Yakinlah, Masa Depan di tangan Islam


Mencoba mengingat kembali, tentang kedahsyatan para generasi pemenang dahulu, tentang mengapa Islam saat itu berjaya, meruntuhkan Romawi, memfutuhkan Mekkah, bahkan kedahsyatan kebenaran peradaban Islam mencapai titik kulminasi pada era kepemimpinan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, yang ketika itu semua rakyat merasakan kesejahteraannya, merasakan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan itu semua adalah sebuah titik puncak  kebangkitan Islam. Namun yang menjadi sebuh pertanyaan besar, mengapa saat ini, justru peradaban sekuler yang menguasai dunia, lalu akankah Islam akan bangkit lagi. Setidaknya mungkin beberapa studi yang dihimpun dari beberapa sumber dibawah akan menjawab keraguan kita, tentang masa depan peradaban Islam.

A. Kemenangan Islam adalah keniscayaan

Sunnatullah telah menentukan bahwa jika terjadi pertarungan antara yang iman dan kufur, antara yang haq dan bathil, yang akan keluar sebagai pemenang adalah iman dan al-Haq, betapapun besarnya kekuatan kebathilan itu. Sejarah juga mencatat bahwa kemenangan-kemenangan yang diraih oleh umat Islam dalam perjuangannya menegakkan “kalimatullah” bukanlah karena kekuatan material yang dimiliki umat Islam lebih besar dari yang dimiliki lawan. Yang tercatat bahkan sebaliknya, umat Islam dari segi materi selalu dalam posisi yang lemah. Perhitungan matematis manusia mengatakan, Muslimin generasi pertama berpeluang untuk dilumat habis oleh musyrikin Quraisy.

Beberapa alasan bisa dikemukakan; persiapan yang kurang matang karena tidak ada rencana untuk memerangi pasukan bersenjata Quraisy, yang diburu adalah iring-iringan unta yang membawa barang dagangan, personil yang berjumlah kecil – satu berbanding tiga – dibandingkan dengan orang-orang kafir, serta perlengkapan yang apa adanya. Itu semua dianggap cukup menjadi alasan bagi kekalahan kaum Muslimin. Namun perhitungan seperti itu hanya berlaku dalam pertempuran antara kebathilan melawan kesesatan. Dalam pertempuran seperti ini kekuatan benar-benar menjadi andalan utama. Sunnatullah kemenangan iman atas kekafiran itu terus berlangsung dan berulang dalam sejarah pertarungan antara keduanya.

Catatan terakhir yang kita baca (bahkan kita saksikan) dalam perjuangan kontemporer adalah perjuangan Afghanistan atas tentara komunis Rusia dan para bonekanya. Kemenangan ini sungguh spektakuler di luar perhitungan matematis manusia.

Inilah kebenaran janji-janji Allah Ta’ala Pengendali alam semesta: “Dan mereka (orang-orang kafir) merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.” (Q.S. An-Naml 50-51)

Firman-Nya pula: “Maka Kami beri kekuatan kepada orang-orang yang beriman (dalam mengalahkan) musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang yang menang.” (Q.S. As-Shaff:14)
Firman-Nya pula: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Q.S. Al Mu’min:51)
Keterlambatan kemenangan, boleh jadi membawa hikmah dan pelajaran. As-Syahid Sayyid Quthb dalam Dzilal-nya menyebutkan tidak kurang dari delapan hikmah/ pelajaran yang bisa ditarik dari ditangguhkannya kemenangan oleh Allah (lihat Fii Dzilalil Qur’an, yang berkaitan dengan ayat 38 surat Al-Hajj). Beberapa di antaranya: Pertama, boleh jadi karena bangunan umat Islam belum sempurna, masih banyak potensi dan kekuatan yang belum tergali. Sehingga andaipun ia mendapat kemenangan, umat Islam tidak akan mampu mempertahankannya. Kedua, boleh jadi “thagut” yang sedang diperangi umat Islam berkedok Islam, sehingga sebagian besar umat Islam tertipu olehnya dan menjadi pembelanya. Ketiga, boleh jadi dalam memperjuangkan Al-Haq, umat Islam masih memiliki tujuan-tujuan lain selain tegaknya kalimatullah. Sedangkan Allah menginginkan jihad itu murni bertujuan mencari ridla-Nya.

B. Peran sentral kader dakwah untuk kemenangan Islam

Imam syahid Hasan Al-Banna pernah mengatakan:

“Aku mampu membayangkan akh al-Mujahid itu sebagai seorang laki-laki yang senantiasa melakukan persiapan dan menyiapkan perlengkapannya, mampu menguasai pikiran yang memenuhi setiap sudut jiwanya dan seluruh bagian hatinya. Dia senantiasa berpikir memusatkan perhatian sepenuhnya terhadap persiapan yang terus menerus. Apabila dipanggil ia menyahut, apabila diajak ia menanggapi, datang dan perginya, perkataan dan bicaranya, kebenaran dan kelakarnya, tidak melampaui batas.

Dia tidak melaksanakan tugas selain dari yang telah diletakkan oleh keadaan dan tuntunan atasnya, dan dia berjihad di jalannya. Anda dapat membaca pada raut muka dan kilauan matanya, dan mendengar dari gerakan lidahnya semua apa yang bergelora di dalam hatinya, kesengsaraan yang tersimpan di dalam hati, semua tujuannya benar dan bersungguh-sungguh pelaksanaannya, cita-citanya tinggi dan sasarannya jauh untuk memenuhi jiwanya.”

Itulah perkataan Hasan Al-Banna ketika menggambarkan profil seorang mujahid. Bahwasanya persiapan itu perlu, termasuk dalam dakwah yang notabene merupakan proyek besar ummat Islam. Dakwah bukan hanya proses singkat yang langsung bisa diketahui hasilnya. Tapi ini merupakan proses perjalanan panjang yang tidak langsung segera kita ketahui hasil proses ini. Bahkan sesungguhnya, hanya Allah saja yang tahu hasil dari dakwah ini. Kita boleh saja membatasi patokan bahwa ketika orang-orang semakin banyak yang rajin ke masjid, wanita-wanita sudah banyak yang berjilbab, maka itu berarti dakwah kita mulai menampakkan hasil. Tapi ingatlah, masalah hati hanya Allah saja yang tahu. Keikhlasan dan kedekatan orang-orang terhadap Islam adalah hak Allah SWT. Tugas kita sebagai da’i hanyalah menyeru. Hasilnya kita serahkan kepada ALLAH. Tapi bukan berarti kita boleh asal-asalan dalam melaksanakan proyek dakwah. Kita tetap harus profesional dalam dakwah. Kita harus senantiasa ikhsan dalam pekerjaan ini. Untuk itulah, perlu dipersiapkan pula kader dakwah yang akan mengisi “jabatan” sesuai bidangnya. Salah satunya dengan melalui tarbiyah.

Tarbiyah adalah kerja besar. Proyek raksasa. Sistem yang integral. Dahsyat. Mengubah yang sederhana menjadi luar biasa. Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh orang-orang yang memiliki naluri kepahlawanan. Demikian kata Anis Matta. Tarbiyah adalah sebuah pilihan. Mengambil pilihan ini tentu mengandung resiko di luar zona nyaman kita. Tarbiyah adalah perubahan. Berani tarbiyah artinya harus siap berubah, mengubah diri sendiri maupun mengubah orang lain. Karena perubahan adalah keniscayaan, maka yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan perubahan itu menjadi lebih menyenangkan.

Adapun kader adalah pahlawan. Karena ia rela mengambil peran di tengah kesulitan, menapaki resiko di saat orang menghindar, meraih momentum saat manusia masih terkagum-kagum, dan menyusun kerja besar saat orang lain belum tersadar. Untuk bisa membentuk kader seperti itu, diperlukan energi yang besar dan kerja yang keras. Energi dalam tubuh ada yang namanya energi inti (quantum). Energi ini selalu bergerak mengitari pusat orbitnya. Begitu pun tarbiyah, diperlukan quantum di dalamnya. Menjadi kader inti (quantum tarbiyah) berarti selalu begerak sesuai pusat orbitnya, fokus, taat, istiqomah, dan tak kenal lelah. “Berputarlah bersama Islam sebagaimana ia berputar.” Karena gerakan itulah, ia memiliki energi dahsyat yang takkan pernah habis kecuali Allah menghendaki. Tidak mudah untuk menjadi kader inti. Tapi juga tidak terlalu sulit jika kita mau mencobanya. Ada beberapa karakter khas kader inti dalam dakwah, sebagai berikut:

1. Bersedia membina diri (tarbiyah dzatiyah)

Dalam dakwah, kader inti adalah mereka yang bersedia membina diri dan menyerahkan segala komitmennya buat perjuangan dakwah. Komitmennya tulus, tujuannya lurus, amal-amalnya bukan untuk mencari fulus, kerjanya serius, pikirannya diasah terus, dan langkah-langkahnya maju terus.

Allah SWT berfirman:

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146)

2. Bertransaksi di jalan Illahi dengan penuh kesadaran

Yang dimaksudkan adalah kesadaran untuk menukar harta, jiwa, nyawa, dan dirinya dengan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tanpa paksaan. Tanpa tekanan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111)

3. Sabar: Tidak pindah ke lain hati

Karena komitmennya inilah, kader inti tidak mau berpindah ke lain hati. Sebab ia yakin bahwa Allah tak mungkin ingkar janji. Karena itulah, tetaplah di sini sahabat, di jalan dakwah ilallah.

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul-Mu. Dan jangan Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Ali Imran: 194)

Kader inti adalah bukti mana emas mana loyang, mana yang asli dan mana yang palsu, dan sebagainya. Karena itu, kader inti yang sejati tidak akan mengkhianati Allah. Tetap setia pada komitmen awal, bahwa Islam adalah agam yang fitrah. Karena itu, ia setia mengikuti Rasululah tanpa banyak membantah.

4. Tegar: Siap mengambil Resiko Terberat

Karena komitmen inilah, para sahabat Nabi memerankan diri sebagai pembela Nabi, menukar kecintaan diri untuk sepenuh hati pada Nabi. Dalam kafilah inilah banyak kader-kader pilihan dengan berbagai keistimewaan. Ada Sa’ad bin Abi Waqqash pemanah jitu pertama atas lisensi Rasulullah. Ada Abu Dujanah dengan pedang terhunusnya menjadi benteng Nabi. Ada Khubaib bin Adi yang tak rela Nabi disakiti walau hanya tertusuk duri sekalipun. Ada pula Ummu Sulaim dengan belati kecilnya yang selalu mendampingi Nabi dalam Pernag Uhud. Itu semua perlu komitmen dan beresiko sebagai konsekuensi pilihan. Jalan dakwah jalan mulia, bukanlah jalan yang bertabur bunga. Jalan suci tetapi sepi, tanpa puji. Jalan para nabi yang banyak dikhianati. Jalan para ulama yang tegar. Jalan orang-orang besar yang penuh resiko. Tapi ingatlah, yang penting bukan label melainkan peran. Sebab, Menjadi penting itu baik, tapi menjadi baik itu jauh lebih penting. Jadilah kader inti dalam dakwah. Dengan energi quantum dalam diri. Dengan segala komitmen dan kesetiaan yang penuh resiko. Ingatlah, surga Allah bukan untuk orang-orang yang malas. Jika kita menolong agama Allah, niscaya Allah pasti akan menolong kita.

Disampaikan dalam forum diskusi pekanan MK Khos KAMMI Solutif Unnes 1431 H Oleh Dwi Purnawan (Ka. Biro Humas KAMMI Solutif Unnes 1431 H), Dihimpun dari beberapa artikel di situs http://eramuslim.com dan http://dakwatuna.com, serta hasil diskusi dengan beberapa ikhwan Komisariat

About these ads

2 gagasan untuk “Yakinlah, Masa Depan di tangan Islam

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s