi AB3 adalah satu bentuk semangat kita, semangat untuk belajar dan menimba ilmu, sebab sarana – sarana itu digunakan adalah dalam rangka untuk menjadikan kita lebih memiliki semangat pembelajaran yang tinggi. Dan barangkali juga keengganan kita untuk indibath, mengikuti alur, adalah mungkin saja kesombongan kita, seakan – akan sudah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki, sehingga tak mau belajar lagi.

Semoga bermanfaat.


[1] Hasan al-Banna, Risalah Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyyun

[2] Hasan al-Banna, Risalah Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyyun

[3] Penjelasan ust. Anis Matta didalm pengantar buku Burhanudin Muhtadi, Dilema PKS, antara suara dan syariah

[4] Di jelaskan lebih rinci dalam buku kaderisasi terbaru, HRD PP KAMMI, Manhaj 1433 H KAMMI

[5] Di jelaskan lebih rinci dalam pembukaan buku kaderisasi terbaru, HRD PP KAMMI, Manhaj 1433 H KAMMI

[6] Manhaj Kaderisasi KAMMI 1433 H

[7] Anis Matta, 8 Mata air kecemerlangan

[8] Anis Matta, 8 Mata air kecemerlangan

[9] Anis Matta, 8 Mata air kecemerlangan

About these ads

6 thoughts on “Karakterisasi dan levelisasi kader sebagai upaya transformasi intelektual KAMMI

  1. AB1= yang disuruh-suruh..
    AB2= tukang nyuruh-nyuruh..
    AB3= tukan nyurung petukang nyuruh-nyuruh…

    hehehe……….bukan begitu brother..?? :D

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s