Proyek besar membangun Pacitan


Oleh : Dwi Purnawan *)

Daerah potensial, itulah kata – kata yang tepat untuk menggambarkan Pacitan, sebuah kabupaten kecil dipojok selatan Jawa Timur ini memang menyimpan potensi daerah yang besar, terutama potensi yang bisa dihasilkan dari aspek Sumber Daya Alam yang melimpah yang tersebar di bebarapa Kecamatan di Kabupaten pacitan. Kita bisa melihat dari potensi itu dari berbagai hasil bumi maupun potensi Pariwisata di Pacitan. Pantai Teleng Ria yang sudah tidak asing lagi dan kini sudah mulai dilirik oleh investor – investor, home industri dan kerajinan alam batu akik di kecamatan donorojo, sampai dengan Tambang emas di Daerah Kecamatan Ngadirojo yang justru saat ini malah digarap oleh investor luar.  Pun dengan beberapa potensi alam dan wisata lainnya seperti pantai Klayar, Pantai Srau, goa Gong, dan obyek wisata lain di Pacitan yang masih menunggu gebrakan dari kebijakan Pemkab untuk meledakkan potensi itu. Dan melihat mekanisme pembangunan Pacitan yang sudah dilakukan Pemerintah daerah, sepertinya memang perlu beberapa evaluasi pola kebijakan pembangunan yang diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten Pacitan, karena kita melihat dari tahun ke tahun, sepertinya pembangunan di Pacitan hanya berjalan ditempat, dan hasil daripada pembangunan itu hanya bisa dirasakan sebagian masyarakat di kota Pacitan, belum dirasakan sepenuhnya oleh seluruh masyarakat Pacitan dari desa kalak di ujung barat Pacitan sampai desa Gemaharjo di ujung timur Pacitan. Dan memang kedepan, masyarakat Pacitan, lebih khusus Pemkab Pacitan perlu merumuskan sebuah pembangunan Pacitan yang integratif-strategis-solutif, yang harus dekelola secara sungguh – sungguh proyek besar ini, proyek besar membangun Pacitan.

Analisa problematika

Mencermati beberapa aspek pembangunan di Indonesia, sepertinya memang hampir sama ketika kita khususkan kedalam konteks Pacitan. Masalah yang menghambat laju pembangunan bermula dari metode pendidikan yang memang masih menjadi kendala stagnanisasi pembangunan di Pacitan. Budaya yang ada di pelosok pedesaan, orang tua melarang anaknya untuk sekolah tinggi karena alas an biaya yang tidak mencukupi masih  menjadi kebiasaan para orang tua di pelosok – pelosok desa. Artinya faktor kesadaran orang tua terhadap pendidikan anaknya menjadi sebuah keprihatinan tersendiri di Pacitan. Dan akibatnya, pemuda – pemuda desa tersebut menjadi pengangguran baru dengan otak tumpul. Lalu setelah itu, para orang tua menyuruh mereka pergi keluar kota untuk bekerja sebagai buruh atau karyawan pabrik, setelah beberapa tahun bekerja di luar kota, para pemuda desa tersebut pulang kampung, dan bergaya sok kaya dan sok pinter, lalu setelah itu menikah dengan orang yang tidak jauh beda nasibnya dengan pemuda tersebut.  Kondisi seperti ini berulang setiap tahun di pacitan, sehingga Pacitan selalu menghasilkan generasi – generasi muda yang mempunyai kualitas rendah. Dan kalau iklim kesadaran tentang pentingnya pendidikan ini masih menjadi kebiasaan, maka sampai kapanpun kita tidak akan melihat Pacitan berjaya.

Akar mula dari kondisi semacam ini bisa kita lihat dari kondisi Pacitan yang tidak banyak menciptakan peluang kerja bagi masyarakatnya. Hal ini bisa dilihat dari minimnya lapangan kerja yang prospektif di Pacitan, sehingga para pemuda – pemuda di Pacitan banyak yang berlarian keluar kota untuk lebih menemukan lapangan kerja yang menghasilkan property dan keuntungan lebih banyak daripada bekerja di daerahnya sendiri. Kalaupun ada lapangan kerja, proyek untuk mengembangkan lapangan kerja tersebut menjadi sebuah lahan kerja yang prospektif  masih menjadi kendala tersendiri sehingga kita bisa melihat masyarakat Pacitan yang tidak memiliki etos kerja yang tinggi. Artinya adalah bahwa semisal masyarakat  bercocok tanam, mereka hanya bercocok tanam lalu setelah itu panen. Dan pokoknya asal kerja. Ketidak semangatan masyarakat untuk menemukan formulasi tentang bibit unggul, formulasi agar panennya sukses, agar proyek tambak menjadi lahan prospektif inilah sebenarnya yang kemudian menyebabkan Pacitan menjadi agak tertinggal dari kabupaten – kabupaten lainnya. Dan korelasi dari beberapa problematika yang menghambat kemajuan pembangunan Pacitan adalah kurangnya putra – putra daerah yang memiliki spesialisasi keilmuan masing – masing untuk membangun Pacitan. Pacitan tidak memiliki stok Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai untuk membangun Pacitan. Kalau saja Pacitan memiliki master – master insinyur pertanian, pasti kita akan melihat  Pertanian di pacitan bukan hanya rutinitas bercocok tanam saja, tetapi bagaimana merumuskan sebuah konsep bercocok tanam yang menghasilkan profit, atau insinyur perikanan yang mampu membuat pasar ikan di Pacitan menjadi komoditi yang menghasilkan. Pun demikian dengan insinyur pertambangan yang mampu mengemas beberapa tambang potensial di Pacitan, seperti bentonite, emas, dan batu mulia menjadi sebuah proyek raksasa, sebesar PT Freeport barangkali.

Dan salah satu masalah lagi, adalah bahwasanya ketika putra daerah Pacitan menjadi orang sukses di rantauan, mereka enggan kembali ke pacitan, enggan untuk bekerjasama dengan masyarakat pacitan mengembangkan dan membangun Pacitan menjadi lebih baik. Paling banter andil para putra daerah tersebut adalah pendanaan saja. Tidak lebih dari itu. Padahal kita mengetahui sebenarnya Pacitan tidak hanya butuh dana, tetapi yang terpenting dibutuhkan Pacitan saat ini adalah kader – kader yang mampu memoles semua potensi yang dimiliki pacitan dalam rangka mensejahterakan pacitan, menuju Pacitan bukan hanya menjadi kota 1001 Goa saja, tetapi menjadi kota 1001 potensi.

Dari segi alamnya, walaupun Pacitan begitu besar menyimpan potensi alamnya, juga banyak problematika yang ditimbulkan. Sering terjadi bencana alam seperti tanah longsor di beberapa tempat rawan longsor, seperti daerah sepanjang sungai Grindulu di Kecamatan Arjosari dan Tegalombo di Kabupaten Pacitan tentu akan sangat mempengaruhi, bahkan bisa menghambat potensi besar yang dimiliki Pacitan. Topografi Pacitan yang berbukit – bukit dan minim daerah dataran rendah memang membutuhkan penanganan secara khusus agar kedepan tidak terjadi bencana tanah longsor yang sering, bahkan tiap musim penghujan selalu dihantui tanah longsor.

Analisa peluang

Melihat Pacitan dengan potensi alamnya yang melimpah, baik dari sektor pertambangan, perikanan, maupun sektor pariwisata, maka peluang yang bisa dilihat dan prospektif adalah ketiga sektoral tersebut. Dari sektor perikanan misalnya, kalau kita lihat daerah perairan pacitan yang mempunyai luas wilayah mencapai 7.636 mil² dengan 12 pantai merupakan daerah untuk pendaratan ikan oleh nelayan. Adapun potensi wilayah laut adalah sebesar kurang lebih 84.4330 ton pertahun, dengan perincian ikan dasar (demesral) = 24.577 ton, ikan pelagis 98.310 ton, sejenis udang mencapai kurang lebih 2.220 ton pertahun (8,22 %) berupa Lobster ground yang mempunyai nilai jual tinggi. Potensi budidaya laut yang potensial dikembangkan di Teluk Segoro Anakan di Kecamatan Ngadirojo seluas kurang lebih 400 Ha, yang digunakan untuk budidaya rumput laut mencapai 64 unit rakit dan budidaya ikan kerapu. Dari sektor perikanan lainnya, yaitu potensi budidaya air payau mencapai luas lahan potensial kurang lebih 866 Ha yang dikembangkan di Desa Kembang, Desa Watu Karung, Desa Sidumulyo dan Hadiwarno; sedang di Desa Watukarung telah dirintis 1,00 Ha. Kemudian masih dari sektor perikanan, potensi usaha budidaya air tawar yang dikembangkan di perairan umum yaitu kolam seluas kurang lebih 0,88 Ha, tadah hujan lebih 5,58 Ha melalui budidaya keramba jaring apung dan penebaran jenis ikan di Telaga, pusat pelelangan ikan (TPI) di Kabupaten Pacitan (sumber http://pacitan.go.id).

Dari sektor pertambangan, Pacitan memiliki daerah pertambangan yang mempunyai prospek yang cerah, karena di beberapa tempat di Pacitan, terdapat tambang – tambang yang mempunyai nilai jual yang tinggi. Berdasarkan kondisi dasar, topografi, struktur dan jenis batuan yang 85 % merupakan bagian seluruh wiyaha Kabupaten Pacitan, ternyata di dalamnya banyak mengandung bahan tambang yang melimpah. Adapun bahan tambang yang ada dengan klasifikasi golongan A, golongan B dan golongan C yang sampai saat ini pengelolaannya masih dirasakan belum optimal karena terbatasnya sarana dan prsarana pertambangn sehingga belum banyak memberikan kontribusi kepada peningkatan pendapatan mesayarakat yang akhirnya peningkatan pendapatan daerah. Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan oleh Dinas Pertambang Propinsi Jawa Timur menunjukkan adanya sebaran, luas areal, bersarnya cadangan serta kualitas bahan galian yang ada di Kabupaten Pacitan sejumlah 33 jenis bahan tambang. Berikut adalah potensi pertambangan yang dimiliki oleh Pacitan.

Tabel 1

Daftar Potensi sektor Pertambangan Kabupaten Pacitan

No. Tambang Deskripsi Luas area Fungsi
1. Bentonite tanah liat yang dapat mengembang bila menyerap air 21.000.000 m³ bahan keramik halus penjernih minyak kelapa dan kelapa sawit, pemboran minyak, gas dan panas bumi, industri pengecoran logam, pengelolaan limbah, pemboran air bersih.
2. Feldspar jenis mineral berbentuk kristal 950 Ha/46 juta m³ industri keramik, porsilin, isolasi listrik, cat, gelas flux dan karet
3. Kalsit Unsur utama marmer dan zat kapur: serta memancarkan cahaya 443.700 m² bahan gelas/kaca, Kosmetik dan pasta
4. Piropilit Mineral berwarna hijau, berbentuk foliat dan butiran granula 37 Ha bahan baku industri keramik dan porselin
5. Marmer jenis batuan dengan warna abu-abu, kuning kecoklatan dan kemerahan 300 Ha Batuan hias, Ornamen, Ubin, mebel dan bahan bangunan lainnya
6. Zeolit - 59.100 Ha bahan pembersih/ penyerap zat cair dan udara, campuran makan ternak
7. Batuan Beku dalam jenis batuan beku antara lain Batu Desit, Basalt dan Andesit 10 juta m³ bahan bangunan (pondasim Jalan dan lain-lain) dan diusahakan secara Tradisional. Sedang untuk batuan beku yang berbentuk bongkahan-bongkahan besar saat ini sudah diusahakan oleh perusahaan untuk Tegel dan Keramik, Tempat lilin dan lampu
8. Ball Clay Ciri khas dari bahan galian ini adalah warna abu-abu, kemerahan, berbutir sangat halus - industri keramik halus dan porselin dan kerajinan (Gerabah halus ).
9. Sirtu terdiri dari pasir, kerikil, material lepas hasil pelapukan, erosi dan pengendapan batuan tidak terbatas, sepanjang aliran sungai grindulu,. Bahan pembangunan jalan dan campuran beton
10. Batu Gamping Batu kapur sangat luas bahan pembuatan gelas, pertanian, industri gula Filter cat, kaporit dan industri plastic, bahan bangunan
11. Emas Batu mulia - Bahan perhiasan

Sumber : http://pacitan.go.id

Peluang dari sektor Pariwisata Pacitan sangat menjanjikan, mampu bersaing dengan Pariwisata di daerah yang lain bahkan manca negara, ini cukup beralasan, karena obyek wisata yang ada cukup beragam dan mempunyai ciri khusus dan nilai lebih dibanding dengan daerah lainnya. Potensi Pariwisata di Kabupaten Pacitan meliputi Wisata Pantai, Wisata Goa, Wisata Budaya/ Religius, Wisata Rekreasi, Wisata Industri. Berikut adalah bagan tempat wisata yang tersebar di beberapa tempat di Kabupaten Pacitan.

Tabel 2

Daftar Objek Wisata Unggulan Kabupaten Pacitan

No. Nama Objek Alamat Jenis Objek Keunggulan
1. Pantai Teleng Ria Kota Pacitan Wisata Pantai Pasir putih, Kolam Renang, Ombak besar, arena surfing, Pemancingan, Arena Bermain, TPI, panorama
2. Pantai Srau Kec Pringkuku Wisata Pantai Panorama, pemancingan, pasir putih
3. Pantai Klayar Kec Donorojo Wisata Pantai Pasir putih, panorama, batu karang, Air Mancur
4. Pantai Sidomulyo Kec Ngadirojo Wisata Pantai Pasir putih, panorama
5. Goa Gong Kec Punung Wisata Goa Panorama, stalagnit stalagmite
6. Goa Tabuhan Kec Punung Wisata Goa Panorama, gamelan batu
7. Air Hangat Kec Arjosari Wisata Rekreasi Panorama, kesehatan dan kebugaran
8. Monumen JSU Kec Nawangan Wisata Sejarah Panorama, Pengetahuan Sejarah
9. Upacara Ceprotan Kec Donorojo Wisata Budaya Hiburan, Kesenian daerah
10. Tumpakrinjing Kec Pacitan Wisata Sejarah Pengetahuan Sejarah

Sumber : http://pacitan.go.id

Strategi pencapaian

Pemberlakuan kebijakan otonomi daerah dengan kebijakan yang bottom up memberikan kebebasan bagi daerah memiliki potensi daerah yang besar baik Sumber Daya Alam dan konsep pengelolaannya untuk maju dan berkembang. Begitu pula dengan Pacitan yang kita bisa melihat begitu kaya akan potensi SDA-nya. Salah satu sektor pembangunan yang digarap di Kabupaten Pacitan, yaitu sektor pertambangan, memiliki 11 macam hasil tambang yang sebenarnya ini juga merupakan potensi besar jika mampu untuk mengelolanya. Tambang bentonite, feldspar, kalsit, piropilit, Marmer, Zeolit, batuan beku, Ball Clay, Sirtu, Batu gamping, dan emas menjadi sebuah sektor potensial untuk menghasilkan pendapatan daerah. Dan kebanyakan dari potensi pertambangan yang dimiliki Pacitan berada di daerah Pedesaan, seperti tambang emas yang terletak di Ngadirojo dan Tulakan. Ada beberapa strategi pencapaian yang bersifat strategis yang saat ini memungkinkan untuk segera dilakukan dalam konteks pembangunan di kabupaten Pacitan.

1.  Pembangunan berbasis pedesaan.

Kalau Jawa Tengah ada program ‘Bali Ndeso Mbangun Ndeso’, maka di Pacitan perlu ada program yang serupa untuk mengembangkan potensi daerah yang dimilki Pacitan. Ada beberapa alasan mengapa konsep pembangunan berbasis pedesaan ini menjadi pprioritas utama sekaligus peluang utama untuk pembangunan Pacitan. Yang pertama kita melihat bahwa mayoritas masyarakat Pacitan hidup dilingkungan Pedesaan, sehingga populasi mayoritas Kabupaten Pacitan adalah masyarakat pedesaan. Yang kedua, lahan garapan di daerah pedesaan yang belum terkelola masih sangat luas dan sangat memungkinkan untuk di garap dengan konsep – konsep yang solutif, seperti di daerah perbukitan di Desa Tegalombo, di dearah Pakisbaru Nawangan, dan beberapa daerah lainnya. Ketiga, sebagian besar potensi kekayaan alam yang dimiliki Pacitan berasal dari daerah Pedesaan, seperti Tambang Emas, Bentonite, Batu Mulia, dan beberapa kekayaan alam lainnya. Keempat,  kentalnya iklim gotong royong yang terjadi di masyarakat pedesaan menjadi poin penting untuk kesuksesan pembangunan di Kabupaten Pacitan. Karena selain mengurangi anggaran pembangunan, juga akan menambah soliditas dan solidaritas masyarakat Pacitan yang sesuai dengan konstitusi Undang – Undang Dasar 1945. Kelima, bahwa kita masih melihat kesenjangan antara kawasan pedesaan dengan perkotaan di Pacitan, sehingga terjadi dikotomi pembangunan di perkotaan dan pedesaan, dan mengakibatkan tersedotnya potensi pedesaan menuju kota yang diangap lebih menjanjikan. Kondisi ini yang juga terjadi di Pacitan sehingga perlu penataan pembangunan yang didasarkan pada asas pemerataan dan keadilan.

2. Optimalisasi pembangunan di wilayah sektor potensial

Sebagai daerah bahari, Pemkab seharusnya memusatkan kegiatan ekonomi sektor kelautan, walaupun tanpa mengesampingkan dua sektor potensial lainnya, seperti pertambangan dan pariwisata. Walaupun Pacitan memiliki panjang garis pantai 636 mil² dengan 12 pantai digunakan untuk pendaratan ikan oleh nelayan, tetapi ternyata pemberdayaan masyarakat/nelayan untuk mengoptimalkan sektor perikanan ini masih jauh dari sempurna. Para nelayan masih “mati dilumbung ikannya sendiri”. Ada eksploitasi – eksploitasi yang masih terjadi di sektor ini. Yang pertama adalah pemetaan modal, yang secara langsung nelayan akan terbagi menjadi tiga kasta, nelayan besar (modal besar), nelayan menengah (modal sedang), dan nelayan kecil (modal kecil/buruh nelayan). Perbedaan mencolok ini akan terlihat terutama dalam pengadaan sarana prasarana, seperti jarring, perahu, dll. Nelayan besar dengan modal yang mereka miliki mengeksploitasi buruh nelayan, misalnya dalam penentuan upah yang tidak sebanding dengan keselamatan nelayan ketika melaut, serta penetapan jam kerja yang berlebihan. Kondisi buruh nelayan tersebut masih diperparah dengan adanya para tengkulak, yang tak jarang menjerat nelayan – nelayan miskin itu dengan segudang bunga hutang. Waluapun dai pihak pemkab sudah meluncurkan pembangunan KUD nelayan, namun sistemnya masih terlalu birokratis dan tidak menyediakan pinjaman lunak untuk kebutuhan sehari – hari para nelayan miskin. Sehingga mereka tetap memilih menggantungkan nasibnya pada tengkulak. Maka dari itu, penulis kira perlu adanya program terstruktur dari Pemkab untuk memaksimalkan potensi laut dan perikanan di Pacitan, terutama untuk melindungi dan mensejahterakan para nelayan – nelayan dengan modal kecil.

3. Mempersiapkan SDM untuk visi pembangunan Pacitan jangka panjang

Peningkatan dan pengembangan SDM senantiasa menjadi isu penting bagi setiap pengembangan potensi daerah. Bahkan disaat teknologi dianggap sebagai parameter sebuah daereah dikatakan maju, SDM tetap menjadi faktor penting yang diyakini mempengaruhi secara signifikan eksistensi daerah tersebut. Ada orang dibalik senjata, begitu kira-kira analogi pembahasan betapa pentingnya unsur manusia disamping teknologi. Bagaimanapun canggihnya teknologi, tidak akan bermanfaat bila tidak ada manusia yang bisa menggunakannya. Pun demikian dalam konteks Pacitan. Perlu ada ahli – ahli di sektor potensial yang dimilki Pacitan agar pengembangannya menjadi lebih mudah. SDM yang dimaksud dalam poin ketiga ini adalah peningkatan kemampuan, kompetensi dan kapabilitas sesuai bakat, minat dan spesialisasinya. Bahwa pengembangan dalam teknologi, metodologi atau apapun tak akan berarti apa-apa jika tak diiringi dengan peningkatan kemampuan manusianya. Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa teknologi, metodologi dan kawan-kawannya hanyalah tools atau alat, manusialah yang menentukan apakah ia bermanfaat atau justru menjadi bencana.

Biarkan anak – anak muda pacitan untuk menuntut ilmu setinggi – tingginya di berbagai daerah di Indonesia ataupun luar negeri, bahkan kalau perlu, dari Pemerintah kabupaten memberikan ruang gerak yang luas untuk mengeksplor segenap kemampuannya dengan memberikan bantuan, misalnya bea siswa untuk mereka. Dan pad akhirnya para intelegensia tersebut harus kembali kedaerah untuk membangun daerahnya sendiri. Dengan begitu dua proyek besar untuk membangun pacitan, proyek sinkronik dan diakronik, proyek sinkroniknya dengan melanjutkan konsep pembangunan yang sudah ada dan bersifat strategis, sedangkan proyek diakroniknya adalah mempersiapkan SDM baru yang berguna bagi kemajuan Kabupaten pacitan dimasa yang akan datang.

*( Mahasiswa jurusan Pendidikan jasmani dan rekreasi, Universitas Negeri Semarang, Juga sebagai penulis lepas, aktivis pergerakan mahasiswa, Dan berasal dari Pacitan, Tulisannya bisa dilihat di blog pribadihttp://terpakasabikinwebsite.wordpress.com

About these ads

7 thoughts on “Proyek besar membangun Pacitan

  1. kawan-kawan dan warga pacitan,ternyata tambang yang di daerah kluwih kec ngadirojo pacitan oleh perusahaan korea itu adalh tambang emas tetapi investor menipu warga dengan hanya tambang batu gamping warga ngadirojo dan tulakan supaya bergerak

    • pak handoyo aji(pak yoyok) mohon diusut atas penipuan yang dilakukan investor dari korea yang melakukan explorasi tambang emas di daerah kluwih-karena meraka menipu warga ternyata mereka menambang emas bukan batu gamping

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s