Hujan dan vitalitas

Jalan dakwah hanya menghendaki orang yang berani menempuh perjalanan, bersedia mengerahkan tenaga, bersiap

Vitalitas

Vitalitas

mengorbankan jiwa, harta dan segala yang dimilikinya berupa waktu, tenaga, kesehatan dan ilmu semata – mata untuk mencari ridha Allah (Qadhaya Al-asasiyyah ‘ala thoriqud da’wah)

Hujan, selalu menghadir kisah, kisah tentang kesejukan, tentang kesegaran, tentang nuansa keteduhan yang terjadi akibat efek hujan yang turun. Hujan, juga menjadi cerita indah, menjadi kisah barakah, tatkala Allah menganugerahkan kemustajaban doa yang hadir saat setelah hujan. Allahuma Syaiban nafian. Itulah doa yang terpanjatkan setelah datang hujan, doa meminta keberkahan dalam segala aktifitas yang kita lakukan. Diwaktu itu, saat setelah hujan, adalah waktu barakah, saat waktu dimana doanya orang – orang shalih itu diijabahi oleh Allah Azza Wa Jalla. Dan diwaktu ini, setelah hujan reda, mari kita berdoa, atas segala pinta kita yang belum tercapai, atas segala cita dan mimpi kita yang belum terlaksana, atas segala aktifitas kita semoga selalu berada dalam keberkahan yang turun dari keridhaan Allah atas aktifitas yang kita lakukan. Semoga segala pinta, cita, dan mimpi itu, segera menghadir, dan menjadi kisah indah dalam perjalanan hidup kita didunia. Allahuma Syaiban Nafian. Amin. Continue Reading

Syaikh Ahmad Yasin dan Naluri kepahlawanan itu…

Kala fajar, hendak berpendar

Syaikh Ahmad Yasin

Syaikh Ahmad Yasin

Mentari pun belum bersinar

Sebongkah dendam membara

Memburu sang hamba nan bersahaja

Fajar, selalu menyisakan cerita, cerita tentang awal hari yang penuh dengan kesemangatan pagi, cerita tentang kesejukan embun pagi yang penuh dengan kesegaran dan kesejukan awal pagi, tentang sang mentari yang hangatnya membuat jiwa ini mekar kembali, juga cerita tentang semangat dan jiwa kepahlawanan mereka – mereka yang menorehkan karya menyejarah dalam sejarah umat manusia. Fajar, selalu menjadi inspirasi, inspirasi tentang ruh baru yang hidup kembali, ruh baru tentang ghirah, tentang jiwa kepahlawanan yang dimiliki oleh mereka yang mewakafkan dirinya untuk dakwah islam ini. Dan pada kesempatan ini saya akan bercerita, tentang semangat kepahlawanan yang dimiliki oleh salah satu mujahid Islam dalam aktivitasnya yang mulia, menyeru kepada kebaikan. Continue Reading

Bersama kesejukan embun tarbiyah

Embun itu, ketika engkau melihatnya, akan terlihat bening, ketika engkau merasakannya, akan terasa sejuk dan segar. Embun dipagi

Embun

Embun

itu, selalu dan terus menyejukkan dedaunan dan rerumputan dipagi hari, dan membawa suasana segar, bagi siapapun yang merasakannya. Embun itu, pada akhirnya akan selalu memberikan kesegaran bagi yang percaya akan manfaat embun. Begitulah tarbiyah ini ada, ibarat embun, tarbiyah akan menyegarkan kembali hati – hati kita yang mulai kering, akan menyegarkan kembali jiwa – jiwa kita yang mulai melapuk, kering karena iman kita yang compang – camping, melapuk karena jiwa ini terlampau banyak dosa. Bagi yang yakin akan kekuatan dari tarbiyah, maka tarbiyah ibarat embun pagi yang akan menyegarkan dedaunan, sehingga dedaunan terlihat segar, siap menantang teriknya matahari,  siap untuk menatap dunia. Begitulah tarbiyah ini, dia akan selalu memberikan kesegaran kepada hati – hati yang kering, kepada jiwa – jiwa yang lapuk, sehingga hati kembali segar, seperti dedaunan pagi hari, sehingga jiwa kembali kokoh, setegar pepohonan pagi. Continue Reading

Menyongsong Mihwar Dauli (Materi Tatsqif Spesial Pak Cah)

Jum’at, (30/12) diakhir bulan desember dan juga sekaligus akhir tahun 2011 ini menyisakan banyak catatan – catatan. Catatan –

Empat Mihwar dakwah

Empat Mihwar dakwah

catatan kita sebagai manusia biasa yang terekam indah, baik catatan amal baik kita maupun catatan maksiat kita, semuanya terekam sempurna dihadapan Allah SWT. Yang menjadi perhatian, sudahkah kemudian kita mencermati, sejauh mana diri ini berjalan, apa yang sudah kita hasilkan, apa yang sudah kita dapatkan, apa yang sudah kita perbuat. Sudahkah selama setahun ini kita memberikan segenap potensi kita untuk dakwah ini, tentang menikmati tarbiyah, tentang rekrutimen kita, tentang produktivitas amal kita, tentang, tentang, ya tentang segalanya. Khusnudzan saya, hari ini kita menjadi kader – kader yang progresif dan produktif, progresif dalam amal, produktif dalam pencapaian hasil dalam dakwah ini. Semoga. Dengan begitu kita pantas mendapat predikat kader yang beruntung, bukan kader merugi. Sepakat?

Yap, masih di hari Jum’at (30/12), sementara abaikan catatan saya di paragraf atas tersebut, karena catatan itu hanya sekumpulan lintasan pikiran yang tiba – tiba melintas begitu saja, sebagai akibat dari kegundahan saya, tentang kondisi kita akhir – akhir ini. Emm, hari itu saya terlihat sibuk, dibantu beberapa ‘sesepuh’ kampus, sibuk mempersiapkan ujian, atau bahasa arabnya adalah imtihan, ingat, imtihan lho, bukan yang lainnya ^_^. Akhirnya dengan segala keterbatasan, teraksanalah agenda siang itu, imtihan tatsqif. Dan dilanjutkan dengan agenda taujih spesial tatsqif kamis yang hari itu sedianya diisi oleh Pak Cah, dan Pak Cah sudah mempersiapkan bahan taujihnya, namun karena ada agenda mendesak (baca;taklimat) DPP, akhirnya beliau terpaksa menunda mengisi di Unnes (hmm, udah dua kali Pak), dan akhirnya diisi oleh Ust. Agus Mas’udi. Dengan materi dari Pak Cah. Continue Reading

Allah, kuatkan aku…..

Rintik – rintik hujan dini hari itu, lambat laun mulai menetes semakin lama pun semakin kencang, hingga akhirnya deras hujan di dini

Renung

Renung

hari itu, membasahi dedaunan, memberikan kesejukan kepada dunia, dingin rasanya. Rintik air hujan dini hari itu, diawal tahun ini, semakin membuat suasana senyap, karena sang insan pun semakin menghangatkan tubuh dengan selimut, dan mungkin hanya beberapa yang menengadahkan tangan diantara rintik gerimis hujan, sembari meneteskan airmata, berharap keajaiban dalam keberkahan doa saat hujan, meminta kemustajaban doa saat hujan. Dan dini hari itu, kembali diri ini merenung, lalu bermuhasabah, mengevaluasi sejauh ini, berjalan, berlari, kadang disertai belaian lembut, dan tak jarang pula menginjak kerikil yang tajam, bersama tarbiyah. Tarbiyah yang sudah selama ini mengikatkan hati dengan para perindu surga lainnya, tarbiyah yang selama ini telah membuat sang jiwa yang tulus merasa jatuh hati dengan dakwah dan enggan untuk pindah haluan, tarbiyah yang selama lebih dari empat tahun ini telah membelai lembut sang hati, sehingga hatinya yang semula keras bak batu, kini menjadi lembut, bahkan mengalahkan kain sutra dengan kualitas terbaik sekalipun. Continue Reading