Mengapa prestasi olahraga Indonesia menurun?


Penyebab pertama : minimnya biaya pembinaan bagi atlet

solusi : fakta menyebutkan bahwa sejak tahun 1994, para bupati dan wali kota yang mengetuai klub-klub sepak bola eks perserikatan sudah membelanjakan sekitar Rp 5,8 triliun uang dari dana APBD. Sudah menjadi rahasia umum bahwa klub-klub sepak bola Indonesia yang berkompetisi, terutama di divisi utama, tak sanggup menghidupi dirinya sendiri mereka selama belasan tahun menggantungkan hidupnya kepada keringat uang rakyat.
Ironisnya, miliaran rupiah dana yang dikonsumsi klub-klub sepak bola itu sebagian besar lari ke luar negeri karena dipakai untuk menggaji pemain-pemain asing. Lebih ironis, para pemain asing tersebut praktis tidak memberikan demonstration effect, dampak positif bagi kemajuan sepak bola Indonesia.

Sekiranya, dari Rp 5,8 triliun dana yang mengalir ke klub-klub sepak bola, setengahnya saja, sekitar Rp 2,9 triliun, disalurkan ke cabang-cabang olahraga lain, hampir dapat dipastikan prestasi olahraga Indonesia di ajang-ajang internasional tidaklah seterpuruk seperti sekarang ini.

Oleh karena itu diperlukan adanya peraturan perundangan yang jelas dalam pembagian dan penggunaan dana APBD bahkan juga sampai APBN untuk tiap cabang olahraga yang ada baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional Sehingga bibit-bibit atlet yang berpotensi bisa benar-benar terbina dengan optimal tidak setengah-setengah. Dengan demikian negeri yang sesungguhnya memiliki bibit atlet-atlet tangguh dengan jumlah cukup besar bisa terbina dengan baik dan nantinya bisa meningkatkan prestasi olahraga Indonesia.

Penyebab Kedua : Pembinaan dan teknologi di bidang olahraga di Indonesia yang monoton

Solusi : Mungkin salah satu yang perlu dikaji :
1. Pembinaan atlet sejak dini
2. Penelitian dan pengembangan dalam teknik dan taktik
3. Pergantian pengurus yang tidak becus (masa ada pengurus di penjara, keterlaluan jelas mentalnya jelek dan tak punya malu)
4. Keseriusan semua pihak dalam mendukung prestasi semua bidang olahraga tanpa ditunggangi kepentingan yang bersifat mengail di air keruh (baca, proyek dan duit semata)
5. seleksi pemain dengan jujur (jangan gunakan politik uang suap)
6. Seimbangkan dengan mental bahwa atlet bermental juara (dalam artian semangat menjadi juara, kalaupun kalah harus terhormat)

About these ads

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s