Belajar dari Delisa


Jum’at (23/12), hari itu Kampus terasa sepi, ya, sepi karena ikhwan-ikhwan yang belum mukhoyam pada mukhoyam, sedangkan saya

Delisa

Delisa

yang sudah mukhoyam akhirnya mengagendakan untuk nonton Film baru yang diadopsi dari Novel Tere Liye, hafalan shalat Delisa. Saya sih sebenarnya belum mbaca novelnya, tapi melihat trailernya di Youtube kayaknya menarik dan berkualitas dibanding film-film Indonesia lainnya yang mengedepankan nuansa horor musykil dan erotis, akhirnya saya memutuskan untuk melihat film ini di E-Plaza Simpanglima dengan adik saya. Apalagi, ditambah tweet salah satu temen di twitter kalau disuruh mbawa tisu sebanyak – banyaknya, saya semakin penasaran saja dengan film ini, sebegitu dramatiskah. Yapp, dan akhirnya jam9 malam sayapun dengan tergesa memacu gas Avanza hitam manis H 8581 FE saya untuk segera sampai di E-Plaza, dan alhamdulillah nyampe juga di bangku D, atau pertengahan. Malam itu saya juga bertemu orang spesial, Ustadznya Semarang, Pak Agung Budi Margono, ketua DPD PKS Kota Semarang, yang kebetulan nonton juga dengan anak dan istrinya.

Ennn… lanjuut…

Luar biasa, dramatis, terharu, dan bener – bener bisa membuat mata ini jadi basah karena mengeluarkan airmata. Wajar saja kalau kemudian adik saya setiap kali ada adegan delisa, selalu mengusap airmatanya. Jadi, memang film ini bisa menginspirasi kita, tentang sebuah peristiwa kecil saat peristiwa besar Gelombang Tsunami Aceh 2004 terjadi. Adalah Delisa, yang menjadi pelaku utama di film ini, yang merupakan gadis kecil, manis, dan manja ini memang spesial dibanding kakak – kakaknya, karena ternyata dia belum hafal bacaan shalat, sehingga untuk memacu semangat Delisa menghafal, sang umi (diperankan oleh Nirina Zubir) pun berencana memberikan hadiah spesial untuk Delisa, sebuah kalung bertuliskan huruf D. Akhirnya Delisa pun begitu bersemangat untuk menghafal semua bacaan sholat, hingga tiba saat ujian shalat dan peristiwa besar itu tiba. Saat giliran Delisa maju untuk menghafal didepan Ustadz Rahman (Fathir) sebagai juri, lalu dengan agak deg – degan sikecil Delisa pun maju dan mulai melakukan praktik Sholat. Baru pertengahan doa iftitah, saat itulah kejadian luar biasa berupa gelombang Tsunami itu mengguncang dan menghempaskan seluruh yang ada diruangan itu, seluruh kota kecil Lok Nga, dan sebagian besar bumi Aceh. Termasuk Uminya Delisa, Ustadz Rahman, dan semua yang ada disitu. Tak terkecuali Delisa. Walaupun sedang ada bahaya mengancam, dia tetap fokus meneruskan bacaan shalatnya sesuai arahan Ustadz Rahman. Dan pada akhirnya Delisa diketemukan masih hidup disela – sela korban yang ada. Singkat cerita simanis Delisa sebelah kakinya harus diamputasi oleh dokter ketika itu. Begitu sedikit resensi film Delisa, yang kalau tak tulis disini semua, pasti Tuwentiwan gak laku lagi.

Ada beberapa hikmah atau pelajaran yang bisa diambil dari seorang gadis kecil bernama Delisa pasca kejadian besar tersebut menimpa

Delisa dan Abi

Delisa dan Abi

dirinya. Yang pertama adalah selalu dan senantiasa meluruskan niat disetiap aktivitas kita, sesuai dengan hadits arbain ke 1. Delisa mencontohkan yang semula dia rajin menghafal bacaan shalat karena ingin mendapatkan kalung dari umminya, lalu pasca kejadian itu, Delisa akhirnya sadar bahwa niatnya tidak benar, sehingga niat yang tak benar harus diluruskan. Akhirnya Delisa pun menghafal bacaan shalat karena ingin bisa shalat, bukan ingin dilihat dan mengharap imbalan berupa kalung. Dan pada akhirnya, ujian shalat delisa yang kedua, yang kali ini ditemani Abinya (Reza Rahadian) berlangsung sukses dan mendapatkan nilai sempurna dari Ustadz Rahman sang guru Agama.

Yang kedua adalah tentang semangatnya yang tak pernah pudar walau keterbatasan itu membersamainya. Walau kakinya hanya sebelah, semangatnya untuk terus menekuni hobinya yang unik, yakni bermain bola terus ada, bahkan dia menyemangati rekan – rekannya yang fisiknya lebih sempurna. Artinya satu makna besar tentang semangat, atau ghirah ini harus selalu dihadirkan dalam kondisi apapun diri kita, disetiap aktivitas yang kita laksanakan, semangat untuk memberikan yang terbaik, memberikan segenap potensi yang dimiliki secara optimal dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, atau kalau bahasanya Ustadz Ari itu adalah rasa antusias dalam aktivitas kita. Dengan adanya antusias, maka aktivitas yang dilakukan akan semakin mudah betapapun kondisi diri kita berada dalam keterbatasan – keterbatasan.

Dan pelajaran selanjutnya yang bisa kita petik adalah tentang cinta. Bagaimana kemudian si Delisa merasa sangat sedih karena orang yang dicintainya pada pergi semua, mulai dari Umminya yang sangat dicintainya pergi, Kak Fatimah yang senyumnya selalu manis juga pergi, Kak Aisyah, Tiyur teman main Delisa, yang menjadi korban Tsunami, lalu juga Kak Smith yang menolong Delisa dan Kak Sophie yang merawata Delisa juga harus pergi ke negaranya. Bahkan Delisa sempat Suudzan kepada Allah, menganggap Allah tidak adil dengan membiarkan semua yang dicintainya pergi. Tetapi kemudian Delisa sadar bahwa rasa cintanya yang demikian itu salah. Tidak pada tempat yang tepat. Lalu kemudian Delisa begitu yakin bahwa selama ia mencintai sesuatu karena Allah, maka ia tiak akan pernah rugi, dan akhirnya ia pun berucap kepada Abinya, “Abi, saya mencintai Abi karena Allah”. Dan kemudian disambut dengan tangis haru oleh sang Abi.

Beginilah cinta, yang selalu meminta semua dari kita, kata Ustadz Rahmat Abdullah. Yang kalau kita yakin dengan apa yang kita cintai dengan sebenarnya cinta seperti yang dicontohkan Delisa, tentang Ukhibukum Fillah, maka aktivitas kita akan terasa menyenangkan. Begitu juga dengan kita, karena saya sangat yakin, bahwa mereka yang telah menjadi ideolog, para pemikir, para tokoh dengan segala kebesarannya dalam sejarah, adalah orang – orang yang penuh dengan energi cinta. Karena ciri kader ideolog adalah mencintai. Mencintai amanah yang diembannya, mencintai aktivitas yang dilakukannya, dan mencintai orang – orang disekelilingnya. Jadi, sudah selayaknya kita kembali belajar mencintai. Belajar dari Delisa. Gadis kecil yang malang nan tegar dari Lok Nga, Aceh.

Mari kita belajar dari Delisa.

NB: Bagi yang belum menonton, segera saja menonton, sebelum Filmnya tidak tayang lagi…

About these ads

Satu gagasan untuk “Belajar dari Delisa

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s